Pengantar
Cara perusahaan memberikan akses ke jaringan telah berubah. Pekerja kini dapat mengakses aplikasi dari kantor, rumah, perangkat pribadi, hingga cloud.
Traditional VPN sudah lama digunakan untuk kebutuhan tersebut. Namun, pendekatan ini memiliki keterbatasan ketika organisasi membutuhkan kontrol akses yang lebih spesifik.
Sebagai alternatif, Zero Trust Network Access (ZTNA) menerapkan prinsip zero trust. NIST menjelaskan bahwa zero trust tidak memberikan kepercayaan secara otomatis hanya berdasarkan lokasi jaringan. Setiap akses perlu melalui proses autentikasi dan otorisasi yang sesuai (dikutip dari: NIST – Zero Trust Architecture).
Apa Itu Traditional VPN?
Virtual Private Network (VPN) membuat koneksi terenkripsi antara perangkat pengguna dan jaringan perusahaan.
Setelah terhubung, pengguna biasanya dapat mengakses resource internal berdasarkan aturan jaringan yang telah ditentukan.
Pendekatan ini efektif untuk menghubungkan pengguna dengan jaringan internal. Namun, akses tersebut dapat menjadi terlalu luas jika segmentasi dan kontrol tambahan tidak diterapkan dengan baik.
Karena itu, VPN tradisional lebih berfokus pada akses ke jaringan, bukan akses ke satu aplikasi atau resource tertentu.
baca juga : AS-REP Roasting: Mengenal Serangan Kerberos untuk Mencuri Kredensial Active Directory
Apa Itu Zero Trust Network Access?
ZTNA merupakan pendekatan akses yang menerapkan prinsip zero trust untuk memberikan akses ke aplikasi atau resource tertentu.
Pengguna tidak langsung dipercaya hanya karena sudah berada di jaringan perusahaan. Sebaliknya, identitas pengguna, perangkat, kebijakan keamanan, dan konteks akses dapat diperiksa sebelum akses diberikan.
NIST menekankan bahwa zero trust berfokus pada perlindungan resource, bukan sekadar perimeter atau segmen jaringan (dikutip dari: NIST SP 800-207 – Zero Trust Architecture).
Perbedaan ZTNA dan Traditional VPN
| Aspek | Traditional VPN | ZTNA |
|---|---|---|
| Fokus | Akses jaringan | Akses resource |
| Kepercayaan | Berdasarkan koneksi dan kebijakan jaringan | Berdasarkan identitas dan konteks |
| Akses | Dapat mencakup jaringan internal | Lebih spesifik ke aplikasi |
| Segmentasi | Biasanya membutuhkan konfigurasi tambahan | Lebih berorientasi pada akses granular |
| Model keamanan | Perimeter-based | Zero trust |
| Cocok untuk | Akses jaringan internal | Cloud, hybrid work, dan aplikasi modern |
Perbedaan tersebut membuat ZTNA lebih sesuai untuk lingkungan yang memiliki banyak aplikasi cloud dan pengguna dari berbagai lokasi.
Bagaimana ZTNA Memberikan Akses?
Proses ZTNA dapat dipahami melalui beberapa tahap sederhana.
1. Pengguna Meminta Akses
Pengguna mencoba mengakses aplikasi atau resource tertentu.
2. Identitas Diverifikasi
Sistem memeriksa identitas pengguna. Multi-factor authentication (MFA) juga dapat digunakan sebagai lapisan tambahan.
3. Perangkat Diperiksa
Selain identitas, kondisi perangkat dapat menjadi bagian dari kebijakan akses.
Misalnya, perangkat yang tidak memenuhi persyaratan keamanan dapat ditolak.
4. Kebijakan Dievaluasi
Sistem menentukan apakah permintaan memenuhi kebijakan yang berlaku.
5. Akses Diberikan
Jika memenuhi persyaratan, pengguna mendapatkan akses ke resource yang diizinkan.
Dengan model tersebut, pengguna tidak otomatis mendapatkan akses ke seluruh jaringan internal.

Kelebihan Traditional VPN
VPN masih memiliki beberapa keunggulan.
Implementasi Lebih Familiar
Teknologi VPN sudah lama digunakan sehingga banyak administrator memahami cara konfigurasi dan pengelolaannya.
