Bagaimana Algoritma Menentukan Nasib Pekerja Gig?
Pendahuluan
Perkembangan platform digital telah mengubah cara masyarakat bekerja. Saat ini, banyak orang memperoleh penghasilan melalui aplikasi transportasi daring, layanan pengiriman, platform freelance, marketplace jasa, hingga media sosial. Para pekerja dalam sistem ini dikenal sebagai pekerja gig, yaitu individu yang bekerja berdasarkan tugas, proyek, pesanan, atau permintaan tertentu.
Di balik kemudahan tersebut, terdapat sistem yang bekerja secara otomatis dan tidak selalu terlihat oleh pengguna. Sistem itu adalah algoritma. Algoritma berperan dalam menentukan berbagai hal, mulai dari pekerjaan yang ditawarkan, urutan pencarian, jumlah pesanan yang diterima, hingga penilaian terhadap kinerja pekerja.
Bagi sebagian pekerja gig, algoritma dapat menjadi alat yang membantu memperoleh lebih banyak peluang. Namun, bagi sebagian lainnya, algoritma juga dapat terasa seperti sistem yang menentukan nasib mereka tanpa penjelasan yang jelas. Karena itu, penting untuk memahami bagaimana algoritma memengaruhi kehidupan dan penghasilan pekerja gig.
Apa Itu Algoritma dalam Platform Digital?
Secara sederhana, algoritma adalah serangkaian aturan atau proses yang digunakan oleh sistem komputer untuk mengambil keputusan berdasarkan data tertentu. Dalam platform digital, algoritma digunakan untuk mengatur dan menghubungkan banyak pengguna secara cepat.
Misalnya, dalam aplikasi transportasi daring, algoritma dapat membantu menentukan pengemudi yang menerima pesanan berdasarkan lokasi, ketersediaan, jarak, atau faktor lain yang digunakan oleh sistem. Pada platform freelance, algoritma dapat menentukan proyek atau profil pekerja mana yang lebih mudah ditemukan oleh calon klien.
Algoritma bekerja dengan mengolah berbagai data yang tersedia. Data tersebut dapat berupa riwayat pekerjaan, tingkat penyelesaian tugas, waktu respons, penilaian pelanggan, lokasi, aktivitas pengguna, dan informasi lain yang berkaitan dengan penggunaan platform.
Dengan kata lain, algoritma menjadi semacam “pengatur digital” yang menghubungkan permintaan pelanggan dengan pekerja yang tersedia.
Algoritma Menentukan Siapa yang Mendapat Pekerjaan
Salah satu pengaruh terbesar algoritma adalah menentukan peluang pekerja untuk memperoleh pekerjaan atau pesanan. Ketika banyak pekerja tersedia dalam satu wilayah atau platform, sistem harus memilih siapa yang akan menerima tugas tertentu.
Pemilihan tersebut dapat mempertimbangkan berbagai faktor, seperti:
- Lokasi atau jarak pekerja dari pelanggan
- Status pekerja, apakah sedang aktif atau tidak
- Riwayat penyelesaian pekerjaan
- Kecepatan menerima atau merespons pesanan
- Penilaian dan ulasan dari pelanggan
- Tingkat pembatalan pekerjaan
- Pengalaman atau keahlian yang dimiliki
- Aktivitas pekerja di dalam platform
Setiap platform dapat menggunakan sistem yang berbeda. Selain itu, cara kerja algoritma juga dapat berubah seiring waktu. Karena tidak semua aturan dijelaskan secara terbuka, pekerja sering kali hanya mengetahui hasilnya, seperti lebih banyak atau lebih sedikit pesanan yang diterima.
Kondisi ini membuat sebagian pekerja berusaha menyesuaikan perilaku mereka dengan sistem agar tetap memperoleh peluang kerja.
Rating dan Ulasan Menjadi Penentu Reputasi
Sistem rating dan ulasan merupakan bagian penting dalam banyak platform gig. Setelah pekerjaan selesai, pelanggan biasanya dapat memberikan penilaian terhadap kualitas layanan yang diterima.
Rating yang tinggi dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan dan membantu pekerja memperoleh lebih banyak peluang. Sebaliknya, penilaian rendah dapat memengaruhi reputasi dan tingkat kepercayaan pengguna lain.
