Pertanyaan ini membawa kita pada konsep threat actor, yaitu pihak yang memiliki kemampuan, motivasi, dan kesempatan untuk melakukan serangan terhadap sistem atau organisasi. Memahami threat actor membantu tim keamanan melihat ancaman secara lebih realistis karena setiap pelaku memiliki tujuan dan metode yang berbeda. Serangan dari penjahat siber tentu berbeda dengan ancaman dari orang dalam, pesaing bisnis, atau kelompok yang memiliki tujuan politik.
Dengan mengidentifikasi threat actor sejak awal, organisasi dapat memprioritaskan ancaman yang paling relevan dan menyusun strategi pertahanan yang lebih tepat sasaran.
1.Apa Itu Threat Actor?
Threat actor adalah individu, kelompok, atau organisasi yang berpotensi melakukan tindakan yang dapat mengganggu kerahasiaan, integritas, atau ketersediaan sistem informasi.
Seorang threat actor umumnya memiliki tiga unsur utama:
- Motivasi, yaitu alasan melakukan serangan;
- Kemampuan, yaitu pengetahuan dan sumber daya yang dimiliki;
- Kesempatan, yaitu akses atau kondisi yang memungkinkan serangan dilakukan.
Memahami ketiga unsur tersebut membantu organisasi memperkirakan ancaman yang paling mungkin terjadi.
2.Mengapa Identifikasi Threat Actor Penting?
Tidak semua organisasi menghadapi jenis penyerang yang sama.
Sebagai contoh:
- Bank lebih sering menjadi target pencurian finansial.
- Rumah sakit menghadapi risiko pencurian data pasien.
- Perusahaan teknologi mungkin menjadi sasaran pencurian kekayaan intelektual.
- Instansi pemerintah dapat menghadapi ancaman spionase atau sabotase.
Dengan mengetahui threat actor yang paling relevan, organisasi dapat:
- memfokuskan analisis pada ancaman yang realistis;
- menentukan prioritas pengamanan;
- memilih kontrol keamanan yang sesuai;
- meningkatkan efektivitas deteksi dan respons insiden.
Pendekatan ini membuat threat modelling lebih akurat dibandingkan hanya menggunakan daftar ancaman umum.
3.Jenis-Jenis Threat Actor yang Umum Ditemukan
Penjahat Siber
Kelompok ini biasanya termotivasi oleh keuntungan finansial.
Mereka dapat melakukan pencurian data kartu pembayaran, ransomware, penipuan digital, atau penyalahgunaan akun.
Orang Dalam (Insider)
Threat actor ini berasal dari dalam organisasi, seperti karyawan, kontraktor, atau mitra kerja.
Mereka mungkin memiliki akses sah ke sistem sehingga ancamannya sering lebih sulit dideteksi.
Pesaing Bisnis
Beberapa organisasi menghadapi risiko pencurian rahasia dagang, strategi bisnis, atau data pelanggan oleh pihak yang memiliki kepentingan kompetitif.
Kelompok Aktivis (Hacktivist)
Motivasi mereka umumnya bersifat ideologis, sosial, atau politik.
Serangan sering ditujukan untuk menarik perhatian publik atau mengganggu layanan tertentu.
Kelompok Spionase
Kelompok ini biasanya memiliki sumber daya dan kemampuan tinggi serta menargetkan informasi strategis dalam jangka panjang.
Pelaku Opportunistik
Mereka tidak menargetkan organisasi tertentu, tetapi mencari sistem yang paling mudah dieksploitasi.
Ancaman ini sangat umum pada layanan yang terekspos ke internet.
4.Langkah-Langkah Mengidentifikasi Threat Actor
Memahami Profil Organisasi
Mulailah dengan memahami sektor industri, layanan utama, jenis data yang dikelola, dan nilai bisnis aset yang dimiliki.

Mengidentifikasi Aset Bernilai Tinggi
Tentukan aset yang kemungkinan menarik perhatian penyerang, seperti data pelanggan, sistem pembayaran, atau kekayaan intelektual.
Menentukan Motivasi Penyerang
Analisis pihak mana yang mungkin memperoleh keuntungan apabila aset tersebut berhasil diakses, dicuri, atau diganggu.
Menilai Kemampuan Penyerang
Perkirakan tingkat kemampuan teknis yang diperlukan untuk menyerang sistem. Tidak semua ancaman memerlukan kemampuan tinggi.
Menganalisis Akses dan Kesempatan
Tinjau siapa saja yang memiliki akses langsung maupun tidak langsung ke sistem, termasuk pengguna internal dan pihak ketiga.
Menentukan Prioritas Threat Actor
Setelah seluruh faktor dianalisis, kelompokkan threat actor berdasarkan tingkat relevansinya terhadap organisasi.
Threat actor dengan motivasi kuat, kemampuan memadai, dan kesempatan tinggi biasanya menjadi prioritas utama dalam threat modelling.
5.Contoh Penerapan
Sebuah perusahaan e-commerce mengelola jutaan data pelanggan dan transaksi pembayaran.
Dalam proses threat modelling, perusahaan mengidentifikasi beberapa threat actor yang paling relevan:
- penjahat siber yang mencari data pembayaran;
- pelaku opportunistik yang memindai API publik;
- orang dalam yang memiliki akses ke basis data pelanggan.
Berdasarkan analisis tersebut, perusahaan memprioritaskan penguatan autentikasi, pembatasan hak akses, pemantauan aktivitas administrator, serta pengamanan API publik.
Pendekatan ini membuat strategi keamanan lebih fokus pada ancaman yang benar-benar mungkin dihadapi perusahaan.
6.Menghubungkan Threat Actor dengan Threat Modelling
Identifikasi threat actor sebaiknya tidak berdiri sendiri.
Hasil analisis dapat dikombinasikan dengan metode threat modelling lain, seperti:
- STRIDE untuk mengidentifikasi jenis ancaman;
- Attack Tree untuk memetakan jalur serangan;
- Cyber Kill Chain untuk memahami tahapan serangan;
- MITRE ATT&CK untuk mempelajari teknik yang umum digunakan threat actor.
Kombinasi tersebut memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai siapa penyerangnya, apa tujuannya, dan bagaimana serangan kemungkinan dilakukan.
7.Evaluasi Threat Actor Harus Dilakukan Secara Berkala
Lanskap ancaman siber terus berubah.
Perubahan teknologi, model bisnis, regulasi, maupun situasi geopolitik dapat memunculkan threat actor baru atau mengubah tingkat risiko threat actor yang sudah ada.
Karena itu, identifikasi threat actor perlu diperbarui secara berkala agar threat modelling tetap relevan dengan kondisi terkini.
Penutup
Threat modelling yang efektif tidak hanya berfokus pada sistem dan aset, tetapi juga pada pihak yang berpotensi menyerangnya. Dengan mengidentifikasi threat actor, organisasi dapat memahami motivasi, kemampuan, dan peluang yang dimiliki penyerang sehingga analisis ancaman menjadi lebih realistis dan terarah.
Pendekatan ini membantu organisasi memprioritaskan risiko yang paling relevan, memilih kontrol keamanan yang sesuai, serta meningkatkan kesiapan dalam menghadapi berbagai bentuk serangan siber. Pada akhirnya, memahami siapa yang mungkin menyerang merupakan langkah penting untuk membangun sistem yang lebih aman dan lebih tangguh dalam menghadapi ancaman yang terus berkembang.








