Membangun sistem yang aman tidak cukup hanya dengan mengetahui aset yang perlu dilindungi atau daftar ancaman yang mungkin muncul. Organisasi juga perlu memahami bagaimana ancaman tersebut dapat diwujudkan oleh penyerang di dunia nyata. Tanpa pemahaman tersebut, strategi pengamanan yang diterapkan bisa saja tidak mampu menghadapi teknik serangan yang sebenarnya digunakan.
Di sinilah threat modelling dan MITRE ATT&CK saling melengkapi. Threat modelling membantu tim mengidentifikasi ancaman berdasarkan arsitektur dan karakteristik sistem yang sedang dikembangkan, sedangkan MITRE ATT&CK menyediakan referensi mengenai taktik dan teknik yang digunakan pelaku ancaman berdasarkan berbagai insiden nyata. Ketika kedua pendekatan ini digunakan bersama, organisasi dapat memperoleh gambaran yang lebih lengkap, mulai dari potensi ancaman hingga kemungkinan cara serangan dilakukan.
Pendekatan ini banyak diterapkan dalam pengembangan aplikasi modern, layanan cloud, infrastruktur perusahaan, hingga sistem berbasis Artificial Intelligence. Dengan menghubungkan hasil threat modelling ke MITRE ATT&CK, tim keamanan dapat menyusun strategi mitigasi yang lebih sesuai dengan pola serangan yang telah terbukti terjadi di lapangan.
1. Peran Threat Modelling
Threat modelling merupakan proses untuk mengidentifikasi ancaman yang mungkin memengaruhi suatu sistem.
Pada tahap ini, tim biasanya:
- mengenali aset yang perlu dilindungi;
- mempelajari arsitektur sistem;
- memetakan alur data;
- mengidentifikasi potensi ancaman;
- menentukan langkah mitigasi.
Metode seperti STRIDE, PASTA, maupun Attack Tree sering digunakan untuk mendukung proses tersebut.
Hasil akhirnya berupa daftar ancaman yang relevan dengan sistem yang sedang dikembangkan.
2. Peran MITRE ATT&CK
Setelah ancaman berhasil diidentifikasi, organisasi perlu memahami bagaimana ancaman tersebut kemungkinan akan dilakukan oleh penyerang.
MITRE ATT&CK membantu menjawab kebutuhan tersebut melalui dokumentasi mengenai berbagai:
- taktik;
- teknik;
- sub-teknik;
- pola perilaku pelaku ancaman.
Informasi ini membantu tim keamanan melihat ancaman dari perspektif operasional penyerang.
3. Mengapa Keduanya Perlu Dihubungkan?
Threat modelling memberikan gambaran mengenai apa yang berpotensi menjadi ancaman.
MITRE ATT&CK memberikan gambaran mengenai bagaimana ancaman tersebut dapat dijalankan.
Jika hanya menggunakan threat modelling, organisasi mungkin mengetahui adanya risiko pencurian data, tetapi belum memahami teknik yang kemungkinan digunakan penyerang untuk memperoleh akses.
Sebaliknya, jika hanya menggunakan MITRE ATT&CK, organisasi mengetahui berbagai teknik serangan, tetapi belum tentu memahami teknik mana yang paling relevan terhadap sistem yang sedang dikembangkan.
Menggabungkan keduanya menghasilkan analisis yang lebih lengkap dan lebih mudah diterapkan.
4. Cara Menghubungkan Threat Modelling dengan MITRE ATT&CK
Integrasi kedua pendekatan ini dapat dilakukan melalui beberapa langkah.
Identifikasi Aset
Tentukan terlebih dahulu aset yang memiliki nilai penting, seperti:
- data pelanggan;
- API;
- basis data;
- layanan cloud;
- akun administrator;
- model Artificial Intelligence.
Lakukan Threat Modelling
Gunakan metode seperti STRIDE, PASTA, atau Attack Tree untuk mengidentifikasi berbagai ancaman yang mungkin muncul.
Tahap ini menghasilkan daftar risiko yang berkaitan langsung dengan arsitektur sistem.
