Dalam banyak organisasi, proses threat modelling biasanya dimulai dengan mengidentifikasi aset yang perlu dilindungi atau menganalisis arsitektur sistem. Pendekatan tersebut sangat penting karena membantu tim memahami bagian mana yang paling bernilai dan bagaimana ancaman dapat memengaruhi sistem. Namun, ada sudut pandang lain yang tidak kalah penting, yaitu melihat sistem dari perspektif penyerang.

Pendekatan ini dikenal sebagai Attacker-Centric Threat Modelling. Fokus utamanya bukan hanya pada aset atau kerentanan, tetapi pada bagaimana seorang penyerang berpikir, menentukan target, memilih teknik serangan, dan memanfaatkan kelemahan yang tersedia. Dengan memahami pola pikir tersebut, organisasi dapat mengantisipasi langkah-langkah yang mungkin dilakukan sebelum serangan benar-benar terjadi.

Pendekatan ini banyak digunakan dalam kegiatan red teaming, simulasi serangan, pengujian penetrasi, serta evaluasi keamanan sistem yang memiliki tingkat risiko tinggi. Ketika dikombinasikan dengan metode threat modelling lainnya, Attacker-Centric Threat Modelling membantu organisasi membangun strategi pertahanan yang lebih realistis dan sesuai dengan pola serangan yang umum terjadi.

1. Apa Itu Attacker-Centric Threat Modelling?

Attacker-Centric Threat Modelling adalah pendekatan threat modelling yang menganalisis sistem dari sudut pandang penyerang.

Alih-alih hanya bertanya “Apa yang harus dilindungi?”, pendekatan ini juga mengajukan pertanyaan seperti:

  • Apa tujuan penyerang?
  • Bagaimana mereka memperoleh akses awal?
  • Teknik apa yang kemungkinan digunakan?
  • Jalur mana yang paling mudah dimanfaatkan?
  • Hambatan apa yang harus mereka lewati?

Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, tim keamanan dapat memahami bagaimana sebuah serangan mungkin dilakukan.

2. Mengapa Memahami Cara Berpikir Penyerang Itu Penting?

Penyerang umumnya mencari jalur yang paling mudah dan paling menguntungkan.

Mereka tidak selalu menyerang komponen yang paling canggih, tetapi sering memanfaatkan kelemahan sederhana seperti kredensial yang bocor, konfigurasi yang kurang aman, atau hak akses yang berlebihan.

Dengan memahami cara berpikir penyerang, organisasi dapat:

  • mengenali titik lemah yang sering diabaikan;
  • memprioritaskan perlindungan pada jalur serangan yang paling mungkin digunakan;
  • meningkatkan efektivitas strategi mitigasi;
  • mengurangi peluang keberhasilan serangan.

Pendekatan ini membantu tim melihat sistem dari perspektif yang berbeda.

3. Bagaimana Penyerang Memilih Target?

Dalam banyak kasus, penyerang mempertimbangkan beberapa faktor sebelum menentukan target.

Beberapa di antaranya meliputi:

  • nilai aset yang ingin diperoleh;
  • tingkat kesulitan untuk mendapatkan akses;
  • peluang keberhasilan serangan;
  • potensi keuntungan yang diperoleh;
  • kemungkinan terdeteksi oleh sistem keamanan.

Semakin besar peluang berhasil dengan risiko yang rendah, semakin menarik target tersebut bagi penyerang.

4. Langkah-Langkah Attacker-Centric Threat Modelling

Memahami Tujuan Penyerang

Langkah pertama adalah mengidentifikasi apa yang kemungkinan ingin dicapai oleh penyerang.

Contohnya:

  • mencuri data pelanggan;
  • mengambil alih akun administrator;
  • mengganggu layanan;
  • memperoleh akses ke sistem internal.

Mengidentifikasi Jalur Serangan

Selanjutnya, tim memetakan berbagai kemungkinan jalur yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan tersebut.

