Strategi Optimasi Biaya Cloud Setelah Cloud Migration
a. Sumber Pemborosan Biaya Cloud
Setelah cloud migration berhasil dilakukan, salah satu tantangan terbesar yang sering muncul adalah meningkatnya biaya cloud yang tidak terduga. Banyak perusahaan merasa biaya cloud lebih mahal dibanding perkiraan awal, bahkan lebih tinggi daripada biaya operasional saat masih menggunakan sistem on-premise. Hal ini terjadi bukan karena cloud mahal, melainkan karena banyak organisasi tidak memahami sumber pemborosan biaya dan tidak memiliki strategi optimasi yang tepat.
Sumber pemborosan pertama adalah over-provisioning, yaitu memberikan sumber daya yang terlalu besar dibanding kebutuhan aplikasi. Pada sistem on-premise, kapasitas besar sering dibeli karena server tidak dapat disesuaikan secara dinamis. Ketika berpindah ke cloud, kebiasaan ini terbawa sehingga instance cloud dipilih terlalu besar. Padahal, salah satu keunggulan cloud adalah kemampuan menyesuaikan kapasitas secara otomatis (auto-scaling). Ketika perusahaan tidak memanfaatkan fitur ini, terjadilah pemborosan biaya dalam jumlah besar.
Sumber pemborosan kedua adalah idle resources, yaitu sumber daya yang tidak digunakan tetapi tetap berjalan. Contohnya adalah instance virtual machine yang tidak dipakai di luar jam operasional, database test environment yang lupa dimatikan, serta storage snapshot lama yang tertinggal. Idle resources biasanya tidak terlihat, tetapi jika dibiarkan berbulan-bulan dapat menyebabkan kenaikan biaya signifikan.
Ketiga, pemborosan muncul dari pemilihan layanan yang tidak tepat. Misalnya, perusahaan menggunakan storage berkecepatan tinggi (SSD premium) untuk data arsip yang sebenarnya hanya membutuhkan storage standard. Atau menggunakan compute instance mahal untuk beban kerja yang sebenarnya dapat dijalankan pada layanan serverless yang lebih efisien. Ketidaktepatan pemilihan layanan ini menyebabkan biaya cloud meningkat tanpa memberikan manfaat tambahan.
Sumber pemborosan lain berasal dari kurangnya pemantauan penggunaan. Tanpa monitoring, perusahaan tidak mengetahui pola penggunaan aplikasi, sehingga tidak dapat menyesuaikan kapasitas dengan tepat. Banyak perusahaan hanya memindahkan aplikasi ke cloud tanpa melakukan optimasi, sehingga beban cloud meningkat seiring waktu tanpa kontrol.
Dengan memahami berbagai sumber pemborosan ini, perusahaan dapat memulai langkah pertama dalam strategi optimasi biaya cloud secara lebih efektif.
b. Teknik Optimasi Biaya
Setelah mengetahui sumber pemborosan, langkah berikutnya adalah menerapkan teknik optimasi biaya cloud yang tepat. Salah satu teknik paling mendasar adalah right-sizing, yaitu menyesuaikan ukuran instance sesuai kebutuhan aplikasi. Cloud provider menyediakan berbagai ukuran instance, sehingga perusahaan dapat mengurangi ukuran instance ketika penggunaan CPU atau memori rendah. Right-sizing dapat menghemat biaya hingga 40–60% dalam banyak kasus.
Teknik berikutnya adalah penggunaan auto-scaling. Dengan auto-scaling, kapasitas sistem akan naik ketika ada lonjakan trafik dan turun ketika trafik rendah. Auto-scaling membantu menghindari pemborosan akibat kapasitas tetap yang tidak digunakan sepanjang waktu. Selain itu, auto-scaling meningkatkan performa aplikasi tanpa harus menggunakan kapasitas besar secara permanen.
Untuk workload yang tidak membutuhkan server tetap, perusahaan dapat menggunakan layanan serverless seperti AWS Lambda, Azure Functions, atau Google Cloud Functions. Serverless hanya memerlukan biaya ketika fungsi berjalan, bukan saat idle. Ini sangat efektif untuk aplikasi event-driven atau aplikasi dengan beban tidak stabil. Serverless dapat mengurangi biaya hingga 70% jika dibandingkan dengan virtual machine tradisional.
