Pengantar
Bayangkan sebuah data center tanpa gedung besar, tanpa deretan AC raksasa, dan tanpa membutuhkan lahan yang luas. Server-servernya justru berada di dalam kapsul khusus yang ditempatkan di dasar laut.
Kedengarannya seperti teknologi dari film fiksi ilmiah. Namun, data center bawah laut atau underwater data center bukan sekadar ide. Konsep ini sudah pernah diuji dalam proyek nyata.
Pertanyaannya, apakah dasar laut akan menjadi salah satu lokasi data center masa depan?
Apa Itu Data Center Bawah Laut?
Data center adalah fasilitas yang digunakan untuk menyimpan dan menjalankan komputer dalam jumlah besar. Di dalamnya terdapat server, storage, perangkat jaringan, sistem kelistrikan, dan berbagai sistem pendukung lainnya.
Selama ini, data center biasanya dibangun di daratan. Bangunannya membutuhkan ruangan yang luas dan sistem pendinginan yang besar karena server menghasilkan panas ketika bekerja.
Pada konsep underwater data center, perangkat komputer ditempatkan di dalam modul atau kapsul yang dirancang agar kedap air dan mampu menghadapi tekanan di bawah laut.
Modul tersebut kemudian ditempatkan di dasar laut.
Secara sederhana, konsepnya seperti ini:
Internet/Cloud → Kabel Fiber Optik → Data Center Bawah Laut → Server
Sementara itu, air laut di sekitar kapsul dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari sistem pelepasan panas.
Mengapa Data Center Dibangun di Bawah Laut?
Ada beberapa alasan mengapa laut menarik untuk dijadikan lokasi data center.
1. Pendinginan Lebih Efisien
Salah satu masalah terbesar data center adalah panas.
Server bekerja sepanjang waktu dan menghasilkan panas. Karena itu, data center membutuhkan sistem pendinginan yang dapat bekerja 24 jam.
Pada data center konvensional, sistem pendinginan bisa menjadi salah satu komponen yang membutuhkan energi cukup besar.
Di bawah laut, lingkungan sekitar kapsul memiliki massa air yang besar. Dengan desain heat exchanger yang tepat, panas dari dalam kapsul dapat dipindahkan ke lingkungan laut.
Artinya, laut berpotensi membantu proses pendinginan.
Namun, bukan berarti server cukup “dicelupkan” langsung ke air laut. Perangkat elektronik tetap harus berada di dalam lingkungan yang terlindungi.
2. Tidak Membutuhkan Lahan Daratan
Membangun data center di kota besar membutuhkan lahan yang cukup luas.
Masalahnya, harga tanah di kawasan perkotaan dan kawasan industri dapat sangat mahal.
Dengan menempatkan sebagian infrastruktur di laut, kebutuhan terhadap lahan daratan dapat dikurangi.
Hal ini menjadi semakin menarik bagi wilayah pesisir yang memiliki kepadatan penduduk tinggi.
3. Dekat dengan Pengguna
Banyak kota besar di dunia berada di dekat pantai.
Jika data center dapat ditempatkan di laut yang dekat dengan pusat populasi, infrastruktur tersebut berpotensi menjadi bagian dari jaringan edge computing.
Edge computing pada dasarnya adalah konsep menempatkan kemampuan komputasi lebih dekat dengan pengguna atau sumber data.
Semakin dekat lokasi komputasi dengan pengguna, semakin kecil jarak yang harus ditempuh data secara fisik, meskipun latency tetap dipengaruhi banyak faktor lain seperti routing dan jaringan.
Bagaimana Data Center Bawah Laut Bekerja?
Konsepnya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan data center biasa.
Di dalam kapsul terdapat berbagai perangkat seperti:
- Server
- Storage
- Network equipment
- Power distribution
- Sensor
- Sistem monitoring
Perbedaannya adalah lingkungan tempat perangkat tersebut beroperasi.
Kapsul harus mampu melindungi perangkat dari:
- Air laut
- Tekanan air
- Korosi
- Perubahan temperatur
- Kelembapan
Koneksi jaringan dapat menggunakan kabel fiber optik bawah laut.
Sementara itu, energi listrik dapat disalurkan melalui kabel dari daratan atau sumber energi lain yang tersedia di sekitar lokasi.
Karena tidak mudah mengirim teknisi ke dasar laut setiap saat, sistem monitoring menjadi sangat penting.
Server dan perangkat lainnya harus dapat dipantau dari jarak jauh.
Teknologi yang Dibutuhkan
Data center bawah laut membutuhkan kombinasi berbagai teknologi.
Underwater Enclosure
Perangkat harus ditempatkan dalam wadah yang tahan tekanan dan kedap air.
