Pengantar
Setelah membahas CBDC dari begitu banyak sudut pandang, mulai dari teknologi, kebijakan moneter, dampak perbankan, hingga isu privasi, saatnya kita menarik benang merah dan bertanya: ke arah mana sebenarnya masa depan CBDC akan berjalan? Apakah akan menjadi simbol efisiensi ekonomi, alat inklusi keuangan yang mengubah hidup jutaan orang, atau justru berkembang menjadi instrumen kendali yang berlebihan? Yuk kita bahas tiga kemungkinan arah masa depan ini.
Skenario Pertama: CBDC sebagai Simbol Efisiensi
Dalam skenario ini, CBDC berkembang terutama sebagai alat untuk mempercepat dan mempermurah transaksi, baik domestik maupun lintas negara. Seperti sudah dibahas dalam pembahasan sebelumnya soal transformasi sistem pembayaran dan pembayaran lintas negara, efisiensi menjadi nilai jual utama CBDC di skenario ini.
Ciri-ciri skenario ini:
- Fokus utama pada kecepatan dan penurunan biaya transaksi.
- Interoperabilitas antar-CBDC dan sistem pembayaran yang sudah ada menjadi prioritas.
- Adopsi didorong terutama oleh manfaat ekonomi yang bisa dirasakan langsung oleh pelaku bisnis dan konsumen.
Risiko dalam skenario ini: kalau efisiensi menjadi satu-satunya fokus, ada risiko manfaat CBDC hanya dinikmati oleh mereka yang sudah memiliki akses digital memadai, sementara kelompok yang lebih membutuhkan justru terlewatkan, sejalan dengan pembahasan sebelumnya soal risiko kesenjangan digital.
Skenario Kedua: CBDC sebagai Alat Inklusi Keuangan
Dalam skenario ini, CBDC berkembang dengan prioritas utama menjangkau masyarakat yang selama ini tertinggal dari sistem keuangan formal, seperti sudah dibahas dalam pembahasan sebelumnya soal masyarakat unbanked dan daerah terpencil.
Ciri-ciri skenario ini:
- Desain sistem yang mengutamakan aksesibilitas, termasuk dukungan perangkat sederhana dan jaringan agen lokal.
- Program edukasi dan literasi digital menjadi investasi besar yang berkelanjutan.
- Keberhasilan diukur bukan cuma dari volume transaksi, tapi dari seberapa luas jangkauan manfaatnya ke seluruh lapisan masyarakat.
Risiko dalam skenario ini: pendekatan yang terlalu berfokus pada inklusi tanpa memperhatikan efisiensi dan keberlanjutan sistem berisiko membuat CBDC sulit berkembang secara luas, mengingat kebutuhan investasi besar untuk menjangkau kelompok rentan tidak selalu sebanding dengan manfaat ekonomi jangka pendek yang dihasilkan.
Skenario Ketiga: CBDC sebagai Instrumen Kendali Berlebihan
Ini adalah skenario yang paling banyak dikhawatirkan, seperti sudah dibahas dalam pembahasan sebelumnya soal CBDC sebagai potensi alat pengawasan, di mana kemampuan teknis CBDC untuk memantau, membatasi, bahkan “memprogram” penggunaan uang justru dipakai secara berlebihan oleh otoritas.

Ciri-ciri skenario ini:
- Penerapan programmable money yang meluas tanpa batasan hukum yang jelas.
- Tingkat pengawasan transaksi yang tinggi tanpa kerangka akuntabilitas yang memadai.
- Kepercayaan publik menurun akibat kekhawatiran terhadap penyalahgunaan data dan pembatasan kebebasan finansial.
Kenapa skenario ini tetap menjadi kekhawatiran nyata: meski sebagian besar desain CBDC saat ini menerapkan pendekatan privasi bertingkat seperti sudah dibahas dalam pembahasan sebelumnya, arah akhirnya tetap sangat bergantung pada kerangka hukum dan komitmen politik masing-masing negara, yang bisa berubah seiring waktu tergantung siapa yang berkuasa dan bagaimana kondisi politik berkembang.
Mana yang Paling Mungkin Terjadi?
Realitanya, ketiga skenario ini kemungkinan besar tidak akan terjadi secara terpisah dan murni, melainkan berbaur dengan proporsi berbeda-beda di setiap negara, tergantung pada:
- Prioritas kebijakan nasional, apakah pemerintah lebih menekankan pertumbuhan ekonomi, pemerataan sosial, atau kendali negara sebagai tujuan utama.
- Kekuatan kerangka hukum dan pengawasan independen, yang menentukan seberapa jauh potensi kendali berlebihan bisa dicegah.
- Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi, seperti sudah dibahas dalam pembahasan sebelumnya, yang sangat bervariasi antarnegara berdasarkan sejarah dan pengalaman masing-masing.
- Tekanan dan pengawasan publik, termasuk peran media, akademisi, dan masyarakat sipil dalam terus mengawal arah kebijakan CBDC agar tidak melenceng dari tujuan awalnya.
Bagaimana dengan Indonesia?
Berdasarkan pembahasan sebelumnya soal Rupiah Digital, pendekatan Bank Indonesia yang sangat berhati-hati dan bertahap, dimulai dari wholesale sebelum ke ritel, menunjukkan kecenderungan awal ke arah keseimbangan antara efisiensi dan inklusi, dengan penekanan eksplisit bahwa Rupiah Digital dirancang sebagai komplemen, bukan alat kendali baru. Namun, arah akhirnya tetap akan sangat bergantung pada bagaimana kerangka hukum dan tata kelola terus dikembangkan seiring proyek ini memasuki tahap-tahap berikutnya.
Faktor Penentu yang Sebenarnya: Bukan Teknologi, Melainkan Pilihan
Seperti sudah disinggung dalam pembahasan sebelumnya soal evolusi atau revolusi, satu kesimpulan yang terus berulang dalam berbagai pembahasan kita adalah: teknologi CBDC itu sendiri bersifat netral. Ia bisa diarahkan menjadi alat efisiensi murni, instrumen inklusi yang mengubah hidup jutaan orang, atau alat kendali yang berlebihan, tergantung sepenuhnya pada pilihan kebijakan, kerangka hukum, dan pengawasan yang menyertainya.
Tabel Ringkasan Tiga Skenario
| Skenario | Fokus Utama | Risiko Utama |
|---|---|---|
| Efisiensi | Kecepatan & biaya transaksi rendah | Kesenjangan digital, manfaat tidak merata |
| Inklusi | Menjangkau kelompok tertinggal | Sulit berkembang tanpa dukungan investasi besar |
| Kendali berlebihan | Pengawasan & pembatasan penggunaan | Erosi kepercayaan publik, pelanggaran privasi |
Penutup
Masa depan CBDC tidak ditentukan oleh secanggih apa teknologinya, melainkan oleh pilihan-pilihan kebijakan yang diambil setiap negara dalam merancang dan mengelola sistem ini. Ketiga skenario, efisiensi, inklusi, dan kendali berlebihan, bukan jalan yang saling eksklusif, melainkan kemungkinan yang bisa hadir bersamaan dalam proporsi berbeda. Tugas kita sebagai masyarakat bukan sekadar menanti arah mana yang akan terjadi, melainkan terus mengawal dan berpartisipasi dalam diskursus kebijakan ini, memastikan CBDC yang akhirnya kita miliki benar-benar mencerminkan keseimbangan terbaik antara kemajuan teknologi, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap kebebasan individu.