Cocok untuk Akses Jaringan
Jika pengguna memang membutuhkan akses ke berbagai resource internal, VPN dapat menjadi pilihan praktis.
Infrastruktur Sudah Banyak Tersedia
Banyak perangkat jaringan dan sistem operasi telah mendukung VPN secara langsung.

Kelebihan ZTNA
ZTNA menawarkan pendekatan yang lebih granular.
Akses Lebih Spesifik
Pengguna dapat diberikan akses hanya ke aplikasi tertentu. Dengan demikian, akses tidak harus mencakup seluruh jaringan.
Mengurangi Implicit Trust
ZTNA tidak menganggap pengguna aman hanya karena berhasil masuk ke jaringan.
baca juga : LSASS Memory Dumping: Mengenal Teknik Pencurian Kredensial Windows dan Cara Mendeteksinya
Mendukung Cloud dan Remote Work
Model ini cocok untuk organisasi yang memiliki pengguna dan aplikasi tersebar di berbagai lokasi.
CISA juga menjelaskan bahwa zero trust mendorong kontrol keamanan lebih dekat dengan aplikasi, data, dan resource, sekaligus mendukung segmentasi serta visibilitas jaringan yang lebih baik (dikutip dari: CISA – Zero Trust Maturity Model).
Apakah ZTNA Selalu Lebih Baik dari VPN?
Tidak selalu.
VPN masih relevan untuk kebutuhan tertentu, terutama ketika organisasi membutuhkan koneksi jaringan internal yang relatif sederhana.
Namun, ZTNA lebih menarik ketika organisasi memiliki:
- Banyak pengguna remote.
- Aplikasi berbasis cloud.
- Infrastruktur hybrid.
- Banyak perangkat pribadi.
- Kebutuhan akses granular.
- Persyaratan keamanan yang lebih ketat.
Karena itu, pemilihan teknologi sebaiknya disesuaikan dengan arsitektur dan kebutuhan organisasi.
Tantangan Implementasi ZTNA
ZTNA juga memiliki tantangan.
Integrasi Identitas
ZTNA membutuhkan sistem identitas dan autentikasi yang baik. Integrasi dengan Identity Provider (IdP) menjadi bagian penting dalam implementasi.
Perubahan Arsitektur
Migrasi dari VPN ke ZTNA bukan sekadar mengganti satu produk dengan produk lain. Organisasi perlu meninjau aplikasi, identitas, perangkat, dan kebijakan akses.
Pengelolaan Kebijakan
Semakin banyak aplikasi dan pengguna, semakin banyak pula kebijakan yang perlu dikelola.
NIST sendiri menekankan bahwa tidak ada satu pendekatan ZTNA yang cocok untuk semua organisasi. Implementasi perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan arsitektur masing-masing lingkungan (dikutip dari: NIST – Implementing a Zero Trust Architecture).
ZTNA atau VPN, Mana yang Harus Dipilih?
Untuk organisasi dengan infrastruktur tradisional dan kebutuhan akses jaringan yang sederhana, VPN masih dapat menjadi pilihan yang tepat.
Sebaliknya, organisasi dengan lingkungan cloud, hybrid work, dan kebutuhan akses berbasis aplikasi dapat mempertimbangkan ZTNA.
Dalam praktiknya, keduanya juga dapat digunakan secara bersamaan selama fungsi dan kebijakan aksesnya jelas.
baca juga : Format String Attack: Mengenal Celah Berbahaya pada Fungsi printf dan Cara Mencegahnya
Kesimpulan
Zero Trust Network Access (ZTNA) dan Traditional VPN memiliki tujuan yang sama, yaitu memberikan akses kepada pengguna. Namun, pendekatan keduanya berbeda.
VPN umumnya memberikan akses melalui koneksi ke jaringan. Sementara itu, ZTNA berfokus pada akses terkontrol ke aplikasi dan resource tertentu.
Karena itu, ZTNA dapat menjadi pilihan menarik bagi organisasi yang ingin menerapkan prinsip zero trust, least privilege, dan akses berbasis identitas.
Meski demikian, VPN belum sepenuhnya ditinggalkan. Pilihan terbaik tetap bergantung pada kebutuhan, arsitektur, aplikasi, dan tingkat keamanan organisasi.