Fiber Optic
Kabel fiber optik digunakan untuk menghubungkan data center dengan jaringan di daratan atau jaringan lainnya.
Power System
Server membutuhkan listrik yang stabil. Karena itu, sistem distribusi listrik dan redundancy menjadi sangat penting.
Sensor
Berbagai sensor dapat digunakan untuk memonitor:
- Temperatur
- Tekanan
- Kelembapan
- Kebocoran
- Kondisi perangkat
- Konsumsi energi
Remote Monitoring
Karena teknisi tidak bisa setiap saat datang ke lokasi, pengelola membutuhkan sistem monitoring jarak jauh.
Di sinilah teknologi seperti IoT, automation, AI, dan predictive maintenance dapat memainkan peran penting.
Bagaimana dengan AI?
Perkembangan AI membuat kebutuhan terhadap data center semakin besar.
Model AI modern membutuhkan GPU dan perangkat komputasi berperforma tinggi. Perangkat tersebut menghasilkan panas yang besar ketika bekerja.
Karena itu, teknologi pendinginan menjadi salah satu aspek penting dalam pembangunan data center untuk AI.
Data center bawah laut secara teori menawarkan lingkungan yang menarik untuk membantu pengelolaan panas tersebut.
AI juga dapat digunakan untuk mengelola data center bawah laut.
Misalnya, AI dapat menganalisis data dari sensor dan mencari pola yang tidak normal.
Jika temperatur meningkat atau konsumsi listrik berubah secara tidak biasa, sistem dapat memberikan peringatan sebelum terjadi masalah yang lebih serius.
Konsepnya dapat digambarkan sebagai:
Sensor → Data → AI Analytics → Deteksi Anomali → Maintenance
Dengan pendekatan ini, pengelola tidak hanya menunggu perangkat rusak, tetapi dapat mencoba mendeteksi indikasi masalah lebih awal.
Contoh Nyata: Microsoft Project Natick
Salah satu eksperimen yang paling terkenal dalam bidang ini adalah Project Natick dari Microsoft.
Microsoft menguji konsep data center bawah laut dengan menempatkan server di dalam sebuah kapsul khusus di bawah laut.
Eksperimen tersebut bertujuan mempelajari apakah data center dapat beroperasi dalam lingkungan bawah laut dengan cara yang efisien dan dapat diandalkan.
Project Natick menjadi salah satu contoh penting bahwa konsep data center bawah laut dapat diuji secara nyata, bukan hanya sebatas teori.

Namun, eksperimen tersebut juga menunjukkan bahwa keberhasilan teknis sebuah prototipe tidak otomatis berarti konsep tersebut akan menjadi model utama untuk semua data center.
Masih terdapat berbagai faktor lain seperti biaya, maintenance, regulasi, lingkungan, dan kebutuhan operasional.
Tantangan Data Center di Dasar Laut
Walaupun terdengar menarik, data center bawah laut memiliki banyak tantangan.
1. Maintenance
Ini mungkin menjadi salah satu tantangan terbesar.
Pada data center biasa, teknisi dapat masuk ke ruang server dan mengganti perangkat yang rusak.
Di bawah laut, proses tersebut jauh lebih sulit.
Jika terjadi kerusakan hardware, operator mungkin harus menggunakan kapal atau sistem khusus untuk mengangkat kapsul.
Karena itu, desain perangkat harus mengutamakan reliability.
2. Tekanan Air
Semakin dalam sebuah objek berada di laut, semakin besar tekanan yang diterimanya.
Kapsul data center harus dirancang agar mampu bertahan dalam kondisi tersebut.
Kesalahan desain dapat menyebabkan kerusakan serius.
3. Korosi
Air laut bersifat korosif.
Material yang digunakan untuk konstruksi harus mampu bertahan dalam lingkungan tersebut dalam waktu yang lama.
4. Kabel Bawah Laut
Data center membutuhkan koneksi jaringan.
Kabel bawah laut sendiri memiliki risiko seperti kerusakan akibat aktivitas kapal, kondisi lingkungan, atau gangguan lainnya.
Karena itu, redundancy jaringan menjadi sangat penting.
5. Cybersecurity
Walaupun server berada di bawah laut, ancaman siber tetap ada.
Bahkan, ketergantungan terhadap remote management membuat keamanan jaringan menjadi semakin penting.
Sistem harus melindungi:
- Remote administration
- Network infrastructure
- Firmware
- API
- Monitoring system
- Authentication
- Encryption
Serangan terhadap sistem monitoring atau remote management berpotensi memberikan dampak besar.
