Pendahuluan
Semakin banyak perusahaan mulai menyadari pentingnya mengurangi emisi gas rumah kaca dari kegiatan bisnis. Penggunaan listrik, bahan bakar, proses produksi, transportasi, perjalanan bisnis, limbah, hingga aktivitas dalam rantai pasok dapat berkontribusi terhadap jejak karbon perusahaan.
Setelah mengetahui jumlah emisi yang dihasilkan, langkah berikutnya adalah menentukan target pengurangan emisi. Target diperlukan agar perusahaan memiliki arah yang jelas dalam menjalankan program rendah karbon.
Namun, target yang terlalu tinggi tanpa mempertimbangkan kondisi perusahaan dapat sulit dicapai. Sebaliknya, target yang terlalu rendah mungkin tidak mendorong perubahan yang berarti. Karena itu, perusahaan perlu menentukan target yang realistis, terukur, memiliki batas waktu, dan didukung oleh data.
Secara sederhana:
Ukur Emisi → Tentukan Baseline → Identifikasi Sumber Emisi → Tentukan Target → Buat Program → Pantau → Evaluasi
Dengan pendekatan tersebut, target pengurangan emisi tidak hanya menjadi angka, tetapi menjadi bagian dari strategi perusahaan.
Apa Itu Target Pengurangan Emisi?
Target pengurangan emisi adalah sasaran yang ditetapkan untuk menurunkan jumlah emisi gas rumah kaca dalam periode tertentu dibandingkan dengan kondisi awal atau baseline.
Contohnya:
Mengurangi emisi sebesar 30% pada tahun 2030 dibandingkan tahun dasar 2025.
Target tersebut memiliki tiga informasi penting:
Besarnya pengurangan: 30%
Tahun target: 2030
Baseline: 2025
Dengan informasi tersebut, perkembangan dapat diukur dari waktu ke waktu.
Mengapa Target Pengurangan Emisi Penting?
Tanpa target, perusahaan mungkin memiliki berbagai program lingkungan tetapi sulit mengetahui apakah program tersebut menghasilkan perubahan yang sesuai dengan tujuan.
Target membantu perusahaan menentukan:
Arah program
Prioritas investasi
KPI
Tanggung jawab divisi
Jadwal pelaksanaan
Evaluasi perkembangan
Target juga dapat membantu manajemen menghubungkan program pengurangan emisi dengan strategi bisnis perusahaan.
1. Hitung Jejak Karbon Terlebih Dahulu
Sebelum menetapkan target, perusahaan perlu mengetahui kondisi emisi saat ini.
Carbon footprint dapat dihitung dari berbagai aktivitas seperti:
Listrik
Bahan bakar
Produksi
Transportasi
Bahan baku
Perjalanan bisnis
Limbah
Pemasok
Secara sederhana:
Emisi = Data Aktivitas × Faktor Emisi
Hasil penghitungan menjadi dasar untuk menentukan target.
2. Tentukan Baseline
Baseline adalah titik awal yang digunakan sebagai pembanding.
Misalnya:
Emisi tahun 2025 = 10.000 ton CO₂e
Perusahaan kemudian menetapkan 2025 sebagai tahun dasar.
Jika target pengurangan sebesar 30%, maka:
Target Pengurangan = 10.000 × 30%
= 3.000 ton CO₂e
Sehingga target emisi menjadi:
10.000 – 3.000 = 7.000 ton CO₂e
Artinya, perusahaan menargetkan emisi sebesar 7.000 ton CO₂e pada tahun target.
Angka tersebut hanya contoh ilustrasi.
3. Pastikan Data Baseline Berkualitas
Baseline perlu menggunakan data yang cukup lengkap dan dapat dipercaya.
Jika data tahun dasar tidak akurat, target yang dibuat juga dapat menjadi kurang tepat.
Perusahaan perlu memeriksa:
Kelengkapan data
Sumber data
Satuan
Faktor emisi
Batas organisasi
Aktivitas yang dihitung
Metode perhitungan
Dokumentasi baseline juga penting agar perbandingan pada tahun berikutnya dilakukan secara konsisten.
