Pengantar
Kalau kamu perhatikan pembahasan-pembahasan sebelumnya soal CBDC, ada satu istilah yang terus muncul berulang kali sebagai solusi berbagai risiko: batas kepemilikan CBDC, atau holding limit. Konsep ini ternyata menjadi salah satu elemen desain paling penting dalam pengembangan CBDC di hampir semua negara. Yuk kita bahas lebih dalam apa itu batas kepemilikan CBDC dan kenapa penerapannya dianggap begitu krusial.
Apa Itu Batas Kepemilikan CBDC?
Batas kepemilikan CBDC adalah kebijakan yang menetapkan jumlah maksimal saldo CBDC yang boleh dimiliki atau disimpan oleh setiap individu maupun entitas dalam suatu periode tertentu. Artinya, meski secara teknis masyarakat bisa memiliki CBDC dalam jumlah besar, aturan ini membatasi agar saldo tersebut tidak melebihi ambang batas yang sudah ditetapkan bank sentral.
Kenapa Batas Kepemilikan Ini Dianggap Penting?
1. Mencegah Risiko Disintermediasi Perbankan
Seperti sudah dibahas dalam pembahasan sebelumnya, salah satu kekhawatiran terbesar CBDC adalah potensi masyarakat memindahkan dana besar-besaran dari bank komersial ke CBDC. Dengan menetapkan batas kepemilikan, risiko perpindahan dana dalam skala besar bisa lebih terkendali, karena masyarakat tidak bisa menyimpan seluruh kekayaan mereka dalam bentuk CBDC.
2. Menjaga Fungsi CBDC sebagai Alat Transaksi, Bukan Instrumen Investasi
Batas kepemilikan membantu menegaskan bahwa CBDC dirancang sebagai alat pembayaran sehari-hari, bukan sebagai instrumen penyimpanan kekayaan dalam jumlah besar, sehingga fungsinya tetap sejalan dengan tujuan awal penciptaannya.
3. Mengurangi Risiko Penarikan Dana Massal (Bank Run)
Dengan batas kepemilikan yang jelas, potensi terjadinya penarikan dana massal dari bank ke CBDC secara tiba-tiba, seperti yang sudah dibahas sebelumnya soal risiko digital bank run, bisa diminimalkan, karena ada batasan alami terhadap seberapa besar dana yang bisa dipindahkan setiap individu.
4. Mempermudah Pengendalian Kebijakan Moneter
Dengan mengontrol jumlah maksimal CBDC yang beredar di tangan setiap individu, bank sentral juga lebih mudah memperkirakan dan mengendalikan total CBDC yang beredar secara keseluruhan, mendukung efektivitas kebijakan moneter yang sedang dijalankan.
Bagaimana Bank Sentral Menentukan Besaran Batas Kepemilikan?
Penentuan besaran batas kepemilikan CBDC biasanya mempertimbangkan beberapa faktor, seperti:

- Kebutuhan transaksi harian rata-rata masyarakat, memastikan batas yang ditetapkan tetap cukup untuk kebutuhan transaksi normal sehari-hari.
- Kondisi sistem perbankan domestik, termasuk seberapa besar potensi dampaknya terhadap likuiditas bank jika batas ditetapkan terlalu tinggi.
- Tingkat literasi dan adopsi digital masyarakat, di mana batas yang terlalu rendah di awal peluncuran bisa membatasi kegunaan CBDC, sementara batas yang terlalu tinggi bisa meningkatkan risiko sistemik.
Apakah Batas Ini Bersifat Tetap atau Bisa Berubah?
Batas kepemilikan CBDC umumnya tidak bersifat kaku selamanya. Bank sentral biasanya menerapkan pendekatan bertahap, dimulai dengan batas yang relatif rendah pada tahap awal peluncuran, kemudian secara perlahan dinaikkan seiring meningkatnya kepercayaan dan kesiapan sistem, baik dari sisi infrastruktur teknologi maupun kesiapan sistem perbankan dalam mengantisipasi dampaknya.
Contoh Ilustrasi Penerapan
Sebagai gambaran, bank sentral bisa saja menetapkan batas kepemilikan CBDC untuk individu di angka tertentu yang cukup untuk kebutuhan transaksi bulanan rata-rata masyarakat, sementara batas untuk badan usaha bisa ditetapkan berbeda, disesuaikan dengan kebutuhan operasional bisnis mereka yang umumnya lebih besar dibanding kebutuhan transaksi individu.
Tantangan dalam Menerapkan Batas Kepemilikan
Meski penting, penerapan batas kepemilikan CBDC juga punya sejumlah tantangan:
- Menentukan angka yang tepat — batas yang terlalu rendah bisa membatasi kegunaan CBDC, sementara batas yang terlalu tinggi bisa mengurangi efektivitas mitigasi risiko yang diharapkan.
- Potensi celah penyalahgunaan — ada kemungkinan sebagian pihak mencoba menyiasati batas ini dengan membuka banyak akun atas nama berbeda, sehingga dibutuhkan sistem verifikasi identitas yang kuat untuk mencegah praktik ini.
- Penyesuaian berkala — bank sentral perlu terus memantau dan menyesuaikan batas ini seiring perkembangan adopsi CBDC dan kondisi ekonomi yang terus berubah.
Tabel Ringkasan
| Tujuan Batas Kepemilikan | Penjelasan Singkat |
|---|---|
| Mencegah disintermediasi bank | Membatasi perpindahan dana besar dari bank ke CBDC |
| Menjaga fungsi transaksi CBDC | Mencegah CBDC dipakai sebagai instrumen investasi besar |
| Mengurangi risiko bank run digital | Membatasi kecepatan dan skala perpindahan dana |
| Mendukung kebijakan moneter | Mempermudah pengendalian jumlah CBDC yang beredar |
Penutup
Batas kepemilikan CBDC menjadi salah satu elemen desain paling penting yang membantu menyeimbangkan antara manfaat dan risiko yang dibawa oleh kehadiran CBDC. Lewat batasan ini, bank sentral berusaha memastikan CBDC tetap berfungsi sesuai tujuan awalnya sebagai alat pembayaran yang efisien, tanpa menimbulkan gangguan besar terhadap stabilitas sistem perbankan dan keuangan secara keseluruhan.









