Pengantar
Indonesia sebenarnya sudah punya modal besar untuk menyambut era pembayaran digital lewat kesuksesan QRIS dan BI-FAST selama beberapa tahun terakhir. Nah, kehadiran Rupiah Digital berpotensi menjadi babak selanjutnya dari transformasi ini. Yuk kita bahas lebih dalam bagaimana Rupiah Digital bisa mengubah cara masyarakat Indonesia bertransaksi sehari-hari, dengan melihat dulu seberapa jauh fondasi yang sudah dibangun saat ini.
Fondasi yang Sudah Terbangun: Kesuksesan QRIS dan BI-FAST
Sebelum membahas Rupiah Digital, penting melihat dulu betapa pesatnya transformasi pembayaran digital yang sudah terjadi di Indonesia. Hingga triwulan I 2026, transaksi QRIS tumbuh hingga 111,94% secara tahunan, dengan jumlah pengguna yang terus mendekati target 60 juta orang pada 2026, serta lebih dari 39 juta merchant, mayoritas berasal dari segmen UMKM. Sementara itu, BI-FAST mencatat volume transaksi ritel mencapai 1,4 miliar transaksi dengan nilai lebih dari Rp3.519 triliun, tumbuh lebih dari 30% dibanding tahun sebelumnya.
Fondasi inilah yang membuat Rupiah Digital tidak perlu membangun kebiasaan masyarakat dari nol, melainkan bisa melanjutkan momentum transformasi digital yang sudah berjalan sangat baik.
Bagaimana Rupiah Digital Bisa Mengubah Cara Bertransaksi Sehari-hari?
1. Transaksi di Warung dan Pasar Tradisional
Seperti sudah dibahas dalam pembahasan sebelumnya soal integrasi CBDC dengan sistem pembayaran nasional, Rupiah Digital berpotensi diintegrasikan langsung dengan infrastruktur QRIS yang sudah dikenal luas pedagang kecil, termasuk di pasar tradisional. Bedanya, dana yang dipakai konsumen langsung dijamin negara, bukan lewat perantara e-wallet atau bank komersial semata.
2. Transaksi Transportasi dan Layanan Publik
Bank Indonesia sudah mengembangkan QRIS Tanpa Pindai (QRIS TAP) berbasis teknologi NFC, dirancang khusus untuk transaksi massal yang cepat seperti di sektor transportasi. Fitur seperti ini menunjukkan arah yang sangat memungkinkan Rupiah Digital diintegrasikan lebih lanjut ke layanan transportasi publik dan sektor-sektor dengan volume transaksi tinggi lainnya.
3. Transaksi Antarbank yang Lebih Efisien
Dengan pertumbuhan BI-FAST yang sudah sangat pesat, wholesale Rupiah Digital, yang menjadi fokus tahap awal Proyek Garuda seperti sudah dibahas dalam pembahasan sebelumnya, berpotensi semakin menyempurnakan efisiensi penyelesaian transaksi antarbank dan antarlembaga keuangan di Indonesia.
4. Transaksi Lintas Negara bagi Wisatawan dan Pekerja Migran
Bank Indonesia juga tengah memperluas QRIS Cross Border ke berbagai negara, termasuk penjajakan kerja sama dengan China lewat UnionPay International. Ini menjadi indikasi kuat bahwa ke depan, interoperabilitas Rupiah Digital dengan sistem pembayaran negara lain, seperti sudah dibahas dalam pembahasan sebelumnya soal pembayaran lintas negara, bukan sekadar wacana jauh, melainkan arah yang sudah mulai dirintis lewat inisiatif serupa.

Siapa yang Paling Merasakan Dampaknya?
UMKM
Mengingat mayoritas merchant QRIS saat ini berasal dari segmen UMKM, kelompok inilah yang paling berpotensi merasakan manfaat langsung dari Rupiah Digital, terutama lewat biaya transaksi yang lebih rendah dan proses pencairan dana yang lebih cepat, sejalan dengan pembahasan sebelumnya soal efisiensi transaksi bisnis.
Generasi Muda
Data Bank Indonesia menunjukkan generasi Z dan milenial mendominasi penggunaan QRIS saat ini. Kelompok inilah yang kemungkinan besar akan menjadi adopter awal Rupiah Digital, mengingat mereka sudah sangat terbiasa dengan pembayaran digital dalam kehidupan sehari-hari.
Wisatawan dan Sektor Pariwisata
Dengan perluasan QRIS Cross Border yang terus digalakkan, sektor pariwisata berpotensi menjadi salah satu area awal yang merasakan manfaat interoperabilitas Rupiah Digital dengan mata uang digital negara lain di masa depan.
Tantangan yang Perlu Tetap Diperhatikan
Meski fondasinya sudah kuat, beberapa tantangan yang sudah dibahas dalam pembahasan sebelumnya tetap relevan di sini:
- Kesenjangan akses internet, yang masih menjadi kendala di sejumlah wilayah, meski adopsi QRIS sudah meluas di daerah perkotaan dan semi-perkotaan.
- Kebutuhan edukasi berkelanjutan, mengingat pengguna Rupiah Digital nantinya perlu memahami bahwa ini berbeda dari saldo e-wallet biasa, meski secara pengalaman pemakaian akan terasa mirip.
- Koordinasi dengan ekosistem QRIS dan BI-FAST yang sudah ada, memastikan integrasi berjalan mulus tanpa membingungkan masyarakat yang sudah terbiasa dengan sistem saat ini.
Tabel Ringkasan
| Aspek | Kondisi Saat Ini (QRIS/BI-FAST) | Potensi dengan Rupiah Digital |
|---|---|---|
| Pengguna | Mendekati 60 juta pengguna QRIS | Berpotensi memanfaatkan basis pengguna yang sama |
| Merchant | 39,3 juta, mayoritas UMKM | UMKM berpotensi jadi penerima manfaat utama |
| Transaksi antarbank | BI-FAST tumbuh pesat, triliunan rupiah | Wholesale Rupiah Digital memperkuat efisiensi ini |
| Lintas negara | QRIS Cross Border mulai diperluas | Berpotensi jadi fondasi interoperabilitas masa depan |
Penutup
Rupiah Digital berpotensi menjadi kelanjutan alami dari transformasi pembayaran digital yang sudah berjalan sangat baik di Indonesia lewat QRIS dan BI-FAST. Alih-alih memulai dari nol, Bank Indonesia punya modal besar berupa infrastruktur, kebiasaan masyarakat, dan basis merchant yang sudah terbangun kuat. Meski begitu, keberhasilan transisi ini tetap membutuhkan perhatian serius terhadap kesenjangan akses dan edukasi masyarakat, memastikan momentum positif yang sudah tercipta ini benar-benar bisa dilanjutkan secara mulus menuju era Rupiah Digital di masa depan.