4. Identifikasi Scope 1, Scope 2, dan Scope 3
Perusahaan perlu mengetahui dari mana emisi berasal.
Scope 1
Emisi langsung dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan perusahaan.
Contohnya:
Kendaraan perusahaan
Generator
Boiler
Pembakaran bahan bakar
Scope 2
Emisi yang berkaitan dengan energi yang dibeli dan digunakan perusahaan, terutama listrik.
Scope 3
Berbagai emisi tidak langsung lainnya dalam rantai nilai.
Contohnya:
Bahan baku
Pemasok
Transportasi pihak ketiga
Perjalanan bisnis
Limbah
Distribusi
Penggunaan produk
Pembagian ini membantu perusahaan mengetahui area yang membutuhkan perhatian.
5. Temukan Sumber Emisi Terbesar
Tidak semua aktivitas memberikan kontribusi emisi yang sama.
Misalnya:
| Sumber Emisi | Emisi |
|---|---|
| Produksi | 4.000 ton CO₂e |
| Listrik | 2.500 ton CO₂e |
| Transportasi | 1.500 ton CO₂e |
| Bahan baku | 1.200 ton CO₂e |
| Limbah | 800 ton CO₂e |
Angka tersebut hanya ilustrasi.
Jika produksi menjadi sumber terbesar, program pengurangan dapat difokuskan pada efisiensi proses produksi.
Pendekatan ini membantu perusahaan memprioritaskan area dengan potensi pengurangan terbesar.
6. Tentukan Jenis Target
Perusahaan dapat menggunakan target absolut atau intensitas.
Target absolut berfokus pada total emisi.
Contohnya:
Mengurangi total emisi dari 10.000 menjadi 7.000 ton CO₂e.
Sementara target intensitas mengukur emisi berdasarkan aktivitas tertentu.
Contohnya:
Mengurangi emisi dari 5 kg CO₂e menjadi 3,5 kg CO₂e per unit produk.
Target intensitas dapat berguna ketika produksi perusahaan berubah dari waktu ke waktu.
7. Gunakan Prinsip SMART
Target dapat dibuat menggunakan prinsip SMART.
Specific
Target harus jelas.
Bukan hanya:
“Kami ingin mengurangi emisi.”
Tetapi:
“Mengurangi emisi Scope 1 dan Scope 2 sebesar 20%.”
Measurable
Target harus dapat diukur menggunakan data.
Achievable
Target perlu mempertimbangkan kemampuan dan sumber daya perusahaan.
Relevant
Target harus sesuai dengan sumber emisi dan strategi perusahaan.
Time-Bound
Target perlu memiliki batas waktu.
Contohnya:
Mengurangi emisi 20% pada 2030 dibandingkan baseline 2025.
8. Jangan Menentukan Target Berdasarkan Perkiraan Saja
Target sebaiknya tidak dipilih hanya karena angka tertentu terlihat menarik.
Misalnya, perusahaan langsung menetapkan target pengurangan 50% tanpa mengetahui sumber emisi dan potensi pengurangan yang tersedia.
Pendekatan yang lebih baik:
Data → Analisis → Potensi Pengurangan → Target
Perusahaan dapat membuat beberapa skenario sebelum menentukan target final.
9. Analisis Potensi Pengurangan
Setiap sumber emisi perlu dianalisis untuk mengetahui potensi pengurangannya.
Contohnya:
| Program | Potensi Pengurangan |
|---|---|
| Efisiensi energi | 500 ton CO₂e |
| Optimasi transportasi | 300 ton CO₂e |
| Energi rendah karbon | 1.000 ton CO₂e |
| Pengurangan limbah | 200 ton CO₂e |
Total potensi:
500 + 300 + 1.000 + 200 = 2.000 ton CO₂e
Data tersebut dapat membantu perusahaan mengetahui apakah target yang direncanakan masuk akal.
