Pengantar

Setelah membahas apa itu Rupiah Digital dan perjalanan Proyek Garuda dalam pembahasan sebelumnya, kali ini kita akan melihat dari sudut pandang yang paling penting: bagaimana sebenarnya dampak Rupiah Digital ini bagi masyarakat Indonesia secara langsung? Yuk kita bahas peluang dan tantangan yang perlu dipahami masyarakat luas.

Bagaimana Kondisi Inklusi Keuangan Indonesia Saat Ini?

Sebelum membahas peluang Rupiah Digital, penting memahami dulu titik berangkat Indonesia saat ini. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan OJK bersama BPS, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia berada di angka 66,46%, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 80,51%, meningkat cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya. Pemerintah sendiri menargetkan inklusi keuangan mencapai 91% pada 2025 dan 93% pada 2029 lewat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.

Meski terus membaik, kesenjangan literasi dan inklusi ini menunjukkan bahwa masih ada gap yang cukup lebar, di mana sebagian masyarakat sudah memiliki akses ke layanan keuangan namun belum sepenuhnya memahami cara memanfaatkannya secara optimal.

Peluang Rupiah Digital bagi Masyarakat

1. Mempercepat Penutupan Gap Literasi-Inklusi

Seperti sudah dibahas dalam pembahasan sebelumnya soal inklusi keuangan, Rupiah Digital yang dirancang dengan akses lebih sederhana berpotensi membantu mempersempit kesenjangan antara masyarakat yang sudah memiliki akun keuangan formal dengan yang belum, terutama jika desainnya benar-benar memprioritaskan kemudahan bagi kelompok yang selama ini tertinggal.

2. Melanjutkan Kesuksesan QRIS

Indonesia sudah punya pengalaman positif dengan QRIS, yang berhasil mendorong adopsi pembayaran digital secara masif dalam waktu relatif singkat, bahkan menjangkau pedagang kaki lima sekalipun. Rupiah Digital berpotensi memanfaatkan momentum dan infrastruktur yang sudah terbangun lewat QRIS, mempercepat penerimaan masyarakat dibanding harus membangun kebiasaan baru dari nol.

3. Manfaat bagi Pekerja Migran dan Keluarga di Daerah

Seperti sudah dibahas dalam pembahasan sebelumnya soal remitansi PMI, Rupiah Digital berpotensi mempermudah dan memurahkan pengiriman uang, sekaligus mempermudah akses bagi keluarga penerima di daerah yang belum sepenuhnya terjangkau layanan perbankan formal.

4. Dukungan Penyaluran Bantuan Sosial yang Lebih Efisien

Sejalan dengan pembahasan sebelumnya soal penyaluran bantuan pemerintah, Rupiah Digital berpotensi mempercepat dan mempertepat sasaran program bantuan sosial pemerintah, seperti bantuan langsung tunai atau subsidi, yang selama ini masih menghadapi tantangan pada sisi kecepatan dan akurasi penyaluran.

Tantangan Nyata yang Perlu Dihadapi

1. Kesenjangan Infrastruktur Digital Antarwilayah

Sebagai negara kepulauan yang sangat luas, seperti sudah disinggung dalam pembahasan sebelumnya, masih ada wilayah di Indonesia dengan akses internet terbatas. Tanpa penyelesaian masalah infrastruktur dasar ini, manfaat Rupiah Digital berisiko hanya dirasakan masyarakat perkotaan, sementara daerah terpencil kembali tertinggal.

2. Populasi Unbanked yang Masih Besar

Meski indeks inklusi keuangan terus membaik, sejumlah kajian independen mencatat bahwa proporsi penduduk dewasa Indonesia yang belum memiliki rekening bank (unbanked) maupun yang tergolong underbanked masih cukup signifikan. Ini menegaskan pentingnya desain Rupiah Digital yang benar-benar ramah bagi kelompok ini, seperti sudah dibahas dalam pembahasan sebelumnya soal masyarakat yang belum memiliki rekening bank.

3. Kesenjangan Literasi Keuangan dan Digital

Dengan indeks literasi keuangan yang masih di angka 66,46%, lebih rendah dibanding indeks inklusinya, ada risiko masyarakat memiliki akses terhadap Rupiah Digital tanpa benar-benar memahami cara memakainya dengan bijak dan aman, sejalan dengan pembahasan sebelumnya soal pentingnya literasi digital sebagai kunci keberhasilan CBDC.

4. Kepercayaan terhadap Sistem Baru

Sebagai instrumen yang sepenuhnya baru, membangun kepercayaan masyarakat terhadap Rupiah Digital membutuhkan waktu, terutama bagi kelompok yang masih sangat terbiasa dengan uang tunai, seperti sudah dibahas dalam pembahasan sebelumnya soal kesiapan masyarakat meninggalkan uang tunai.

5. Perlindungan Kelompok Rentan

Otoritas terkait, termasuk OJK, sudah mulai memperhatikan kebutuhan kelompok rentan dalam literasi keuangan, termasuk penyandang disabilitas, lewat berbagai program edukasi yang mulai dikembangkan. Kebutuhan serupa juga perlu diperhatikan secara khusus dalam desain dan sosialisasi Rupiah Digital ke depannya.

Bagaimana Peluang dan Tantangan Ini Bisa Diseimbangkan?

Pendekatan bertahap yang sudah dijalankan Bank Indonesia lewat Proyek Garuda, seperti sudah dibahas dalam pembahasan sebelumnya, sebenarnya menjadi salah satu strategi tepat untuk mengelola keseimbangan ini. Dengan memulai dari tahap wholesale sebelum melangkah ke ritel, Bank Indonesia punya waktu untuk terus memantau kesiapan infrastruktur dan literasi masyarakat, sekaligus menyempurnakan desain sistem berdasarkan pembelajaran dari tahap-tahap awal.

Tabel Ringkasan

Aspek Peluang Tantangan
Inklusi keuangan Mempercepat penutupan gap literasi-inklusi Populasi unbanked masih signifikan
Infrastruktur Memanfaatkan momentum kesuksesan QRIS Kesenjangan akses internet antarwilayah
Remitansi & bantuan sosial Lebih cepat, murah, dan tepat sasaran Butuh interoperabilitas & sistem matang
Kepercayaan masyarakat Jaminan penuh negara Butuh waktu membangun kepercayaan pada sistem baru

Penutup

Rupiah Digital membawa peluang nyata untuk memperkuat inklusi keuangan Indonesia, memanfaatkan momentum positif yang sudah terbangun lewat QRIS, sekaligus membuka jalan bagi manfaat konkret seperti remitansi yang lebih murah dan penyaluran bantuan sosial yang lebih efisien. Namun, tantangan seperti kesenjangan infrastruktur, populasi unbanked yang masih besar, dan gap literasi keuangan, menegaskan bahwa keberhasilan Rupiah Digital tidak bisa hanya mengandalkan kecanggihan teknologi semata. Dibutuhkan kerja sama menyeluruh antara Bank Indonesia, OJK, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan, memastikan manfaat Rupiah Digital ini benar-benar bisa dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia, bukan hanya mereka yang sudah lebih dulu siap secara digital.