Pengantar
Kendari, 2 November 2026 — Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) secara resmi mengaitkan kelompok hacker Korea Utara bernama TraderTraitor dengan pencurian aset kripto senilai $6,43 miliar dari Binance. Insiden ini menjadi salah satu pencurian cryptocurrency terbesar dalam sejarah.
Kelompok tersebut diduga menggunakan berbagai teknik serangan siber untuk mencuri aset digital, kemudian memindahkannya melalui sejumlah jaringan blockchain guna menyulitkan proses pelacakan.
Pengungkapan ini kembali menunjukkan bahwa industri cryptocurrency masih menjadi target utama kelompok hacker yang diduga mendapat dukungan dari negara.
FBI Ungkap Keterlibatan TraderTraitor
Dalam pengumuman pada 1 November 2026, FBI menyatakan bahwa kelompok TraderTraitor bertanggung jawab atas pencurian aset digital dari Binance.
Kelompok ini juga dikenal dengan beberapa nama lain, seperti Jade Sleet, Pressure Chollima, PUKCHONG, Slow Pisces, dan UNC4899.
FBI melakukan penyelidikan bersama U.S. Secret Service dan Internal Revenue Service Criminal Investigation untuk melacak pergerakan aset hasil pencurian.
Berdasarkan hasil pemantauan, hacker diketahui mulai mengonversi sebagian besar aset yang dicuri menjadi Ethereum (ETH).
FBI memperkirakan dana tersebut akan kembali dipindahkan melalui berbagai layanan keuangan terdesentralisasi atau Decentralized Finance (DeFi), serta layanan pertukaran aset kripto instan.
Langkah tersebut diduga dilakukan untuk menyamarkan asal-usul dana sebelum dipindahkan ke tahap pencucian berikutnya.
$2,85 Miliar Aset Berhasil Dibekukan
Dari total aset senilai $6,43 miliar yang dicuri, sekitar $2,85 miliar dilaporkan telah dibekukan melalui jaringan blockchain.
Pembekuan tersebut melibatkan sejumlah perusahaan dan penyedia layanan blockchain, termasuk Tether, Circle, Ripple, Arbitrum, dan Optimism.
FBI juga merilis daftar alamat wallet yang diduga digunakan oleh pelaku untuk memindahkan dan mencuci aset hasil pencurian.
Langkah ini diharapkan dapat membantu perusahaan cryptocurrency mengidentifikasi transaksi mencurigakan dan mencegah dana tersebut digunakan oleh pelaku.
Sementara itu, Binance melakukan pemeriksaan keamanan terhadap layanan yang terdampak sebelum memulihkan proses penarikan dana secara bertahap.
Pada 1 November 2026, Binance menyatakan bahwa layanan penarikan telah kembali beroperasi pada seluruh 15 jaringan yang didukung. Perusahaan juga melaporkan telah memproses penarikan dana sebesar $4,649 miliar dan menerima deposit sebesar $1,01 miliar dalam periode tertentu pada hari tersebut.
TraderTraitor Memiliki Rekam Jejak Serangan Kripto
TraderTraitor diketahui telah aktif setidaknya sejak 2020 dan memiliki sejarah menyerang perusahaan yang bergerak di bidang cryptocurrency dan Web3.
Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok ini dikaitkan dengan sejumlah pencurian aset digital, termasuk serangan terhadap DMM Bitcoin, Bybit, KelpDAO, dan Bitget.
Menurut perusahaan analisis blockchain Elliptic, kelompok yang terkait dengan Korea Utara diperkirakan telah mencuri lebih dari $6,5 miliar aset kripto dalam beberapa tahun terakhir.
Pencurian dari Binance ini semakin memperbesar jumlah tersebut dan menunjukkan bahwa serangan terhadap industri cryptocurrency menjadi salah satu aktivitas utama kelompok hacker yang berafiliasi dengan Korea Utara.
Modus Operandi: Tawaran Pekerjaan Palsu dan Malware
Selain melakukan serangan langsung terhadap sistem, TraderTraitor juga diketahui menggunakan rekayasa sosial untuk menargetkan korban.
Salah satu metode yang digunakan adalah menawarkan pekerjaan palsu kepada individu yang bekerja di bidang teknologi, cybersecurity, blockchain, dan kecerdasan buatan (AI).
Hacker menyamar sebagai perekrut dari perusahaan teknologi atau blockchain yang terlihat meyakinkan. Korban kemudian diarahkan untuk mengikuti proses wawancara atau menjalankan aplikasi tertentu.
Di balik proses tersebut, hacker menyisipkan malware yang dapat mencuri informasi dan memberikan akses ke perangkat korban.
1. Malware melalui Terraform Provider
Salah satu teknik yang digunakan TraderTraitor adalah menyisipkan malware ke dalam Terraform provider yang telah dimodifikasi.
Terraform merupakan alat Infrastructure as Code (IaC) yang digunakan oleh tim DevOps untuk mengelola dan membangun infrastruktur secara otomatis.
Karena Terraform banyak digunakan oleh perusahaan teknologi, penyalahgunaan komponen ini dapat menjadi ancaman serius bagi lingkungan DevOps.
Terraform provider yang telah disusupi digunakan untuk mengirimkan Bash loader, yaitu skrip yang bertugas mengunduh dan menjalankan malware pada sistem korban.

