Pengantar
Di balik berbagai manfaat besar yang ditawarkan CBDC, ada satu risiko serius yang perlu mendapat perhatian khusus, yaitu potensi memperlebar kesenjangan digital di masyarakat. Kalau tidak dikelola dengan hati-hati, teknologi yang seharusnya mendorong inklusi keuangan justru bisa menciptakan jurang baru antara mereka yang siap dan yang tertinggal. Yuk kita bahas lebih dalam risiko ini secara menyeluruh.
Apa Itu Kesenjangan Digital?
Kesenjangan digital merujuk pada perbedaan akses, kemampuan, dan pemanfaatan teknologi digital antar kelompok masyarakat. Dalam konteks CBDC, kesenjangan ini bisa muncul dalam berbagai dimensi yang saling terkait satu sama lain.
Dimensi-Dimensi Kesenjangan Digital dalam Konteks CBDC
1. Kesenjangan Akses
Ini mencakup ketersediaan infrastruktur dasar seperti internet, listrik, dan perangkat digital. Seperti sudah dibahas dalam pembahasan sebelumnya soal tantangan di daerah terpencil, tanpa akses dasar ini, masyarakat secara praktis tidak bisa memanfaatkan CBDC sama sekali, betapapun bagus desain sistemnya.
2. Kesenjangan Kemampuan (Skill Gap)
Meski memiliki akses terhadap perangkat dan internet, tidak semua orang memiliki kemampuan yang cukup untuk mengoperasikan aplikasi digital dengan percaya diri. Kesenjangan ini terlihat jelas antara generasi muda yang tumbuh dengan teknologi, dan kelompok lain yang membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi, seperti sudah dibahas dalam pembahasan sebelumnya soal lansia.
3. Kesenjangan Pemanfaatan
Bahkan di antara masyarakat yang sudah memiliki akses dan kemampuan dasar, ada perbedaan seberapa optimal mereka memanfaatkan teknologi ini. Sebagian mungkin hanya memakai fitur paling dasar, sementara yang lain bisa memanfaatkan CBDC secara lebih maksimal untuk berbagai kebutuhan finansial mereka.
4. Kesenjangan Ekonomi
Kelompok masyarakat berpenghasilan rendah mungkin memiliki keterbatasan dalam membeli perangkat digital yang memadai, atau bahkan biaya pulsa data untuk mengakses internet secara rutin, menciptakan hambatan ekonomi tambahan di atas hambatan akses dan kemampuan yang sudah ada.
Siapa Saja yang Berisiko Paling Terdampak?
Beberapa kelompok yang berisiko paling rentan mengalami kesenjangan digital dalam konteks CBDC antara lain:
- Masyarakat di daerah terpencil, dengan keterbatasan infrastruktur dasar.
- Kelompok lansia, yang membutuhkan pendekatan adaptasi berbeda.
- Masyarakat berpenghasilan rendah, yang mungkin kesulitan mengakses perangkat dan biaya data secara konsisten.
- Penyandang disabilitas, yang mungkin membutuhkan desain aplikasi dengan fitur aksesibilitas khusus yang belum tentu tersedia sejak awal.
- Masyarakat dengan literasi pendidikan formal terbatas, yang mungkin kesulitan memahami instruksi teknis meski secara fisik memiliki akses ke perangkat digital.
Dampak Jika Kesenjangan Ini Tidak Diatasi
Kalau risiko kesenjangan digital ini dibiarkan tanpa penanganan serius, beberapa dampak negatif yang berpotensi muncul antara lain:

- Eksklusi finansial yang justru meningkat, alih-alih tujuan awal CBDC untuk mendorong inklusi keuangan.
- Ketimpangan ekonomi yang semakin lebar, karena kelompok yang sudah lebih siap secara digital akan semakin diuntungkan, sementara kelompok tertinggal semakin sulit mengejar ketertinggalan mereka.
- Menurunnya kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah, terutama jika masyarakat yang tertinggal merasa diabaikan dalam proses transformasi digital yang sedang didorong secara nasional.
Bagaimana Risiko Ini Bisa Dimitigasi?
1. Pendekatan Multi-Kanal
Tidak menjadikan aplikasi digital sebagai satu-satunya cara mengakses CBDC, tapi tetap menyediakan alternatif seperti kartu fisik, layanan berbasis SMS, atau bantuan lewat agen lokal, seperti sudah dibahas dalam berbagai pembahasan sebelumnya.
2. Program Literasi yang Menyasar Kelompok Rentan Secara Spesifik
Alih-alih program edukasi yang seragam untuk semua orang, dibutuhkan pendekatan yang benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan spesifik masing-masing kelompok rentan, seperti sudah dibahas dalam pembahasan sebelumnya soal pentingnya literasi digital yang kontekstual.
3. Subsidi atau Insentif Akses Digital
Pemerintah bisa mempertimbangkan program subsidi untuk perangkat atau akses data bagi masyarakat berpenghasilan rendah, membantu mengurangi hambatan ekonomi dalam mengakses CBDC.
4. Desain Inklusif Sejak Awal
Melibatkan berbagai kelompok masyarakat, termasuk penyandang disabilitas dan lansia, dalam proses perancangan aplikasi CBDC, memastikan sistem ini benar-benar ramah dan bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat sejak tahap pengembangan awal, bukan sekadar tambahan di kemudian hari.
5. Pemantauan dan Evaluasi Berkelanjutan
Pemerintah dan bank sentral perlu terus memantau tingkat adopsi CBDC di berbagai kelompok masyarakat, mengidentifikasi kelompok mana saja yang masih tertinggal, dan menyesuaikan strategi secara berkelanjutan berdasarkan data nyata di lapangan.
Tabel Ringkasan
| Dimensi Kesenjangan | Kelompok Paling Berisiko | Upaya Mitigasi |
|---|---|---|
| Akses infrastruktur | Masyarakat daerah terpencil | Fitur offline, perluasan infrastruktur |
| Kemampuan digital | Lansia, literasi pendidikan terbatas | Edukasi kontekstual & bertahap |
| Ekonomi | Masyarakat berpenghasilan rendah | Subsidi perangkat & akses data |
| Aksesibilitas fisik | Penyandang disabilitas | Desain inklusif sejak awal |
Penutup
Risiko kesenjangan digital menjadi salah satu tantangan paling serius yang perlu diantisipasi dalam penerapan CBDC, mengingat teknologi yang seharusnya mendorong inklusi keuangan justru berpotensi memperlebar ketimpangan jika tidak dikelola dengan hati-hati. Dengan pendekatan yang inklusif sejak tahap perancangan, program literasi yang kontekstual, serta dukungan kebijakan yang berpihak pada kelompok rentan, risiko ini bisa diminimalkan, sehingga manfaat CBDC benar-benar bisa dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya mereka yang sudah lebih dulu siap secara digital.









