Pengantar

Pernahkah Anda menggunakan aplikasi navigasi seperti Google Maps? Saat memasukkan tujuan, aplikasi akan memberikan rute terbaik. Namun, keputusan untuk mengikuti rute tersebut tetap ada di tangan Anda.

Sekarang bayangkan jika suatu saat aplikasi itu tidak hanya memberikan rute, tetapi juga memesan tiket parkir, mencari jalur alternatif saat macet, hingga mengatur jadwal keberangkatan agar Anda tiba tepat waktu. Semua dilakukan secara otomatis berdasarkan tujuan yang Anda berikan.

Nah, gambaran tersebut sedikit mirip dengan perkembangan Agentic AI. Semakin tinggi tingkat otonominya, semakin banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan AI tanpa harus menunggu instruksi di setiap langkah. Meski begitu, bukan berarti AI akan mengambil alih semua keputusan manusia.

Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan tingkat otonomi?

Apa Itu Tingkat Otonomi?

Tingkat otonomi adalah seberapa mandiri sebuah sistem AI dapat bekerja untuk mencapai tujuan tertentu.

Semakin tinggi tingkat otonominya, semakin sedikit campur tangan manusia yang dibutuhkan selama proses berlangsung.

Namun, penting untuk dipahami bahwa “otonom” bukan berarti AI bebas melakukan apa saja. AI tetap bekerja sesuai tujuan, aturan, dan batasan yang telah ditentukan oleh pengguna atau pengembang.

Tingkat Otonomi Rendah

Pada tingkat ini, AI hanya membantu pengguna menyelesaikan tugas tertentu.

AI akan menunggu instruksi, memberikan hasil, lalu berhenti.

Contohnya adalah ketika Anda meminta AI membuat ringkasan artikel atau menerjemahkan dokumen. Setelah tugas selesai, AI tidak akan melakukan pekerjaan lain kecuali Anda memberikan perintah baru.

Sebagian besar chatbot dan AI generatif bekerja pada tingkat otonomi seperti ini.

Tingkat Otonomi Menengah

Di tingkat berikutnya, AI mulai mampu menjalankan beberapa langkah secara berurutan.

Misalnya, Anda meminta AI membuat laporan penjualan. AI dapat mengambil data, menghitung total penjualan, membuat grafik, lalu menyusun laporan tanpa perlu diperintah satu per satu.

Walaupun demikian, AI masih akan meminta persetujuan pengguna sebelum melakukan tindakan tertentu, misalnya mengirim laporan kepada klien atau mengubah data penting.

Model seperti ini mulai banyak digunakan di perusahaan karena dapat meningkatkan efisiensi tanpa menghilangkan peran manusia.

Tingkat Otonomi Tinggi

Pada tingkat ini, Agentic AI mampu mengambil lebih banyak keputusan selama proses bekerja.

Sebagai contoh, AI dapat memantau stok barang di gudang. Ketika jumlah stok mulai menipis, sistem akan mencari pemasok, membandingkan harga, membuat rekomendasi pembelian, bahkan menyiapkan pesanan secara otomatis.

Meski terlihat sangat mandiri, keputusan akhir tetap dapat diawasi atau disetujui oleh manusia, terutama jika berkaitan dengan anggaran atau kebijakan perusahaan.

Mengapa Tidak Semua AI Dibuat Sepenuhnya Otonom?

Mungkin muncul pertanyaan, “Kalau AI bisa bekerja sendiri, mengapa tidak dibuat sepenuhnya otomatis?”

Jawabannya berkaitan dengan keamanan, tanggung jawab, dan kepercayaan.

Bayangkan AI digunakan di rumah sakit. Jika AI langsung mengambil keputusan medis tanpa melibatkan dokter, risikonya tentu sangat besar.

Begitu juga di bidang keuangan atau hukum. Kesalahan kecil saja bisa menimbulkan dampak yang serius.

Karena itu, pada banyak sistem Agentic AI, manusia tetap menjadi pengambil keputusan terakhir untuk hal-hal yang penting.

Otonom Bukan Berarti Menggantikan Manusia

Salah satu kesalahpahaman yang masih sering muncul adalah anggapan bahwa Agentic AI akan menggantikan manusia sepenuhnya.

Faktanya, tujuan utama Agentic AI adalah membantu manusia bekerja lebih cepat dan lebih efisien, bukan mengambil alih seluruh pekerjaan.

AI sangat baik dalam mengolah data, menjalankan proses yang berulang, dan bekerja tanpa lelah. Namun, kreativitas, empati, intuisi, dan pertimbangan etika tetap menjadi keunggulan manusia.

Karena itulah kolaborasi antara manusia dan AI diperkirakan akan menjadi cara kerja yang paling efektif di masa depan.

Kesimpulan

Tingkat otonomi menunjukkan seberapa mandiri Agentic AI dapat menyelesaikan suatu tugas. Ada AI yang hanya membantu menjawab pertanyaan, ada yang mampu mengerjakan beberapa langkah sekaligus, hingga ada yang dapat mengelola proses yang lebih kompleks dengan pengawasan minimal.

Meskipun kemampuan AI terus berkembang, peran manusia tetap sangat penting. Manusia menentukan tujuan, menetapkan batasan, dan memastikan setiap keputusan yang diambil AI tetap aman serta sesuai kebutuhan. Dengan memahami tingkat otonomi ini, kita bisa melihat bahwa Agentic AI bukan sekadar teknologi canggih, tetapi juga alat yang dirancang untuk bekerja bersama manusia, bukan menggantikannya.