2. FLATROOF untuk Mencuri Informasi
Malware FLATROOF digunakan untuk mengumpulkan informasi sensitif dari perangkat korban.
Malware ini memanfaatkan information stealer berbasis Python untuk mengambil data yang dianggap penting oleh pelaku.
Karena serangan menargetkan berbagai sistem operasi, malware dapat disesuaikan untuk berjalan pada macOS, Linux, maupun Windows.
3. ROOFDECK sebagai Backdoor
Setelah informasi berhasil dikumpulkan, malware dapat memasang ROOFDECK.
ROOFDECK merupakan backdoor yang memberikan kemampuan kepada hacker untuk mengakses dan mengendalikan sistem korban dari jarak jauh.
Dengan akses tersebut, pelaku berpotensi mempertahankan keberadaan mereka di dalam sistem dan melakukan aktivitas berbahaya lainnya.
Rangkaian serangan ini menunjukkan bahwa hacker tidak hanya berusaha mencuri informasi, tetapi juga membangun akses jangka panjang terhadap sistem yang berhasil mereka kompromikan.
AI Membantu Hacker Menjalankan Rekayasa Sosial
TraderTraitor juga dilaporkan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk meningkatkan keberhasilan serangan rekayasa sosial.
AI dapat membantu hacker menyusun pesan perekrutan yang lebih meyakinkan, membuat identitas perusahaan palsu, dan menyesuaikan komunikasi dengan bidang pekerjaan korban.
Dalam salah satu kampanye yang diungkap Microsoft, kelompok Jade Sleet menyamar sebagai perekrut dari perusahaan intelijen blockchain berbasis AI.
Hacker menggunakan domain khusus, akun media sosial, serta pengetahuan mengenai industri teknologi untuk membangun kepercayaan korban.
Pendekatan ini membuat serangan lebih sulit dikenali karena komunikasi yang dilakukan terlihat seperti proses perekrutan profesional pada umumnya.
Dampak terhadap Industri Cryptocurrency
Pencurian senilai $6,43 miliar dari Binance menunjukkan bahwa keamanan industri cryptocurrency masih menghadapi tantangan besar.
Serangan ini tidak hanya berdampak pada perusahaan yang menjadi korban, tetapi juga dapat memengaruhi kepercayaan pengguna terhadap layanan pertukaran aset digital.
Selain itu, proses pemulihan dana menjadi semakin sulit ketika hacker memindahkan aset melalui berbagai jaringan blockchain dan layanan pertukaran.
Kasus ini juga memperlihatkan bahwa keamanan cryptocurrency tidak hanya bergantung pada teknologi blockchain, tetapi juga pada keamanan sistem, aplikasi, akun pengguna, dan infrastruktur yang mendukung operasional perusahaan.
Langkah Mitigasi untuk Mencegah Serangan Serupa
Kasus TraderTraitor memberikan sejumlah pelajaran penting bagi perusahaan teknologi, khususnya tim DevOps dan cybersecurity.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko serangan antara lain:
- Memverifikasi tawaran pekerjaan: Pastikan identitas perekrut dan perusahaan benar-benar dapat dipercaya sebelum mengikuti wawancara atau mengunduh aplikasi.
- Memeriksa keamanan dependensi: Gunakan Terraform provider dan library dari sumber resmi yang telah diverifikasi.
- Menerapkan least privilege: Batasi hak akses akun dan aplikasi hanya sesuai kebutuhan.
- Mengamankan kredensial: Gunakan pengelolaan secret yang aman dan hindari menyimpan token atau password dalam kode.
- Memantau aktivitas sistem: Gunakan EDR, SIEM, dan sistem monitoring untuk mendeteksi aktivitas yang tidak biasa.
- Menerapkan multi-signature wallet: Gunakan mekanisme persetujuan berlapis untuk transaksi aset digital bernilai besar.
- Meningkatkan kesadaran keamanan: Berikan pelatihan kepada karyawan mengenai phishing, rekayasa sosial, dan ancaman malware.
Bagi tim DevOps, pemeriksaan keamanan terhadap komponen Infrastructure as Code menjadi semakin penting karena komponen yang dipercaya dapat menjadi jalur masuk bagi malware.
Kesimpulan
FBI mengaitkan pencurian aset kripto senilai $6,43 miliar dari Binance dengan kelompok hacker Korea Utara TraderTraitor.
Kasus ini menunjukkan bagaimana kelompok hacker menggabungkan pencurian aset digital, rekayasa sosial, malware, dan pencucian dana untuk menjalankan operasi siber berskala besar.
Penggunaan Terraform provider yang telah disusupi juga menjadi pengingat bahwa ancaman keamanan dapat berasal dari komponen software yang selama ini dipercaya oleh pengembang.
Perusahaan cryptocurrency dan organisasi teknologi perlu memperkuat keamanan infrastruktur, rantai pasok software, serta sistem pengelolaan akses untuk mengurangi risiko serangan serupa.
Di tengah meningkatnya penggunaan AI dan teknologi blockchain, keamanan siber menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan dan keberlangsungan industri aset digital.
Sumber: The Hacker News — FBI Links North Korea’s TraderTraitor to Record $6.43 Billion Binance Crypto Heist