10. Pertimbangkan Pertumbuhan Bisnis
Perusahaan perlu mempertimbangkan perubahan bisnis di masa depan.
Produksi mungkin meningkat.
Jumlah fasilitas dapat bertambah.
Jumlah kendaraan dapat berubah.
Permintaan pelanggan juga dapat meningkat.
Karena itu, target perlu mempertimbangkan skenario pertumbuhan.
Misalnya, perusahaan dapat memiliki target absolut sekaligus target intensitas.
Total emisi turun 20%
dan:
Emisi per unit produk turun 30%
Dengan cara tersebut, perusahaan dapat melihat total emisi sekaligus efisiensi produksinya.
11. Pertimbangkan Kemampuan Teknologi
Target perlu mempertimbangkan teknologi yang tersedia.
Misalnya, perusahaan ingin mengurangi emisi dari proses produksi.
Program dapat berupa:
Mengganti mesin
Meningkatkan efisiensi
Menggunakan sistem otomatisasi
Mengoptimalkan proses
Menggunakan sumber energi yang lebih rendah karbon
Namun, teknologi tertentu mungkin membutuhkan investasi dan waktu implementasi.
Karena itu, target perlu disesuaikan dengan roadmap teknologi perusahaan.
12. Pertimbangkan Kemampuan Finansial
Program pengurangan emisi dapat membutuhkan investasi.
Perusahaan perlu mempertimbangkan:
Biaya investasi
Biaya operasional
Penghematan
Payback period
Return on Investment
Potensi pengurangan emisi
Misalnya, perusahaan memiliki dua program.
Program A murah tetapi hanya mengurangi sedikit emisi.
Program B lebih mahal tetapi menghasilkan pengurangan besar.
Manajemen dapat membandingkan keduanya berdasarkan manfaat finansial dan lingkungan.
13. Hitung Biaya Pengurangan Emisi
Perusahaan dapat menggunakan indikator biaya per ton emisi yang dikurangi.
Rumus sederhananya:

Biaya per ton CO₂e = Biaya Program ÷ Emisi yang Dikurangi
Misalnya:
Biaya program = Rp300 juta
Pengurangan emisi = 1.500 ton CO₂e
Maka:
Rp300 juta ÷ 1.500 = Rp200.000 per ton CO₂e
Indikator tersebut dapat membantu membandingkan beberapa program.
14. Buat Target Jangka Pendek
Target jangka panjang perlu diterjemahkan menjadi target yang lebih dekat.
Misalnya:
Target 2030 = Pengurangan 30%
Perusahaan dapat membuat tahapan:
2026 = 5%
2027 = 10%
2028 = 17%
2029 = 24%
2030 = 30%
Angka tersebut hanya contoh.
Target tahunan membantu perusahaan mengetahui lebih cepat jika perkembangan tidak sesuai rencana.
15. Buat Roadmap Pengurangan Emisi
Roadmap menjelaskan bagaimana target akan dicapai.
Contohnya:
2026 → Audit Energi
2027 → Efisiensi Mesin
2028 → Optimasi Transportasi
2029 → Peningkatan Energi Rendah Karbon
2030 → Evaluasi Target
Roadmap dapat disesuaikan berdasarkan kondisi perusahaan.
Setiap program sebaiknya memiliki penanggung jawab, anggaran, jadwal, dan KPI.
16. Tentukan KPI
KPI membantu memantau perkembangan target.
Contohnya:
Total emisi CO₂e
Scope 1
Scope 2
Scope 3
Intensitas emisi
Konsumsi energi
Konsumsi bahan bakar
Pengurangan emisi tahunan
Persentase energi terbarukan
Kelengkapan data emisi
KPI perlu dipantau secara berkala.
17. Gunakan Carbon Tracking
Carbon tracking membantu perusahaan mengetahui perkembangan secara lebih cepat.