Petakan Ancaman ke MITRE ATT&CK
Setelah ancaman ditemukan, cocokkan setiap ancaman dengan taktik dan teknik yang relevan dalam MITRE ATT&CK.

Misalnya, ancaman pencurian kredensial dapat dipetakan ke teknik yang berkaitan dengan pengumpulan atau penyalahgunaan kredensial, sementara ancaman gangguan layanan dapat dipetakan ke teknik yang berfokus pada penghentian atau penurunan ketersediaan sistem.
Pemetaan ini membantu tim memahami bagaimana ancaman kemungkinan diwujudkan oleh penyerang.
Evaluasi Kontrol Keamanan
Selanjutnya, periksa apakah mekanisme keamanan yang telah diterapkan mampu:
- mencegah teknik serangan;
- mendeteksi aktivitas mencurigakan;
- merespons insiden secara efektif.
Jika ditemukan kekurangan, organisasi dapat menentukan prioritas peningkatan keamanan.
5. Manfaat Integrasi Threat Modelling dan MITRE ATT&CK
Menghubungkan kedua pendekatan ini memberikan sejumlah manfaat.
Beberapa di antaranya adalah:
- membuat analisis ancaman lebih realistis;
- membantu menyusun strategi mitigasi yang lebih tepat;
- meningkatkan efektivitas kontrol keamanan;
- mempermudah proses deteksi dan respons insiden;
- mendukung komunikasi antara pengembang, arsitek sistem, dan tim keamanan.
Pendekatan ini juga membantu organisasi mengurangi kesenjangan antara tahap perancangan dan operasional keamanan.
6. Contoh Penerapan
Sebuah perusahaan mengembangkan aplikasi e-commerce yang memproses transaksi pelanggan secara daring.
Dalam tahap threat modelling, tim menemukan beberapa ancaman, seperti penyalahgunaan akun administrator, pencurian data pelanggan, dan gangguan terhadap layanan pembayaran.
Selanjutnya, ancaman tersebut dipetakan ke teknik yang relevan dalam MITRE ATT&CK untuk memahami bagaimana penyerang biasanya memperoleh akses, mempertahankan keberadaannya di sistem, dan mengambil data.
Dari hasil analisis diketahui bahwa mekanisme autentikasi administrator masih perlu diperkuat dan pemantauan aktivitas pengguna belum mampu mendeteksi perilaku yang tidak biasa.
Berdasarkan temuan tersebut, perusahaan menerapkan autentikasi multifaktor, meningkatkan kualitas pencatatan log, serta memperbarui aturan pemantauan agar lebih sesuai dengan teknik serangan yang telah dipetakan.
7. Praktik yang Perlu Dilakukan Secara Berkala
Integrasi threat modelling dengan MITRE ATT&CK bukanlah kegiatan yang dilakukan sekali saja.
Setiap perubahan pada aplikasi, infrastruktur, atau layanan dapat memunculkan ancaman baru maupun teknik serangan yang berbeda.
Oleh karena itu, organisasi perlu memperbarui proses threat modelling, meninjau kembali pemetaan terhadap MITRE ATT&CK, serta mengevaluasi efektivitas kontrol keamanan secara berkala agar strategi pertahanan tetap relevan.
Penutup
Threat modelling dan MITRE ATT&CK memiliki peran yang berbeda, tetapi saling melengkapi dalam membangun sistem yang aman. Threat modelling membantu organisasi mengenali ancaman berdasarkan karakteristik sistem yang sedang dikembangkan, sedangkan MITRE ATT&CK memberikan pemahaman mengenai teknik yang digunakan pelaku ancaman untuk mewujudkan serangan tersebut.
Dengan menghubungkan hasil threat modelling ke MITRE ATT&CK, organisasi dapat menyusun strategi keamanan yang lebih terarah, mulai dari identifikasi ancaman, pemahaman terhadap pola serangan, hingga evaluasi efektivitas kontrol yang telah diterapkan. Pendekatan ini membantu tim membangun sistem yang tidak hanya aman secara desain, tetapi juga lebih siap menghadapi ancaman yang berkembang di lingkungan nyata.



