Pengantar
Dalam kategori penyalahgunaan aset berupa kas, terdapat satu bentuk kecurangan yang cukup unik karena justru terjadi setelah proses pencatatan dilakukan, bukan sebelumnya. Bentuk ini dikenal dengan istilah cash larceny, yaitu pencurian uang tunai milik perusahaan yang dilakukan setelah penerimaan tersebut sudah tercatat resmi ke dalam sistem pembukuan.
Cash larceny sering kali dianggap mirip dengan skimming, padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar yang penting dipahami. Perbedaan waktu terjadinya pencurian, yaitu sebelum atau sesudah pencatatan, sangat memengaruhi cara mendeteksi dan menanganinya, karena masing-masing meninggalkan jejak yang berbeda dalam sistem pembukuan perusahaan.
Artikel ini akan membahas pengertian cash larceny, perbedaannya dengan skimming, bentuk-bentuk modusnya, contoh kasus, hingga cara mendeteksi dan mencegahnya.
Apa Itu Cash Larceny
Cash larceny adalah tindakan pencurian uang tunai milik perusahaan yang dilakukan setelah uang tersebut dicatat sebagai penerimaan resmi dalam sistem pembukuan. Artinya, transaksi penerimaan uang sudah tercatat dengan benar, namun pelaku kemudian mengambil sebagian atau seluruh uang tersebut sebelum sempat disetorkan ke bank atau digunakan sesuai peruntukannya.
Karena penerimaan sudah tercatat lebih dulu, cash larceny biasanya meninggalkan jejak berupa selisih antara jumlah uang yang seharusnya ada secara fisik dengan catatan pembukuan, sehingga jenis fraud ini sebenarnya relatif lebih mudah dideteksi dibandingkan skimming, asalkan organisasi melakukan pengecekan kas secara rutin.
Perbedaan Cash Larceny dengan Skimming
Perbedaan mendasar antara cash larceny dan skimming terletak pada waktu terjadinya pencurian dalam alur pencatatan keuangan. Pada skimming, uang diambil sebelum sempat dicatat sebagai penerimaan, sehingga penerimaan yang tercatat dalam pembukuan memang sudah lebih kecil dari yang seharusnya sejak awal, dan sulit dideteksi karena tidak ada selisih yang tercatat dalam sistem.
Pada cash larceny, uang justru diambil setelah tercatat sebagai penerimaan resmi, sehingga akan muncul selisih yang jelas antara jumlah uang fisik dengan catatan pembukuan. Selisih inilah yang menjadi celah utama bagi organisasi untuk mendeteksi terjadinya cash larceny melalui proses rekonsiliasi kas secara rutin.
Bentuk-Bentuk Modus Cash Larceny
Cash larceny dapat terjadi dalam beberapa bentuk modus, tergantung pada titik mana dalam alur kas perusahaan pencurian tersebut dilakukan.
- Pencurian dari laci kas atau brankas, yaitu pengambilan uang tunai secara langsung dari tempat penyimpanan kas setelah transaksi tercatat, misalnya oleh kasir atau petugas yang memiliki akses langsung terhadap kas harian.
- Pencurian dari setoran bank, yaitu pengambilan sebagian uang sebelum disetorkan ke bank, meskipun jumlah penerimaan sudah tercatat lengkap dalam pembukuan internal.
- Pencurian pada saat rekonsiliasi, yaitu memanfaatkan celah waktu antara pencatatan dan proses rekonsiliasi kas untuk mengambil sebagian uang, kemudian berusaha menutupi selisih tersebut dengan berbagai alasan administratif.
- Pencurian yang disertai manipulasi dokumen pendukung, misalnya membuat bukti setoran palsu atau memalsukan slip bank agar selisih kas tidak terlihat saat pemeriksaan.