Alurnya dapat berupa:
Data Aktivitas → Perhitungan CO₂e → Dashboard → Bandingkan dengan Target → Evaluasi
Jika emisi aktual lebih tinggi dari jalur target, perusahaan dapat melakukan evaluasi sebelum akhir periode.
Carbon tracking membuat target menjadi sesuatu yang dapat dipantau, bukan hanya angka dalam dokumen.
18. Buat Dashboard Target Emisi
Dashboard dapat menampilkan target dan kondisi aktual.
Contohnya:
| KPI | Target | Aktual |
|---|---|---|
| Pengurangan emisi | 20% | 17% |
| Scope 1 | -15% | -13% |
| Scope 2 | -25% | -23% |
| Intensitas emisi | 1,5 kg/unit | 1,6 kg/unit |
Angka tersebut hanya ilustrasi.
Dashboard membantu manajemen mengetahui indikator yang membutuhkan tindakan tambahan.
19. Libatkan Setiap Divisi
Target perusahaan tidak akan tercapai jika hanya menjadi tanggung jawab tim sustainability.
Setiap divisi dapat memiliki target.
Contohnya:
Produksi → Efisiensi mesin
Fasilitas → Pengurangan listrik
Logistik → Pengurangan bahan bakar
Procurement → Pengelolaan emisi pemasok
IT → Sistem carbon tracking
HR → Edukasi karyawan
Dengan demikian, target perusahaan diterjemahkan menjadi tindakan pada tingkat operasional.
20. Libatkan Pemasok
Jika Scope 3 menjadi bagian besar dari total emisi, perusahaan perlu melibatkan pemasok.
Perusahaan dapat meminta informasi mengenai:
Jejak karbon bahan
Konsumsi energi
Proses produksi
Target pengurangan emisi
Data transportasi
Perusahaan juga dapat bekerja sama dengan pemasok untuk meningkatkan efisiensi.
Target Scope 3 akan sulit dicapai jika rantai pasok tidak dilibatkan.
Target dan Pelaporan ESG
Target pengurangan emisi dapat menjadi bagian dari informasi lingkungan dalam pelaporan ESG.
Perusahaan dapat menyampaikan:
Baseline
Target
Cakupan
Periode
Program pengurangan
Hasil aktual
Perkembangan tahunan
Transparansi penting agar pemangku kepentingan dapat memahami perkembangan perusahaan secara lebih jelas.
Hindari Target yang Berisiko Greenwashing
Target besar dapat terlihat menarik dalam komunikasi perusahaan.
Namun, target sebaiknya memiliki dasar dan rencana yang jelas.
Misalnya:
“Kami akan mengurangi emisi 50%.”
Perusahaan perlu menjelaskan:
50% dari tahun berapa?
Scope apa yang termasuk?
Kapan target dicapai?
Bagaimana cara mencapainya?
Bagaimana perkembangannya diukur?
Informasi tersebut membantu mengurangi risiko klaim yang tidak jelas atau menyesatkan.
Peran Artificial Intelligence
Artificial Intelligence (AI) dapat membantu menganalisis data historis dan membuat beberapa skenario pengurangan emisi.
Misalnya, perusahaan dapat membandingkan:
Skenario A → Efisiensi energi
Skenario B → Energi rendah karbon
Skenario C → Efisiensi + perubahan energi + optimasi transportasi
AI juga dapat membantu mendeteksi pola konsumsi dan perubahan yang tidak biasa.
Namun, target tetap perlu ditentukan berdasarkan kondisi bisnis, data, investasi, dan keputusan manajemen.
Peran Agentic AI
Agentic AI dapat membantu memantau perkembangan target secara otomatis.
Sistem dapat membantu:
Mengumpulkan data
Menghitung emisi
Membandingkan aktual dengan target
Mendeteksi penyimpangan
Memperbarui dashboard
Membuat ringkasan
Contohnya:
Target Bulanan → Data Aktual → Perbandingan → Peringatan → Evaluasi
Untuk perubahan target atau keputusan investasi, persetujuan manusia tetap diperlukan.