Karena itu, underwater data center tetap membutuhkan pendekatan Zero Trust, network segmentation, encryption, access control, dan continuous monitoring.
Apakah Data Center Bawah Laut Ramah Lingkungan?
Salah satu alasan konsep ini menarik adalah potensi efisiensi energi.
Penggunaan air laut untuk membantu membuang panas dapat mengurangi kebutuhan terhadap sistem pendinginan tertentu.
Selain itu, data center bawah laut berpotensi dikombinasikan dengan sumber energi terbarukan seperti offshore wind.
Namun, kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa semua data center bawah laut pasti ramah lingkungan.
Ada pertanyaan lain yang perlu diperhatikan.
Misalnya:
- Bagaimana dampaknya terhadap ekosistem laut?
- Apakah panas dari data center memengaruhi lingkungan sekitar?
- Bagaimana proses pembuatan kapsul?
- Bagaimana perangkat elektronik akan dikelola ketika sudah tidak digunakan?
- Bagaimana proses pengangkatan dan pemeliharaan infrastrukturnya?
Karena itu, dampak lingkungan harus dianalisis secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan konsumsi listrik.
Data Center Darat vs Data Center Bawah Laut
Secara sederhana, keduanya memiliki kelebihan dan tantangan yang berbeda.
| Aspek | Data Center Darat | Data Center Bawah Laut |
|---|---|---|
| Pendinginan | Menggunakan sistem cooling khusus | Berpotensi memanfaatkan lingkungan laut |
| Maintenance | Relatif mudah | Lebih kompleks |
| Lahan | Membutuhkan lahan | Mengurangi kebutuhan lahan darat |
| Akses hardware | Mudah | Sulit |
| Konektivitas | Infrastruktur darat | Fiber bawah laut |
| Lingkungan | Lebih mudah dikontrol | Dipengaruhi lingkungan laut |
| Monitoring | On-site + remote | Sangat bergantung remote monitoring |
Tidak berarti data center bawah laut akan menggantikan data center di daratan.
Lebih mungkin keduanya akan digunakan untuk kebutuhan yang berbeda.
Masa Depan: Underwater Data Center + Edge Computing
Salah satu skenario menarik adalah menggabungkan underwater data center dengan edge computing.
Misalnya, sebuah kota pesisir memiliki:
- Data center utama di daratan
- Edge data center
- Data center bawah laut
- Infrastruktur cloud
- Jaringan fiber optik
Semua infrastruktur tersebut dapat bekerja sebagai satu ekosistem.
Dengan konsep distributed computing, workload tidak harus selalu diproses di satu lokasi.
Sebagian proses dapat dilakukan di edge, sebagian di data center regional, dan sebagian lainnya di cloud.
Hal ini menjadi semakin menarik ketika kebutuhan komputasi AI terus berkembang.
Apakah Semua Data Center Akan Pindah ke Dasar Laut?
Kemungkinan besar tidak sesederhana itu.
Data center bawah laut memiliki beberapa potensi keuntungan, tetapi juga memiliki tantangan yang cukup besar.
Teknologi ini mungkin lebih cocok untuk skenario tertentu daripada menggantikan seluruh data center konvensional.
Faktor seperti biaya pembangunan, maintenance, konektivitas, energi, regulasi, keamanan, dan dampak lingkungan akan menentukan apakah konsep ini layak digunakan dalam skala besar.
Jadi, masa depan data center mungkin bukan tentang memilih antara darat atau laut.
Masa depan bisa berupa kombinasi berbagai lokasi:
Data Center Darat + Edge Computing + Cloud + Underwater Data Center
Kesimpulan
Data center di dasar laut merupakan salah satu konsep menarik dalam perkembangan infrastruktur cloud.
Dengan memanfaatkan lingkungan laut, teknologi ini berpotensi membantu mengatasi beberapa masalah data center, terutama kebutuhan pendinginan dan penggunaan lahan.
Namun, tantangannya juga tidak sedikit.
Maintenance, tekanan air, korosi, kabel bawah laut, cybersecurity, biaya, dan dampak lingkungan harus diperhitungkan dengan serius.
Perkembangan AI juga membuat kebutuhan terhadap compute semakin besar. Hal ini mendorong industri untuk mencari cara baru dalam membangun dan mengoperasikan data center.
Pada akhirnya, data center masa depan mungkin tidak hanya berada di gedung-gedung besar di daratan. Sebagian infrastruktur komputasi bisa tersebar di edge, kawasan pesisir, fasilitas offshore, bahkan di bawah laut.
Laut mungkin bukan pengganti data center konvensional.
Tetapi bisa saja menjadi salah satu bagian dari ekosistem cloud masa depan.








