Pengantar

Dalam banyak insiden keamanan siber, kompromi awal terhadap satu PC karyawan sering kali bukan akhir serangan, melainkan justru awal dari masalah yang lebih besar. Setelah mendapatkan akses awal, peretas akan melakukan lateral movement, yaitu berpindah dari satu sistem ke sistem lain di dalam jaringan internal.

Teknik ini memungkinkan penyerang menjangkau server penting, database sensitif, hingga sistem kritis perusahaan—tanpa harus menembus perimeter keamanan dari luar lagi. Karena terjadi “di dalam jaringan”, lateral movement sering kali luput dari deteksi sistem keamanan tradisional.


Apa Itu Lateral Movement?

Definisi Lateral Movement

Lateral movement adalah teknik di mana penyerang menggunakan akses awal yang sah atau semi-sah untuk berpindah antar host, server, atau akun dalam satu jaringan guna memperluas kendali mereka.

MITRE ATT&CK mendefinisikan lateral movement sebagai bagian penting dari fase pasca-kompromi dalam serangan siber modern (dikutip dari Mitre Attack).

baca juga : Race Condition: Celah Logika yang Membuat Aplikasi Anda Melakukan Transaksi Ganda


Mengapa Lateral Movement Sangat Berbahaya?

Karena:

  • Terjadi setelah autentikasi berhasil

  • Memanfaatkan kredensial valid

  • Sering terlihat seperti aktivitas normal admin IT

Akibatnya, serangan bisa berlangsung lama tanpa disadari (dwell time tinggi).


Bagaimana Peretas Melakukan Lateral Movement?

Mengumpulkan Kredensial dari Sistem Awal

Setelah menjebol satu PC, peretas biasanya:

  • Mengambil password yang tersimpan

  • Mencuri hash NTLM

  • Mengambil token autentikasi aktif

Kredensial ini menjadi “kunci” untuk sistem lain di jaringan.


Memanfaatkan Protokol Internal

Protokol yang Sering Disalahgunakan
  • SMB

  • RDP

  • WinRM

  • SSH

Karena protokol ini umum dipakai admin, aktivitas berbahaya sering terlihat normal di log.

baca juga : Evil Twin Attack: Cara Peretas Menduplikasi Wi-Fi Publik untuk Mencuri Kredensial User


Pass-the-Hash dan Pass-the-Ticket

Dengan teknik ini, peretas:

  • Tidak perlu mengetahui password asli

  • Cukup menggunakan hash atau tiket Kerberos

  • Bisa langsung mengakses server lain

CrowdStrike menyebut teknik ini sebagai salah satu metode lateral movement paling umum dalam serangan enterprise (dikutip dari CrowdStrike).


Target Utama Lateral Movement

Domain Controller

Domain Controller adalah “mahkota” jaringan Windows. Jika berhasil diakses, peretas dapat:

  • Mengontrol seluruh domain

  • Membuat akun admin baru

  • Menonaktifkan keamanan


File Server dan Database

Server ini sering berisi:

  • Data pelanggan

  • Dokumen internal

  • Backup penting

Akses ke server ini sering menjadi tujuan sebelum ransomware dijalankan.


Sistem Monitoring dan Backup

Menguasai sistem ini memungkinkan peretas:

  • Menghapus log

  • Menonaktifkan alert

  • Menghambat proses recovery


Strategi Mencegah dan Mendeteksi Lateral Movement

Segmentasi Jaringan

Pisahkan:

  • User workstation

  • Server aplikasi

  • Server database

Dengan segmentasi, kompromi satu PC tidak otomatis membuka akses ke seluruh jaringan.


Prinsip Least Privilege

Pastikan:

  • User hanya punya akses yang dibutuhkan

  • Akun admin tidak dipakai untuk aktivitas harian

  • Kredensial sensitif dibatasi per sistem


Monitoring Perilaku, Bukan Hanya Signature

Deteksi modern harus fokus pada:

  • Pola login tidak wajar

  • Akses lintas sistem yang tidak biasa

  • Penggunaan kredensial di luar konteks normal


Proteksi Kredensial

Langkah penting:

  • Gunakan MFA

  • Nonaktifkan credential caching berlebih

  • Amankan Kerberos dan NTLM

baca juga : Complexity Attack: Bagaimana Struktur Data yang Buruk Bisa Dimanfaatkan untuk Serangan ReDoS


Kesimpulan

Lateral movement adalah fase krusial yang menentukan apakah sebuah serangan berhenti di satu PC atau berkembang menjadi kompromi total jaringan perusahaan. Dengan memanfaatkan kredensial valid dan protokol internal, peretas dapat bergerak bebas tanpa memicu alarm tradisional.

Pendekatan keamanan modern harus berfokus pada pencegahan pasca-breach, dengan segmentasi jaringan, pembatasan hak akses, dan deteksi berbasis perilaku. Ingat, dalam banyak kasus, serangan terbesar tidak datang dari luar, tetapi bergerak diam-diam dari dalam.