Pendahuluan
Perkembangan Large Language Model (LLM) telah mengubah cara pengembang perangkat lunak menulis kode dan memilih library atau package. AI kini mampu merekomendasikan dependensi, membuat konfigurasi proyek, hingga menghasilkan kode secara otomatis. Teknologi ini membantu mempercepat proses pengembangan dan meningkatkan produktivitas developer.
Namun, di balik kemudahan tersebut terdapat ancaman serius berupa halusinasi AI (AI Hallucination). Halusinasi terjadi ketika AI menghasilkan informasi yang tampak benar, tetapi sebenarnya tidak akurat. Salah satu dampaknya adalah AI merekomendasikan nama dependency atau package yang tidak ada. Kondisi ini dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber melalui teknik Dependency Hijacking, yaitu membuat package dengan nama yang direkomendasikan AI untuk menyisipkan malware atau kode berbahaya.
Apa Itu Dependency Hijacking?
Dependency Hijacking adalah teknik serangan siber yang memanfaatkan mekanisme pengelolaan dependensi pada perangkat lunak. Penyerang membuat package dengan nama tertentu agar sistem atau pengembang secara tidak sengaja mengunduh dan menggunakannya.
Ketika AI mengalami halusinasi dan merekomendasikan package yang sebenarnya belum ada, peretas dapat segera membuat package dengan nama tersebut di repositori publik. Akibatnya, developer yang mempercayai rekomendasi AI berpotensi menginstal package berbahaya ke dalam proyeknya.
Hubungan Halusinasi AI dengan Dependency Hijacking
LLM menghasilkan rekomendasi berdasarkan pola dari data pelatihannya, bukan dengan memverifikasi apakah suatu package benar-benar tersedia atau aman digunakan. Karena itu, AI dapat menyebutkan nama library yang terdengar meyakinkan tetapi tidak pernah dipublikasikan.
Peretas kemudian memanfaatkan peluang tersebut dengan:
- Mengidentifikasi nama package hasil halusinasi AI.
- Membuat package menggunakan nama yang sama.
- Menyisipkan malware, backdoor, atau script berbahaya.
- Mengunggah package ke repositori publik.
- Menunggu developer menginstal package tersebut berdasarkan rekomendasi AI.
Serangan ini berbahaya karena developer sering kali tidak menyadari bahwa package yang digunakan berasal dari sumber yang tidak terpercaya.

Dampak Dependency Hijacking
Apabila package hasil hijacking berhasil digunakan dalam suatu proyek, berbagai risiko keamanan dapat terjadi, antara lain:
- Penyisipan malware ke dalam aplikasi.
- Pencurian API Key, token, dan kredensial.
- Kebocoran data sensitif pengguna maupun perusahaan.
- Terpasangnya backdoor yang memungkinkan akses tidak sah.
- Gangguan terhadap proses build dan deployment.
- Kompromi terhadap software supply chain.
- Kerugian finansial serta menurunnya reputasi organisasi.
Jika package tersebut digunakan dalam aplikasi berskala besar, dampaknya dapat menyebar ke ribuan bahkan jutaan pengguna.
Cara Mencegah Dependency Hijacking
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko Dependency Hijacking adalah:
- Memverifikasi nama package melalui repositori resmi sebelum melakukan instalasi.
- Memeriksa jumlah unduhan, reputasi pengembang, dan dokumentasi package.
- Menggunakan Software Composition Analysis (SCA) untuk mendeteksi dependensi berisiko.
- Melakukan audit terhadap seluruh dependency yang digunakan dalam proyek.
- Mengunci versi dependency menggunakan file seperti
package-lock.json,poetry.lock, ataurequirements.txt. - Tidak langsung mempercayai rekomendasi AI tanpa proses validasi.
- Menggunakan repository internal atau allowlist untuk package yang telah diverifikasi.
Pentingnya Verifikasi Rekomendasi AI
AI merupakan alat bantu yang sangat bermanfaat, tetapi bukan sumber kebenaran mutlak. Setiap rekomendasi package atau dependency harus diperiksa kembali sebelum digunakan. Verifikasi terhadap nama package, sumber repository, dan reputasi pengembang menjadi langkah penting untuk mencegah masuknya kode berbahaya ke dalam aplikasi.
Kesimpulan
Dependency Hijacking merupakan ancaman nyata yang dapat memanfaatkan halusinasi pada Large Language Model. Ketika AI merekomendasikan dependency yang tidak benar, pelaku kejahatan siber dapat membuat package palsu dengan nama yang sama dan menyisipkan malware ke dalam proyek perangkat lunak. Oleh karena itu, setiap rekomendasi AI harus melalui proses verifikasi, audit keamanan, dan pemeriksaan sumber package sebelum digunakan. Dengan menerapkan praktik pengelolaan dependency yang aman, organisasi dapat memanfaatkan AI tanpa meningkatkan risiko terhadap keamanan software maupun software supply chain.