Contoh Sederhana Kasus Cash Larceny
Untuk memahami lebih mudah, bayangkan seorang kasir toko yang mencatat seluruh penjualan hari itu dengan benar ke dalam sistem kasir, sehingga total penerimaan yang tercatat sudah sesuai dengan transaksi yang terjadi. Namun, sebelum menyetorkan uang tersebut ke bagian keuangan, kasir tersebut mengambil sebagian uang tunai dari laci kas untuk kepentingan pribadi.

Ketika bagian keuangan melakukan pengecekan, akan muncul selisih antara jumlah uang yang seharusnya disetorkan sesuai catatan penjualan dengan jumlah uang yang benar-benar diterima secara fisik. Selisih inilah yang menjadi tanda awal terjadinya cash larceny, dan jika tidak segera ditelusuri, pelaku bisa saja mengulangi tindakan serupa secara berkala.
Mengapa Cash Larceny Perlu Diwaspadai
Meskipun secara teori cash larceny lebih mudah dideteksi dibandingkan skimming karena meninggalkan jejak selisih yang jelas, bukan berarti jenis fraud ini bisa dianggap remeh. Beberapa alasan mengapa cash larceny tetap perlu diwaspadai antara lain:
- Jika proses rekonsiliasi kas tidak dilakukan secara rutin dan disiplin, selisih yang muncul bisa saja tidak segera terdeteksi dalam waktu lama.
- Pelaku yang memahami celah dalam proses rekonsiliasi dapat mencari cara untuk menutupi selisih tersebut, misalnya dengan memanipulasi dokumen pendukung.
- Jika dilakukan secara berulang dalam jumlah kecil, akumulasi kerugian dalam jangka panjang bisa menjadi cukup signifikan bagi perusahaan.
- Kepercayaan yang diberikan kepada karyawan pemegang kas sering kali membuat pengawasan menjadi kurang ketat, sehingga celah untuk melakukan cash larceny tetap terbuka.
Cara Mendeteksi Cash Larceny
Beberapa langkah yang dapat dilakukan organisasi untuk mendeteksi potensi cash larceny antara lain:
- Melakukan rekonsiliasi kas secara harian atau berkala, membandingkan catatan penerimaan dengan jumlah uang fisik yang ada.
- Memeriksa kesesuaian antara bukti setoran bank dengan catatan penerimaan kas internal secara rutin.
- Melakukan pengecekan mendadak atau surprise cash count pada kas kecil maupun kas besar untuk mengurangi celah bagi pelaku menutupi selisih.
- Memantau pola selisih kas dari waktu ke waktu untuk mengidentifikasi apakah ada indikasi kejadian yang berulang.
Upaya Pencegahan Cash Larceny
Untuk mencegah terjadinya cash larceny, organisasi dapat menerapkan beberapa langkah berikut:
- Menerapkan pemisahan tugas antara pihak yang mencatat penerimaan, pihak yang menyimpan kas, dan pihak yang melakukan penyetoran ke bank.
- Mempersingkat jeda waktu antara penerimaan kas dengan proses penyetoran, agar semakin kecil kesempatan bagi pelaku untuk mengambil sebagian uang sebelum disetorkan.
- Menerapkan sistem otorisasi berlapis untuk setiap pengambilan uang dari kas maupun brankas perusahaan.
- Memberikan pelatihan dan penegasan mengenai prosedur pengelolaan kas kepada seluruh karyawan yang memiliki akses terhadap kas perusahaan.
Kesimpulan
Cash larceny merupakan bentuk penyalahgunaan aset berupa pencurian uang tunai yang terjadi setelah penerimaan tersebut tercatat resmi dalam pembukuan perusahaan. Berbeda dengan skimming yang terjadi sebelum pencatatan, cash larceny meninggalkan jejak berupa selisih kas yang sebenarnya dapat lebih mudah dideteksi melalui proses rekonsiliasi yang rutin dan disiplin.
Dengan memahami modus, tanda-tanda, dan cara pencegahannya, organisasi dapat memperketat pengendalian terhadap alur kas, mulai dari penerimaan hingga penyetoran, sehingga celah bagi terjadinya cash larceny dapat diminimalisir sejak dini.