Dalam beberapa platform, rating dapat menjadi salah satu data yang dipertimbangkan oleh algoritma. Oleh karena itu, pekerja sering merasa perlu menjaga kualitas pelayanan, berkomunikasi dengan baik, dan memenuhi harapan pelanggan.
Namun, sistem rating juga memiliki kelemahan. Penilaian pelanggan tidak selalu menggambarkan seluruh kondisi yang terjadi. Keterlambatan, kesalahan informasi, masalah teknis, atau kondisi di luar kendali pekerja dapat memengaruhi pengalaman pelanggan. Jika penilaian tersebut langsung berdampak pada peluang kerja, pekerja dapat merasa dirugikan.
Karena itu, sistem ulasan sebaiknya menyediakan mekanisme yang adil agar pekerja dapat memberikan penjelasan atau mengajukan keberatan terhadap penilaian yang dianggap tidak sesuai.
Performa Pekerja Direkam sebagai Data
Dalam sistem kerja digital, banyak aktivitas pekerja dapat dicatat secara otomatis. Waktu mulai bekerja, jumlah pesanan yang diterima, tingkat penyelesaian tugas, kecepatan respons, hingga jumlah pembatalan dapat menjadi bagian dari data kinerja.
Data tersebut kemudian dapat digunakan oleh algoritma untuk menilai pola aktivitas pekerja. Semakin konsisten dan aktif seorang pekerja, semakin besar kemungkinan sistem menganggap pekerja tersebut dapat diandalkan.
Namun, pengukuran kinerja berdasarkan data juga memiliki keterbatasan. Angka tidak selalu mampu menjelaskan kondisi sebenarnya. Seorang pekerja mungkin menolak pekerjaan karena jaraknya terlalu jauh, biaya yang tidak sebanding, atau terdapat kendala tertentu. Jika sistem hanya melihat tindakan penolakan tanpa memahami alasannya, hasil penilaian dapat menjadi kurang adil.
Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan data perlu disertai dengan pemahaman terhadap kondisi manusia di balik angka-angka tersebut.
Algoritma Dapat Memengaruhi Jumlah Penghasilan
Dalam gig economy, jumlah pekerjaan yang diterima sering kali berhubungan langsung dengan penghasilan. Jika pekerja memperoleh banyak pesanan atau proyek, pendapatan dapat meningkat. Sebaliknya, ketika peluang kerja berkurang, penghasilan juga dapat menurun.
Karena algoritma berperan dalam mendistribusikan pekerjaan, perubahan pada sistem dapat memberikan dampak besar terhadap pendapatan pekerja. Pekerja mungkin mengalami penurunan jumlah pesanan tanpa mengetahui penyebabnya secara pasti.

Selain itu, beberapa platform menggunakan sistem insentif atau bonus berdasarkan target tertentu. Algoritma dapat membantu menghitung jumlah tugas yang diselesaikan, waktu aktif, atau pencapaian target pekerja.
Sistem tersebut dapat mendorong produktivitas. Namun, jika target terlalu tinggi atau aturan berubah secara mendadak, pekerja dapat merasa tertekan untuk bekerja lebih lama demi mempertahankan pendapatan.
Ketika Pekerja Berusaha Mengikuti Kemauan Algoritma
Karena peluang kerja dipengaruhi oleh sistem digital, banyak pekerja mencoba memahami pola algoritma. Mereka dapat mengubah jam kerja, memilih lokasi tertentu, meningkatkan kecepatan respons, atau berusaha mempertahankan rating tinggi.
Fenomena ini sering disebut sebagai upaya “menyesuaikan diri dengan algoritma”. Pekerja tidak hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, tetapi juga berusaha memenuhi indikator yang dianggap penting oleh sistem.
Dalam kondisi tertentu, pekerja dapat merasa harus selalu aktif agar tidak kehilangan kesempatan. Mereka mungkin bekerja lebih lama atau menerima pekerjaan yang kurang menguntungkan karena khawatir aktivitas mereka akan memengaruhi penilaian sistem.
Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan untuk terus mengikuti algoritma dapat meningkatkan risiko kelelahan dan mengganggu keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi.
