Bayangkan sebuah perusahaan manufaktur besar di Korea. Para insinyurnya sedang sibuk mengembangkan chip semikonduktor generasi terbaru. Untuk mempercepat pekerjaan, mereka mencoba menggunakan ChatGPT—sebuah alat AI yang sedang populer saat itu.

Tidak lama kemudian, bencana terjadi. Kode sumber rahasia yang menjadi “jantung” produk masa depan perusahaan itu, tanpa sengaja, ikut masuk ke dalam basis data pelatihan ChatGPT . Data rahasia itu kemudian “dihafal” oleh AI dan berpotensi muncul kembali di jawaban untuk pengguna lain di seluruh dunia .

Inilah kisah nyata yang menimpa Samsung pada tahun 2023 . Hanya dalam waktu 20 hari setelah mengizinkan penggunaan ChatGPT, terjadi 3 insiden kebocoran data penting melalui jalur ini .

Bagaimana Dokumen Internal Bisa Menjadi “Makanan” AI?

Banyak dari kita mungkin menganggap obrolan dengan AI itu bersifat pribadi dan sementara. Faktanya, tidak sesederhana itu. Pada dasarnya, dokumen yang Anda unggah atau tempelkan ke AI publik akan disimpan di server mereka .

Data ini tidak hanya disimpan; seringkali data tersebut digunakan untuk melatih model bahasa mereka . Sederhananya, AI “belajar” dari dokumen Anda . Akibatnya:

  • Data sulit dihapus: Begitu data masuk ke dalam “pengetahuan” model, sangat sulit untuk menariknya kembali .

  • Dokumen Anda bisa muncul di tempat lain: Ada kemungkinan informasi rahasia perusahaan Anda muncul sebagai jawaban atas pertanyaan orang lain di masa depan. Termasuk bisa jadi pesaing bisnis Anda! 

Kenapa Ini Bahaya?

Risikonya bukan main-main. Ketika dokumen internal digunakan untuk melatih model AI publik, perusahaan bisa kehilangan kendali atas:

  1. Rahasia Dagang (Trade Secrets): Kode sumber, algoritma, dan strategi bisnis bisa bocor ke publik.

  2. Kekayaan Intelektual (Intellectual Property): Data yang menjadi aset berharga perusahaan bisa hilang dan dimanfaatkan pihak lain .

  3. Data Pribadi (Personal Data): Jika dokumen berisi data pelanggan atau karyawan, perusahaan bisa melanggar regulasi perlindungan data .

Solusinya: Sediakan Jalan Aman, Bukan Melarang Total

Lantas, bagaimana cara mencegah hal ini? Pendekatan yang paling umum, seperti yang dilakukan Samsung, adalah melarang total penggunaan AI publik . Mereka bahkan mengancam sanksi pemecatan bagi yang melanggar .

Namun, melarang saja tidak cukup. Karyawan tetap akan membutuhkan AI untuk membantu pekerjaan mereka.

Pendekatan yang lebih bijak adalah menyediakan alternatif yang aman, seperti AI internal perusahaan. Telkom Indonesia, misalnya, menyarankan agar karyawan menggunakan GPT internal yang telah dibangun perusahaan . “Kalau ingin bantuan, gunakan GPT internal yang sudah kita bangun. Hasilnya juga sama,” ujar salah satu perwakilan mereka .

Dengan AI internal, data perusahaan tetap berada di lingkungan yang terkendali dan tidak digunakan untuk melatih model AI publik. Ini adalah solusi win-win: karyawan tetap produktif, dan data perusahaan aman.