Teknik optimasi lainnya adalah menggunakan Reserved Instances (RI) atau Savings Plan. Cloud provider memberikan diskon besar hingga 60–72% untuk komitmen pemakaian jangka panjang. Teknik ini cocok untuk aplikasi stabil yang berjalan 24/7. Dengan reserved instances, perusahaan mendapatkan kapasitas cloud dengan biaya jauh lebih murah.
Penerapan storage lifecycle management juga penting. Lifecycle management mengatur data secara otomatis berdasarkan usia data. Misalnya, data yang jarang diakses dipindahkan ke storage murah seperti Glacier, sedangkan data aktif tetap berada pada storage cepat. Dengan cara ini, perusahaan dapat menghemat biaya penyimpanan secara signifikan.
Teknik optimasi berikutnya adalah penghapusan idle resources secara rutin. Banyak perusahaan memiliki cloud resource yang tidak digunakan tetapi tetap membayar. Dengan menerapkan automation script atau scheduled shutdown, idle instance dapat dimatikan secara otomatis di luar jam kerja, sehingga biaya cloud dapat ditekan.
Dengan menerapkan teknik-teknik optimasi ini secara menyeluruh, perusahaan dapat memaksimalkan efisiensi biaya cloud setelah migrasi.
c. Alat Monitoring Biaya Cloud
Strategi optimasi biaya tidak dapat berjalan tanpa monitoring yang baik. Oleh karena itu, perusahaan memerlukan alat monitoring biaya untuk mengetahui penggunaan sumber daya cloud secara real-time dan mengambil keputusan berdasarkan data.
Setiap cloud provider menyediakan alat monitoring biaya bawaan, seperti:
- AWS Cost Explorer
- Azure Cost Management
- Google Cloud Cost Tools
Alat tersebut memberikan grafik penggunaan harian, estimasi tagihan bulanan, serta rekomendasi optimasi biaya. Misalnya, AWS Cost Explorer bisa memberikan saran untuk menghapus idle instance atau melakukan right-sizing.
Selain alat bawaan provider, ada juga alat pihak ketiga seperti:
- CloudHealth
- Cloudability
- Spot by NetApp
- Kubecost (untuk Kubernetes)
Alat-alat ini memberikan analisis lebih mendalam, seperti pengalokasian biaya per departemen, analitik tren biaya jangka panjang, hingga rekomendasi otomatis berdasarkan AI.
Monitoring biaya tidak hanya mencakup penggunaan compute, tetapi juga storage, database, bandwidth, dan layanan pendukung. Banyak perusahaan terkejut ketika melihat biaya bandwidth atau biaya storage snapshot yang tinggi akibat kurangnya monitoring sebelumnya.
Selain monitoring, penting juga untuk menerapkan tagging. Tagging adalah pemberian label pada setiap resource cloud berdasarkan pemilik, proyek, departemen, atau tujuan pemakaian. Tanpa tagging, perusahaan tidak dapat mengidentifikasi sumber biaya dengan jelas. Dengan tagging, perusahaan dapat melihat proyek mana yang memboroskan biaya dan membuat kebijakan optimasi yang lebih tepat.
Dengan memanfaatkan alat monitoring ini, perusahaan dapat mengontrol biaya cloud secara lebih akurat dan mencegah pemborosan sejak awal.
d. Kesimpulan
Optimasi biaya cloud setelah cloud migration merupakan langkah penting untuk memastikan penggunaan cloud memberikan nilai maksimal bagi perusahaan. Tanpa strategi optimasi yang jelas, perusahaan dapat menghadapi pemborosan biaya yang signifikan akibat over-provisioning, idle resources, pemilihan layanan yang salah, dan kurangnya monitoring.
Dengan teknik seperti right-sizing, auto-scaling, penggunaan serverless, reserved instances, lifecycle management, dan penghapusan idle resources, perusahaan dapat mengurangi biaya cloud secara signifikan tanpa mengorbankan performa aplikasi.
Monitoring biaya merupakan komponen penting dalam strategi optimasi. Dengan alat bawaan cloud provider dan alat pihak ketiga, perusahaan dapat memantau penggunaan sumber daya secara real-time, mengidentifikasi pemborosan, serta membuat keputusan berbasis data untuk meningkatkan efisiensi biaya.
Secara keseluruhan, optimasi biaya cloud bukanlah proses satu kali, tetapi proses berkelanjutan yang harus dilakukan secara rutin. Organisasi yang mampu menerapkan strategi optimasi biaya secara konsisten akan mendapatkan keuntungan finansial yang besar dan meningkatkan efisiensi operasional dalam jangka panjang.








