Pengantar
Setelah membahas CBDC secara umum dalam berbagai pembahasan sebelumnya, kali ini kita akan fokus khusus pada proyek CBDC milik Indonesia sendiri: Rupiah Digital, yang dikembangkan Bank Indonesia lewat inisiatif bernama Proyek Garuda. Yuk kita bahas lebih dalam apa itu Rupiah Digital, sejauh mana perkembangannya, dan bagaimana rencana ke depannya.
Apa Itu Rupiah Digital?
Rupiah Digital adalah bentuk digital dari mata uang Rupiah yang kita kenal selama ini, baik uang kertas maupun logam, yang diterbitkan dan dikendalikan penuh oleh Bank Indonesia. Dalam istilah teknis, Rupiah Digital adalah Central Bank Digital Currency (CBDC) milik Indonesia. Perbedaan paling mendasar Rupiah Digital dengan uang elektronik seperti saldo GoPay, OVO, atau DANA terletak pada status kewajibannya: Rupiah Digital adalah klaim langsung kepada bank sentral, sementara uang elektronik adalah kewajiban perusahaan penerbitnya.
Apa Itu Proyek Garuda?
Proyek Garuda adalah inisiatif yang menaungi seluruh eksplorasi desain CBDC Indonesia, yang kemudian disebut Rupiah Digital. Proyek ini menjadi sumbangsih Bank Indonesia dalam menjaga kedaulatan Rupiah di era digital, sekaligus melengkapi berbagai inisiatif transformasi digital nasional lainnya, khususnya yang sudah didorong lewat Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2030 dan Blueprint Pengembangan Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing 2030.
Perjalanan Proyek Garuda dari Waktu ke Waktu
Proyek Garuda tidak dikembangkan secara tergesa-gesa, melainkan lewat tahapan yang cukup panjang dan hati-hati:
- 30 November 2022 — Bank Indonesia menerbitkan White Paper Rupiah Digital, sebagai pemaparan awal berupa desain level atas (high-level design), sekaligus bentuk komunikasi kepada publik terkait rencana pengembangan Rupiah Digital.
- Akhir Januari 2023 — Bank Indonesia menerbitkan consultative paper sebagai kelanjutan dari white paper tersebut.
- 2023–2024 — Bank Indonesia melanjutkan dengan laporan konsultasi publik, menampung masukan dari berbagai pemangku kepentingan.
- 13 Desember 2024 — Bank Indonesia berhasil menyelesaikan proof of concept (PoC) tahap pertama, berfokus pada immediate state atau wholesale cash ledger, menandai langkah konkret dalam eksplorasi CBDC di Indonesia.
Bagaimana Hasil Uji Coba Tahap Pertama Ini?
Pengujian PoC ini dilakukan dengan memanfaatkan dua platform teknologi potensial berbasis distributed ledger technology (DLT), untuk mendukung model bisnis Rupiah Digital, terutama untuk keperluan proses penerbitan, pemusnahan, dan transfer. Tujuan pengujian ini adalah menguji kesiapan teknologi, keamanan transaksi, serta interoperabilitas dengan sistem pembayaran dan infrastruktur keuangan yang sudah ada. Hasilnya cukup menjanjikan, menunjukkan bahwa solusi berbasis DLT mampu memenuhi kebutuhan bisnis dan teknis untuk tahap wholesale cash ledger ini.
Tiga Tahap Besar Pengembangan Rupiah Digital
Bank Indonesia membagi pengembangan Rupiah Digital ke dalam tiga tahap besar. Pertama, mengembangkan Rupiah Digital untuk segmen wholesale, yaitu transaksi antarbank dan lembaga keuangan. Kedua, memperluas pengembangan ke bisnis operasi moneter dan pasar uang. Ketiga, mengintegrasikan Rupiah Digital pada segmen wholesale dengan ritel secara end-to-end, yang berarti tahap inilah yang nantinya benar-benar melibatkan masyarakat umum sebagai pengguna langsung.
Sejauh Mana Posisi Proyek Garuda Saat Ini?
Penting untuk realistis di sini. Sejumlah pejabat Bank Indonesia sempat menegaskan bahwa Rupiah Digital masih dalam tahap kajian dan uji coba (piloting) internal, belum sampai ke tahap implementasi, dengan pendekatan yang sangat hati-hati, mencontoh negara-negara lain yang juga mengembangkan mata uang digital, seperti China dan negara-negara di kawasan Eropa. Artinya, meski sudah menyelesaikan PoC tahap pertama, Indonesia masih berada pada tahap wholesale dan belum memasuki tahap ritel yang akan langsung dirasakan masyarakat umum sehari-hari.

Prinsip Penting: Melengkapi, Bukan Menggantikan
Sejalan dengan yang sudah dibahas dalam pembahasan sebelumnya soal apakah CBDC akan menggantikan uang kertas, Bank Indonesia juga menegaskan prinsip serupa untuk Rupiah Digital, yang ke depannya akan menjadi komplemen dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan uang tunai maupun instrumen pembayaran lain yang sudah ada, termasuk uang elektronik dan kartu debit atau kredit.
Tantangan yang Dihadapi Indonesia Secara Spesifik
Sebagai negara kepulauan dengan kondisi geografis yang sangat beragam, Indonesia menghadapi tantangan tersendiri dalam penerapan Rupiah Digital, terutama soal kesiapan infrastruktur digital. Survei APJII pernah mencatat sekitar 14% wilayah pedalaman Indonesia masih kekurangan akses internet, menjadi salah satu kendala signifikan yang perlu diatasi, sejalan dengan pembahasan sebelumnya soal tantangan CBDC di daerah terpencil. Selain itu, tingkat kepercayaan masyarakat, terutama di pedesaan, juga menjadi faktor krusial yang perlu terus dibangun lewat program literasi digital yang berkelanjutan.
Konteks Global: Indonesia Bukan Sendirian
Berdasarkan data yang pernah dihimpun Bank Indonesia, terdapat sekitar 11 negara di dunia yang sudah merilis uang digital, 15 negara dalam tahap uji coba, 26 negara dalam tahap pengembangan, dan 46 negara masih dalam tahap riset. Ini menunjukkan Indonesia berada di tengah tren global yang sama, dengan pendekatan yang relatif sejalan dengan banyak negara lain yang juga memilih jalur bertahap dan penuh kehati-hatian.
Tabel Ringkasan Tahapan Proyek Garuda
| Tahap | Status |
|---|---|
| White paper | Selesai (November 2022) |
| Consultative paper | Selesai (Januari 2023) |
| Laporan konsultasi publik | Selesai |
| Proof of concept tahap 1 (wholesale) | Selesai (Desember 2024) |
| Integrasi wholesale-ritel end-to-end | Belum dimulai, masih tahap rencana jangka panjang |
Penutup
Rupiah Digital lewat Proyek Garuda menunjukkan bagaimana Bank Indonesia mengambil pendekatan yang sangat berhati-hati dan bertahap dalam mengembangkan CBDC nasional, dimulai dari kajian mendalam, uji coba teknologi terbatas pada segmen wholesale, sebelum nantinya melangkah ke tahap yang lebih luas. Meski belum sampai pada tahap implementasi yang langsung dirasakan masyarakat umum, perkembangan yang sudah dicapai menunjukkan keseriusan Indonesia dalam mempersiapkan diri menghadapi era uang digital, sambil tetap menjaga kehati-hatian demi menjamin stabilitas sistem keuangan nasional ke depannya.