Kurangnya Transparansi Menjadi Tantangan
Salah satu persoalan utama dalam penggunaan algoritma adalah kurangnya transparansi. Banyak pekerja tidak mengetahui secara pasti bagaimana sistem menentukan urutan, membagikan pekerjaan, atau menilai performa mereka.
Platform memang memiliki alasan untuk tidak membuka seluruh sistem agar teknologi tidak mudah disalahgunakan. Namun, kurangnya informasi dapat membuat pekerja sulit memahami alasan di balik keputusan yang memengaruhi pendapatan mereka.
Misalnya, seorang pekerja mungkin mengalami penurunan jumlah pesanan, tetapi tidak mengetahui apakah penyebabnya adalah perubahan permintaan, persaingan, penilaian pelanggan, lokasi, atau pembaruan sistem.
Transparansi tidak selalu berarti membuka seluruh kode atau rumus algoritma. Platform dapat memberikan penjelasan yang mudah dipahami mengenai faktor utama yang memengaruhi peluang kerja, penilaian kinerja, dan keputusan penting lainnya.
Risiko Bias dalam Sistem Algoritma
Algoritma dibuat dan dikembangkan oleh manusia. Karena menggunakan data dan aturan tertentu, sistem tersebut dapat menghasilkan keputusan yang tidak selalu netral.
Bias dapat muncul dari data yang tidak lengkap, aturan yang kurang tepat, atau pola lama yang terbawa ke dalam sistem. Jika tidak diperiksa secara berkala, algoritma dapat memberikan keuntungan lebih besar kepada kelompok pekerja tertentu atau menciptakan ketimpangan dalam pembagian peluang.
Selain itu, sistem yang terlalu bergantung pada angka dapat mengabaikan kondisi yang tidak dapat diukur secara otomatis. Oleh sebab itu, platform perlu melakukan evaluasi secara rutin untuk memastikan bahwa algoritma bekerja secara adil dan tidak merugikan pekerja tertentu.
Pentingnya Perlindungan dan Pengawasan
Penggunaan algoritma dalam dunia kerja perlu disertai dengan perlindungan bagi pekerja. Ketika keputusan sistem memengaruhi penghasilan dan kesempatan kerja, pekerja seharusnya memiliki akses terhadap informasi yang jelas.
Beberapa hal yang penting untuk diperhatikan antara lain:
- Penjelasan mengenai faktor utama yang memengaruhi pembagian pekerjaan
- Informasi yang jelas tentang perubahan aturan platform
- Kesempatan bagi pekerja untuk mengajukan keberatan
- Mekanisme peninjauan terhadap keputusan otomatis
- Perlindungan terhadap penggunaan data yang tidak adil
- Evaluasi rutin untuk mengurangi risiko bias
Pekerja juga perlu memiliki kesempatan untuk berkomunikasi dengan pihak yang dapat membantu ketika terjadi masalah. Keputusan penting yang berdampak besar sebaiknya tidak hanya bergantung pada sistem otomatis tanpa adanya proses peninjauan.
Kesimpulan
Algoritma memiliki peran besar dalam menentukan pengalaman kerja para pekerja gig. Sistem ini dapat mengatur pembagian pekerjaan, menilai performa, memengaruhi reputasi, menentukan peluang, serta berdampak pada jumlah penghasilan.
Di satu sisi, algoritma membuat platform digital mampu bekerja dengan cepat dan menghubungkan banyak pekerja dengan pelanggan. Di sisi lain, penggunaan algoritma dapat menimbulkan tantangan ketika cara kerjanya tidak transparan, sulit dipahami, atau menghasilkan keputusan yang dianggap tidak adil.
Oleh karena itu, perkembangan gig economy perlu diimbangi dengan penggunaan teknologi yang bertanggung jawab. Platform perlu meningkatkan transparansi, menyediakan mekanisme keberatan, serta memastikan bahwa sistem tidak hanya mengejar efisiensi, tetapi juga memperhatikan keadilan dan kesejahteraan pekerja.
Pada akhirnya, algoritma seharusnya menjadi alat untuk membantu pekerja memperoleh peluang, bukan menjadi sistem yang menentukan masa depan mereka tanpa penjelasan dan tanpa ruang untuk didengar.






