Di era digital, data telah menjadi salah satu aset paling berharga yang dimiliki organisasi. Informasi pelanggan, data keuangan, rekam medis, dokumen bisnis, hingga data hasil penelitian memiliki nilai yang tinggi dan sering menjadi sasaran utama serangan siber. Dalam banyak kasus, tujuan penyerang bukan sekadar mengganggu layanan, melainkan memperoleh akses terhadap informasi yang dapat dimanfaatkan untuk keuntungan finansial, pencurian identitas, atau aktivitas kriminal lainnya.

Karena itu, strategi keamanan tidak cukup hanya berfokus pada server, aplikasi, atau jaringan. Organisasi juga perlu memastikan bahwa data tetap terlindungi selama disimpan, diproses, maupun dikirimkan antar sistem. Pendekatan inilah yang menjadi dasar Data-Centric Threat Modelling, yaitu metode threat modelling yang menempatkan data sebagai fokus utama analisis keamanan.

Melalui pendekatan ini, organisasi dapat memahami data apa yang paling penting, bagaimana data tersebut mengalir di dalam sistem, siapa yang dapat mengaksesnya, serta ancaman apa saja yang berpotensi memengaruhi kerahasiaan, integritas, dan ketersediaannya.

1. Apa Itu Data-Centric Threat Modelling?

Data-Centric Threat Modelling adalah pendekatan threat modelling yang menjadikan data sebagai titik utama dalam proses analisis keamanan.

Berbeda dengan pendekatan yang berfokus pada aplikasi atau infrastruktur, metode ini memulai analisis dengan mengidentifikasi informasi yang paling bernilai, kemudian mengevaluasi bagaimana data tersebut disimpan, diproses, dipindahkan, dan diakses.

Tujuannya adalah memastikan bahwa setiap tahapan pengelolaan data memiliki perlindungan yang memadai.

2. Mengapa Data Menjadi Fokus Utama?

Dalam banyak insiden keamanan siber, target utama penyerang adalah data, bukan perangkat atau aplikasi itu sendiri.

Sebagai contoh, penyerang mungkin berusaha memperoleh:

  • data pelanggan;
  • informasi pembayaran;
  • data kesehatan;
  • dokumen perusahaan;
  • rahasia dagang;
  • kredensial pengguna;
  • model Artificial Intelligence;
  • data operasional organisasi.

Kehilangan atau kebocoran data tersebut dapat menimbulkan kerugian finansial, menurunkan kepercayaan pelanggan, hingga memicu pelanggaran terhadap regulasi perlindungan data.

3. Langkah-Langkah Data-Centric Threat Modelling

Mengidentifikasi Data Sensitif

Tahap pertama adalah menentukan jenis data yang memiliki nilai tinggi bagi organisasi.

Contohnya meliputi:

  • informasi pribadi pelanggan;
  • data transaksi;
  • rekam medis;
  • data keuangan;
  • dokumen internal;
  • data autentikasi.

Data kemudian dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkat sensitivitasnya.

Memetakan Alur Data

Selanjutnya, tim mempelajari bagaimana data bergerak di dalam sistem.

Analisis dilakukan terhadap:

  • sumber data;
  • proses pengolahan;
  • penyimpanan;
  • perpindahan antar layanan;
  • akses oleh pengguna maupun sistem lain.

Pemetaan ini membantu memahami lokasi yang paling berisiko.

Mengidentifikasi Ancaman

Setelah alur data dipahami, tim mulai mengidentifikasi ancaman yang dapat memengaruhi data.

Beberapa ancaman yang umum meliputi:

  • akses tanpa izin;
  • kebocoran data;
  • manipulasi data;
  • penghapusan data;
  • pencurian kredensial;
  • penyalahgunaan hak akses.

Metode seperti STRIDE dapat digunakan untuk membantu proses identifikasi ancaman.

Menilai Risiko

Setiap ancaman kemudian dievaluasi berdasarkan:

  • kemungkinan terjadinya;
  • nilai data yang terdampak;
  • dampak terhadap operasional;
  • konsekuensi hukum dan kepatuhan;
  • potensi kerugian terhadap reputasi organisasi.

