Pengantar

Salah satu kelebihan uang tunai yang sering luput dari perhatian adalah, uang ini bisa dipakai kapan saja, di mana saja, tanpa perlu koneksi internet sama sekali. Nah, pertanyaannya, kalau CBDC adalah uang digital, apakah ia juga bisa dipakai tanpa internet, seperti layaknya uang tunai?

Ternyata, ini menjadi salah satu fitur yang sedang serius dikembangkan oleh banyak bank sentral di dunia. Yuk kita bahas lebih dalam soal kemampuan offline payment pada CBDC.

Kenapa Fitur Offline Ini Penting?

Ada beberapa alasan kuat kenapa kemampuan bertransaksi tanpa internet menjadi perhatian penting dalam pengembangan CBDC:

  • Ketimpangan akses internet — tidak semua wilayah, terutama daerah terpencil, punya koneksi internet yang stabil.
  • Situasi darurat — saat terjadi bencana alam atau gangguan jaringan besar, kemampuan bertransaksi offline bisa menjadi penyelamat bagi masyarakat yang tetap butuh melakukan transaksi penting.
  • Menjaga sifat inklusif uang tunai — salah satu tujuan CBDC adalah menghadirkan alternatif digital yang tetap seinklusif uang tunai, termasuk soal kemampuannya dipakai tanpa syarat koneksi internet.

Bagaimana Cara Kerja Transaksi Offline pada CBDC?

Secara umum, ada beberapa pendekatan teknologi yang sedang dijajaki untuk mendukung transaksi offline CBDC:

  • Near Field Communication (NFC) — teknologi yang memungkinkan dua perangkat bertukar data hanya dengan saling didekatkan, mirip seperti cara kerja pembayaran nirsentuh (tap) pada kartu kredit atau ponsel pintar.
  • Perangkat khusus penyimpanan nilai (secure element/chip) — beberapa desain CBDC memakai chip keamanan khusus pada ponsel atau kartu, yang menyimpan sejumlah nilai CBDC sementara, mirip seperti saldo pada kartu e-money biasa.
  • Sinkronisasi tertunda (delayed synchronization) — transaksi tetap dicatat di perangkat masing-masing pengguna saat offline, lalu data ini akan disinkronkan ke sistem pusat begitu salah satu pihak kembali terhubung ke internet.

Batasan yang Biasanya Diberlakukan pada Transaksi Offline

Karena transaksi offline berpotensi lebih sulit diawasi secara real-time, sebagian besar desain CBDC menerapkan sejumlah batasan, seperti:

  • Batas nominal transaksi — biasanya hanya berlaku untuk transaksi bernilai kecil, guna membatasi risiko jika terjadi penyalahgunaan.
  • Batas saldo yang bisa disimpan secara offline — mencegah risiko kerugian besar jika perangkat hilang atau dicuri.
  • Kewajiban sinkronisasi berkala — pengguna tetap diwajibkan menyambungkan perangkatnya ke internet secara berkala untuk memperbarui data transaksi ke sistem pusat.

Tantangan dalam Mewujudkan Transaksi Offline yang Aman

Meski terdengar menjanjikan, mewujudkan transaksi offline yang tetap aman bukan perkara mudah. Beberapa tantangan utamanya:

  • Mencegah pengeluaran ganda (double-spending) — tanpa koneksi real-time ke sistem pusat, ada risiko satu unit CBDC dipakai lebih dari sekali sebelum sistem sempat memverifikasi transaksi sebelumnya.
  • Keamanan perangkat — karena nilai CBDC sempat “tersimpan” di perangkat pengguna, perangkat tersebut perlu dilindungi dengan sistem keamanan yang sangat kuat agar tidak mudah diretas atau dimanipulasi.
  • Kompleksitas teknis — merancang sistem yang tetap akurat dan konsisten meski sempat terputus dari jaringan pusat membutuhkan teknologi dan pengujian yang matang.

Contoh Pendekatan di Beberapa Negara

Beberapa negara yang sudah menguji coba CBDC, seperti China dengan e-CNY, telah mengeksplorasi fitur pembayaran offline lewat teknologi NFC pada ponsel, memungkinkan dua pengguna saling bertransaksi hanya dengan mendekatkan perangkat mereka, tanpa perlu koneksi internet aktif saat transaksi berlangsung.

Apakah Semua CBDC Akan Punya Fitur Offline?

Belum tentu. Fitur offline payment membutuhkan investasi teknologi dan kajian keamanan tambahan, sehingga tidak semua negara akan langsung menerapkannya sejak tahap awal peluncuran CBDC. Sebagian negara mungkin memilih fokus dulu pada sistem online yang lebih sederhana, sebelum secara bertahap mengembangkan kemampuan transaksi offline di masa mendatang.

Tabel Ringkasan

Aspek Transaksi Online CBDC Transaksi Offline CBDC
Kebutuhan internet Wajib terhubung Tidak wajib saat transaksi berlangsung
Verifikasi transaksi Real-time ke sistem pusat Tertunda, disinkronkan kemudian
Risiko utama Bergantung stabilitas jaringan Potensi double-spending, keamanan perangkat
Batas nominal Umumnya lebih fleksibel Biasanya dibatasi lebih ketat

Penutup

Kemampuan bertransaksi tanpa internet menjadi salah satu fitur penting yang bisa membuat CBDC benar-benar setara dengan fleksibilitas uang tunai. Meski masih menghadapi berbagai tantangan teknis, terutama soal keamanan dan pencegahan penyalahgunaan, sejumlah negara sudah mulai menguji coba pendekatan ini. Ke depan, keberhasilan fitur offline payment bisa menjadi salah satu faktor penentu, seberapa jauh CBDC bisa benar-benar menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di daerah dengan akses internet terbatas.