Evaluasi Target Secara Berkala
Kondisi bisnis dapat berubah.
Perusahaan dapat mengalami perubahan produksi, akuisisi, pembukaan fasilitas baru, perubahan teknologi, atau perubahan rantai pasok.
Karena itu, target dan baseline perlu ditinjau berdasarkan aturan dan metodologi yang digunakan.
Evaluasi tidak berarti target harus selalu diturunkan ketika sulit dicapai.
Tujuannya adalah memastikan target tetap relevan dan data tetap dapat dibandingkan secara konsisten.
Apa yang Dilakukan Jika Target Tidak Tercapai?
Jika perkembangan tidak sesuai target, perusahaan perlu mencari penyebabnya.
Misalnya:
Produksi meningkat
Program terlambat
Penghematan lebih kecil dari perkiraan
Data baseline berubah
Pemasok belum memberikan data
Setelah penyebab ditemukan, perusahaan dapat menyesuaikan program.
Pendekatannya:
Temukan Penyebab → Evaluasi Program → Tentukan Tindakan → Pantau Kembali
Target menjadi alat untuk membantu perusahaan mengetahui kapan strategi perlu diperbaiki.
Target Menuju Net Zero
Untuk perusahaan yang memiliki tujuan net zero, target pengurangan emisi dapat menjadi bagian dari perjalanan jangka panjang.
Pendekatannya dapat berupa:
Baseline → Target Jangka Pendek → Target Menengah → Pengurangan Mendalam → Net Zero
Fokus utama adalah mengurangi emisi dari aktivitas perusahaan dan rantai nilai sejauh memungkinkan.
Target jangka pendek membantu memastikan perusahaan melakukan tindakan sejak sekarang, bukan hanya mengandalkan target yang masih jauh.
Kesalahan dalam Menentukan Target
Beberapa kesalahan yang perlu dihindari antara lain menetapkan target tanpa baseline, tidak menjelaskan Scope yang dihitung, tidak memiliki roadmap, dan tidak menentukan penanggung jawab.
Kesalahan lainnya adalah hanya melihat persentase pengurangan tanpa mempertimbangkan pertumbuhan bisnis.
Target yang baik perlu memiliki:
Baseline + Cakupan + Persentase + Tahun Target + Roadmap + KPI + Penanggung Jawab
Dengan unsur tersebut, target lebih mudah diterjemahkan menjadi program nyata.
Dari Target Menuju Tindakan
Target bukan tujuan akhir.
Nilai utama target muncul ketika perusahaan menggunakannya untuk menentukan tindakan.
Alurnya:
Baseline → Target → Program → Investasi → Implementasi → Carbon Tracking → Evaluasi → Perbaikan
Jika setiap tahapan memiliki data dan penanggung jawab yang jelas, perusahaan dapat memantau perkembangan secara lebih terstruktur.
Kesimpulan
Menentukan target pengurangan emisi yang realistis membutuhkan pemahaman terhadap kondisi emisi perusahaan, kemampuan teknologi, sumber daya finansial, pertumbuhan bisnis, dan potensi pengurangan yang tersedia.
Perusahaan perlu memulai dengan menghitung jejak karbon, menentukan baseline, mengidentifikasi Scope 1, Scope 2, dan Scope 3, menemukan sumber emisi terbesar, serta menganalisis peluang pengurangan.
Target sebaiknya spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan memiliki batas waktu. Target jangka panjang juga perlu diterjemahkan menjadi roadmap, KPI, dan target jangka pendek.
Dengan dukungan carbon tracking, dashboard, carbon accounting, AI, dan Agentic AI, perkembangan target dapat dipantau dan dievaluasi secara lebih terstruktur.
Pada akhirnya, target pengurangan emisi yang baik bukan sekadar angka persentase. Target harus menjadi panduan yang menghubungkan data karbon, strategi bisnis, investasi, tanggung jawab setiap divisi, dan tindakan nyata menuju perusahaan yang lebih rendah karbon.