Hasil penilaian membantu menentukan prioritas pengamanan.

Menentukan Mitigasi

Langkah terakhir adalah menerapkan perlindungan yang sesuai.

Contohnya meliputi:

  • enkripsi data saat disimpan maupun dikirim;
  • autentikasi multifaktor;
  • kontrol akses berbasis peran;
  • pencatatan log aktivitas;
  • pencadangan data secara berkala;
  • pemantauan akses terhadap data sensitif.

Mitigasi dipilih berdasarkan tingkat risiko dan nilai data yang dilindungi.

4. Manfaat Data-Centric Threat Modelling

Pendekatan ini memberikan sejumlah manfaat bagi organisasi.

Di antaranya:

  • membantu melindungi informasi yang paling bernilai;
  • mengurangi risiko kebocoran data;
  • mendukung kepatuhan terhadap regulasi perlindungan data;
  • meningkatkan pengelolaan akses terhadap informasi sensitif;
  • memperkuat strategi keamanan yang berorientasi pada data.

Dengan demikian, organisasi dapat menjaga kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan informasi secara lebih efektif.

5. Contoh Penerapan

Sebuah rumah sakit mengembangkan sistem digital untuk mengelola rekam medis pasien.

Dalam proses Data-Centric Threat Modelling, tim terlebih dahulu mengidentifikasi bahwa rekam medis, informasi identitas pasien, dan data pembayaran merupakan aset informasi yang paling sensitif.

Selanjutnya, mereka memetakan alur data mulai dari pendaftaran pasien, penyimpanan di basis data, akses oleh tenaga medis, hingga proses pertukaran informasi dengan laboratorium.

Hasil analisis menunjukkan bahwa data perlu dilindungi dengan enkripsi, autentikasi multifaktor untuk tenaga medis, kontrol akses berbasis peran, serta pemantauan aktivitas pengguna yang mengakses rekam medis.

Pendekatan tersebut membantu rumah sakit mengurangi risiko kebocoran informasi sekaligus memenuhi kebutuhan perlindungan data pasien.

6. Tantangan dalam Melindungi Informasi Sensitif

Perlindungan data menjadi semakin kompleks seiring berkembangnya teknologi.

Beberapa tantangan yang sering dihadapi organisasi meliputi:

  • pertumbuhan volume data;
  • penggunaan layanan cloud;
  • integrasi dengan sistem pihak ketiga;
  • peningkatan ancaman siber;
  • perubahan regulasi perlindungan data.

Karena itu, strategi keamanan perlu terus diperbarui agar mampu mengikuti perubahan lingkungan teknologi.

7. Data-Centric Threat Modelling sebagai Bagian dari Tata Kelola Data

Data-Centric Threat Modelling tidak hanya mendukung keamanan, tetapi juga membantu organisasi membangun tata kelola data (data governance) yang lebih baik.

Dengan mengetahui lokasi data, tingkat sensitivitasnya, pihak yang memiliki akses, serta risiko yang mungkin muncul, organisasi dapat menyusun kebijakan pengelolaan data yang lebih terstruktur.

Pendekatan ini membuat perlindungan data menjadi bagian dari proses bisnis, bukan hanya tanggung jawab tim keamanan.

Penutup

Pada akhirnya, tujuan utama banyak serangan siber adalah memperoleh akses terhadap informasi yang bernilai. Oleh sebab itu, melindungi data harus menjadi prioritas dalam setiap strategi keamanan. Data-Centric Threat Modelling membantu organisasi memahami di mana data berada, bagaimana data berpindah, siapa yang dapat mengaksesnya, serta ancaman yang berpotensi memengaruhinya.

Dengan menjadikan data sebagai pusat analisis, organisasi dapat menerapkan perlindungan yang lebih tepat sasaran, mengurangi risiko kebocoran informasi, dan meningkatkan kepatuhan terhadap berbagai regulasi. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat keamanan teknis, tetapi juga mendukung keberlangsungan bisnis melalui pengelolaan informasi yang lebih aman, terstruktur, dan bertanggung jawab.