Analisis dilakukan terhadap:

  • halaman login;
  • API;
  • layanan cloud;
  • jaringan internal;
  • integrasi dengan pihak ketiga.

Menganalisis Teknik yang Mungkin Digunakan

Setelah jalur serangan dipetakan, tim mengevaluasi teknik yang kemungkinan dimanfaatkan.

Sebagai contoh:

  • penyalahgunaan kredensial;
  • eksploitasi kerentanan aplikasi;
  • rekayasa sosial;
  • penyalahgunaan hak akses;
  • kesalahan konfigurasi sistem.

Referensi seperti MITRE ATT&CK dapat membantu mengidentifikasi teknik yang umum digunakan dalam berbagai jenis serangan.

Menentukan Strategi Pertahanan

Tahap terakhir adalah menyusun mekanisme keamanan yang mampu:

  • menghambat langkah penyerang;
  • mendeteksi aktivitas mencurigakan;
  • membatasi dampak apabila serangan berhasil.

Strategi ini dapat diterapkan pada berbagai tahap jalur serangan.

5. Manfaat Attacker-Centric Threat Modelling

Pendekatan ini memberikan berbagai manfaat bagi organisasi.

Beberapa di antaranya adalah:

  • membantu memahami pola serangan yang realistis;
  • meningkatkan efektivitas threat modelling;
  • mendukung proses pengujian penetrasi dan red teaming;
  • membantu menentukan prioritas pengamanan;
  • memperkuat kemampuan deteksi dan respons terhadap insiden.

Dengan memahami perilaku penyerang, organisasi dapat membangun pertahanan yang lebih adaptif.

6. Contoh Penerapan

Sebuah perusahaan fintech mengembangkan aplikasi pembayaran digital yang digunakan oleh jutaan pelanggan.

Melalui Attacker-Centric Threat Modelling, tim keamanan mencoba melihat sistem dari sudut pandang penyerang.

Mereka menganalisis bagaimana penyerang dapat memperoleh kredensial pengguna, memanfaatkan API yang kurang terlindungi, meningkatkan hak akses, dan akhirnya mengakses data transaksi.

Hasil analisis menunjukkan bahwa autentikasi administrator perlu diperkuat, kontrol akses pada API perlu diperketat, dan sistem pemantauan aktivitas perlu ditingkatkan agar pola serangan dapat dideteksi lebih cepat.

Pendekatan ini membantu perusahaan memperbaiki kelemahan sebelum dimanfaatkan oleh pihak yang tidak berwenang.

7. Menggabungkan Perspektif Penyerang dengan Pendekatan Lain

Attacker-Centric Threat Modelling bukan pengganti pendekatan lain seperti Asset-Centric Threat Modelling, STRIDE, atau PASTA.

Sebaliknya, pendekatan ini memberikan sudut pandang tambahan yang membantu organisasi memahami bagaimana seorang penyerang kemungkinan akan bertindak.

Dengan menggabungkan analisis aset, identifikasi ancaman, pemetaan jalur serangan, serta pemahaman terhadap perilaku penyerang, organisasi dapat membangun strategi keamanan yang lebih menyeluruh dan seimbang.

Penutup

Keamanan yang baik tidak hanya dibangun dengan memperbaiki kelemahan yang sudah diketahui, tetapi juga dengan memahami bagaimana kelemahan tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak yang berniat menyerang. Attacker-Centric Threat Modelling membantu organisasi melihat sistem dari perspektif penyerang sehingga berbagai kemungkinan jalur serangan dapat dikenali lebih awal.

Dengan memadukan pendekatan ini bersama metode threat modelling lainnya, organisasi dapat menyusun strategi keamanan yang lebih realistis, memperkuat kontrol pada titik-titik yang paling rentan, dan meningkatkan kemampuan dalam mencegah, mendeteksi, serta merespons ancaman siber. Pendekatan tersebut menjadikan keamanan bukan sekadar perlindungan terhadap sistem, tetapi juga upaya memahami cara lawan berpikir sebelum serangan terjadi.