Pengantar
CBDC bukan lagi sekadar wacana yang dibahas segelintir ekonom atau bank sentral progresif. Memasuki tahun 2026, lebih dari 130 negara yang mewakili hampir seluruh perekonomian dunia sedang meneliti, menguji coba, atau bahkan sudah meluncurkan mata uang digital resmi mereka sendiri. Yuk kita bahas lebih dalam bagaimana peta persaingan global CBDC ini terlihat saat ini, dan apa yang mendorong begitu banyak negara ikut serta dalam perlombaan ini.
Kenapa Disebut Sebagai “Perlombaan”?
Istilah perlombaan cukup pas menggambarkan situasi ini, karena CBDC bukan cuma soal efisiensi pembayaran domestik semata, tapi juga menyangkut posisi strategis suatu negara dalam sistem keuangan global. Negara yang lebih dulu matang mengembangkan CBDC berpotensi memiliki pengaruh lebih besar dalam menentukan standar teknis dan tata kelola uang digital di masa depan, termasuk dalam konteks transaksi lintas negara.
Peta Perkembangan CBDC di Berbagai Kawasan
China: Pemimpin dari Sisi Skala
China lewat e-CNY menjadi salah satu proyek CBDC dengan skala transaksi terbesar di dunia, sudah diperluas ke lebih dari 30 kota dan dipakai untuk berbagai skenario, mulai dari transaksi ritel harian hingga sebagian pembayaran gaji pemerintah di beberapa provinsi. e-CNY bahkan mulai dijajaki untuk transaksi lintas negara lewat kerja sama proyek mBridge.
Kawasan Eropa: Pendekatan Hati-Hati dan Bertahap
Bank Sentral Eropa saat ini berada dalam fase persiapan digital euro setelah menyelesaikan fase investigasi beberapa tahun sebelumnya, dengan keputusan peluncuran resmi diperkirakan menyusul pada siklus legislatif berikutnya. Pendekatan Eropa cenderung lebih hati-hati, mempertimbangkan matang-matang isu privasi dan dampaknya terhadap sistem perbankan sebelum benar-benar meluncurkan secara luas.
Amerika Serikat: Memilih Jalur Berbeda
Berbeda dengan banyak negara lain, Amerika Serikat justru mengambil arah kebijakan yang menahan laju CBDC ritel. Lewat undang-undang yang disahkan pertengahan 2025, bank sentral AS secara eksplisit dilarang menerbitkan CBDC ritel, dan sebagai gantinya pemerintah AS lebih memilih mendorong kerangka regulasi bagi stablecoin swasta sebagai alternatif uang digital.
Negara-Negara dengan CBDC Ritel yang Sudah Beroperasi
Beberapa negara sudah lebih dulu meluncurkan CBDC ritel secara resmi dan beroperasi di masyarakat, seperti Bahama dengan Sand Dollar (salah satu CBDC ritel tertua di dunia), Jamaika dengan JAM-DEX, dan Nigeria dengan eNaira. Meski sudah berjalan, tingkat adopsi di beberapa negara ini masih bervariasi, dengan sebagian besar penggunaan awal terkonsentrasi pada penyaluran bantuan pemerintah dibanding transaksi ritel organik masyarakat.
Rusia dan Brasil: Pendatang Baru yang Agresif
Rusia menargetkan peluncuran digital ruble secara massal ke publik pada September 2026, dengan kewajiban bagi bank-bank besar dan peritel utama untuk mendukung pembayaran ini. Brasil juga mulai menguji coba CBDC dalam skala terbatas sejak awal 2026, dengan fokus unik pada penyelesaian aset yang sudah ditokenisasi, menjadikannya salah satu pelopor infrastruktur keuangan tokenisasi di Amerika Latin.
India: Pertumbuhan Signifikan
India terus mendorong perluasan penggunaan rupee digital mereka, dengan peningkatan sirkulasi yang cukup signifikan dalam setahun terakhir, menunjukkan keseriusan mereka dalam mendorong adopsi CBDC ritel secara lebih luas.

