Pengantar
Seiring berkembangnya arsitektur microservices, banyak organisasi menghadapi tantangan serius dalam hal latensi komunikasi dan konsistensi data antar layanan. Ketergantungan sinkron antar service sering kali menyebabkan bottleneck, meningkatkan response time, dan membuat sistem rapuh saat traffic melonjak.
Untuk mengatasi masalah ini, Event-Driven Architecture (EDA) menjadi pendekatan yang semakin banyak diadopsi. Alih-alih bergantung pada komunikasi langsung antar layanan, EDA memanfaatkan event sebagai pemicu utama alur bisnis—membuat sistem lebih responsif, scalable, dan resilien.
Apa Itu Event-Driven Architecture?
Event-Driven Architecture adalah pola desain sistem di mana komponen aplikasi berkomunikasi melalui event, bukan melalui request langsung. Event merepresentasikan perubahan status atau kejadian penting dalam sistem.
Menurut Martin Fowler, event-driven system memungkinkan layanan bereaksi terhadap kejadian tanpa harus mengetahui siapa pengirim atau penerima event tersebut (dikutip dari Martin Fowler).
baca juga : Modus ‘Ghost-Click’: Malware yang Bisa Menguras Saldo Mobile Banking Tanpa Anda Menyentuh Layar
Masalah Umum Microservices Tanpa Event-Driven Architecture
Latensi Akibat Komunikasi Sinkron
Dalam arsitektur sinkron:
-
Service A menunggu respons Service B
-
Jika Service B lambat, seluruh alur terhambat
-
Latensi meningkat secara berantai
Pada skala enterprise, pola ini berpotensi menyebabkan cascading failure.
Konsistensi Data yang Sulit Dijaga
Microservices memiliki database masing-masing. Tanpa mekanisme event:
-
Sinkronisasi data menjadi kompleks
-
Transaksi lintas service sulit dikelola
-
Risiko data tidak konsisten meningkat
Bagaimana Event-Driven Architecture Mengatasi Latensi?
Asynchronous Communication
EDA memungkinkan layanan:
-
Mengirim event tanpa menunggu respons
-
Memproses event secara paralel
-
Mengurangi ketergantungan antar service
Dampaknya
-
Response time lebih cepat
-
Sistem lebih tahan terhadap lonjakan traffic
-
Failure satu service tidak langsung menjatuhkan sistem lain
baca juga : Cloud Engineer vs Cloud Architect: Apa Bedanya dan Mana yang Cocok untukmu?
Decoupling Antar Layanan
Dengan event broker (seperti message queue atau streaming platform), service:
-
Tidak saling mengenal secara langsung
-
Dapat berkembang dan di-deploy secara independen
-
Lebih mudah diskalakan
Menjaga Konsistensi Data dengan Event
Eventual Consistency
EDA umumnya menerapkan eventual consistency, di mana data akan konsisten setelah seluruh event diproses.
Kenapa Ini Efektif
-
Cocok untuk sistem terdistribusi
-
Menghindari transaksi sinkron lintas database
-
Mengurangi lock dan contention
Event Sourcing dan Audit Trail
Event juga dapat digunakan sebagai:
-
Sumber kebenaran (event sourcing)
-
Jejak audit perubahan data
-
Mekanisme recovery saat kegagalan
event-driven microservices sangat efektif untuk sistem yang membutuhkan skalabilitas tinggi dan fault tolerance (dikutip dari Phintaro)
Tantangan Implementasi Event-Driven Architecture
Kompleksitas Debugging
-
Alur eksekusi tidak linear
-
Perlu observability yang baik
-
Logging dan tracing menjadi krusial
Manajemen Event yang Buruk
-
Event schema tidak terkontrol
-
Duplikasi event
-
Risiko data diproses lebih dari sekali
Karena itu, EDA membutuhkan governance dan desain yang matang, bukan sekadar adopsi teknologi.
baca juga : Zero Trust Architecture: Pendekatan Mengamankan Sistem di Era Digital
Kesimpulan
Event-Driven Architecture menawarkan solusi efektif untuk mengatasi latensi dan masalah konsistensi data pada sistem microservices yang kompleks. Dengan komunikasi asynchronous dan decoupling antar layanan, EDA membantu membangun sistem yang lebih scalable, resilien, dan siap menghadapi pertumbuhan skala enterprise.
Namun, keberhasilan EDA sangat bergantung pada desain event, observability, dan disiplin arsitektur. Jika diterapkan dengan tepat, EDA bukan hanya mengurangi masalah teknis, tetapi juga meningkatkan kecepatan inovasi bisnis.










3 Comments
Persiapan Era Post-Quantum: Mengapa Algoritma RSA Mulai Ditinggalkan dan Apa Itu Lattice-Based Cryptography? - buletinsiber.com
7 days ago[…] baca juga : Event-Driven Architecture: Mengatasi Masalah Latensi dan Konsistensi Data pada Sistem Microservices … […]
WebAssembly (Wasm): Membawa Performa Bahasa C++ dan Rust ke Browser untuk Komputasi Berat di Sisi Client - buletinsiber.com
7 days ago[…] baca juga : Event-Driven Architecture: Mengatasi Masalah Latensi dan Konsistensi Data pada Sistem Microservices … […]
Security as Code: Mengintegrasikan Pemindaian Kerentanan Otomatis ke dalam Pipeline CI/CD Jenkins dan GitLab - buletinsiber.com
6 days ago[…] baca juga : Event-Driven Architecture: Mengatasi Masalah Latensi dan Konsistensi Data pada Sistem Microservices … […]