Indonesia: Pendekatan Bertahap lewat Proyek Garuda
Seperti sudah dibahas dalam berbagai pembahasan sebelumnya, Indonesia mengembangkan Rupiah Digital lewat Proyek Garuda, dengan pendekatan bertahap dimulai dari wholesale CBDC untuk transaksi antarbank, sebelum nantinya melangkah ke tahap yang melibatkan masyarakat luas.
Perlombaan di Level Wholesale: Kolaborasi Antarnegara
Menariknya, aktivitas CBDC paling intens saat ini justru bukan di level ritel, melainkan di level wholesale dan lintas negara. Proyek seperti Project Agora, yang dikoordinasikan lewat kerja sama beberapa bank sentral besar dunia bersama berbagai lembaga keuangan swasta, menunjukkan bahwa kolaborasi internasional menjadi arah penting dalam pengembangan CBDC untuk transaksi antarbank dan lintas negara.
Apa yang Mendorong Persaingan Ini?
Beberapa faktor yang mendorong begitu banyak negara berlomba mengembangkan CBDC mereka masing-masing:
- Menjaga kedaulatan moneter, di tengah maraknya stablecoin swasta dan cryptocurrency yang berpotensi menggerus kendali negara atas mata uangnya sendiri.
- Efisiensi transaksi lintas negara, terutama untuk mengurangi biaya dan waktu transaksi internasional yang selama ini masih mahal dan lambat.
- Posisi geopolitik dan pengaruh ekonomi, negara yang lebih dulu matang dalam CBDC berpotensi memiliki pengaruh lebih besar dalam menentukan standar global uang digital di masa depan.
Perbedaan Pendekatan yang Mencerminkan Prioritas Berbeda
Menariknya, perlombaan ini tidak berarti semua negara bergerak dengan kecepatan dan arah yang sama. Ada negara yang sangat agresif mendorong CBDC ritel secara luas, ada yang memilih fokus dulu pada wholesale, dan ada pula yang secara eksplisit memilih tidak mengembangkan CBDC ritel sama sekali, lebih memilih mendukung inovasi swasta seperti stablecoin dengan regulasi yang jelas. Perbedaan ini mencerminkan bagaimana masing-masing negara punya pertimbangan berbeda soal keseimbangan antara inovasi, kendali negara, dan peran sektor swasta dalam sistem keuangan mereka.
Tabel Ringkasan Status Global (per awal 2026)
| Negara/Kawasan | Status CBDC |
|---|---|
| China | Pilot skala besar, e-CNY sudah dipakai luas di lebih dari 30 kota |
| Uni Eropa | Fase persiapan digital euro, keputusan peluncuran masih ditunggu |
| Amerika Serikat | CBDC ritel dilarang secara hukum, fokus ke regulasi stablecoin |
| Bahama, Jamaika, Nigeria | CBDC ritel sudah beroperasi, adopsi masih bertahap |
| Rusia | Menargetkan peluncuran massal pada September 2026 |
| Brasil | Uji coba terbatas, fokus pada tokenisasi aset |
| India | Sirkulasi rupee digital terus meningkat signifikan |
| Indonesia | Tahap wholesale lewat Proyek Garuda, menuju tahap lanjutan |
Penutup
Perlombaan mata uang digital bank sentral di dunia menunjukkan gambaran yang jauh dari seragam, setiap negara mengambil pendekatan dan kecepatan yang berbeda sesuai prioritas dan kondisi masing-masing. Meski begitu, satu hal yang jelas terlihat, CBDC bukan lagi sekadar eksperimen teknologi, melainkan sudah menjadi bagian nyata dari strategi ekonomi dan geopolitik banyak negara di dunia. Perkembangan ini kemungkinan besar akan terus berubah cepat, sehingga penting bagi siapa pun yang tertarik dengan topik ini untuk terus mengikuti perkembangan terbaru dari waktu ke waktu.









