Pengantar
Di era digital saat ini, serangan siber tidak selalu dimulai dari celah sistem yang kompleks. Justru, banyak insiden keamanan besar berawal dari kesalahan sederhana dalam penulisan kode. Secure coding bukan hanya tanggung jawab tim keamanan, tetapi juga kebiasaan sehari-hari para programmer.
Tanpa disadari, kebiasaan buruk yang dianggap “sepele” dapat berubah menjadi pintu masuk utama bagi peretas. Artikel ini membahas lima kebiasaan buruk programmer yang paling sering dieksploitasi dan mengapa secure coding harus menjadi bagian dari budaya pengembangan software.
Apa Itu Secure Coding?
Fondasi Keamanan Aplikasi
Secure coding adalah praktik menulis kode dengan mempertimbangkan aspek keamanan sejak tahap awal pengembangan. Tujuannya adalah mencegah celah seperti SQL Injection, XSS, authentication bypass, hingga remote code execution.
OWASP menekankan bahwa banyak kerentanan aplikasi muncul bukan karena teknologi yang digunakan, melainkan karena kesalahan implementasi kode (dikutip dari OWASP).
baca juga : Cloud Misconfiguration: Celah Sederhana yang Membuat Data Perusahaan Terbuka ke Publik
5 Kebiasaan Buruk Programmer yang Berbahaya
1. Tidak Melakukan Validasi Input
Percaya Penuh pada Data dari User
Menganggap semua input pengguna aman adalah kesalahan fatal. Tanpa validasi yang tepat, input dapat digunakan untuk:
-
SQL Injection
-
Command Injection
-
Cross-Site Scripting (XSS)
Input apa pun—dari form, URL, hingga API—harus selalu dianggap tidak tepercaya.
2. Menyimpan Password Tanpa Enkripsi
Plain Text adalah Undangan Bencana
Masih ada aplikasi yang menyimpan password dalam bentuk teks biasa atau menggunakan hash lemah tanpa salt. Jika database bocor, seluruh akun pengguna akan langsung terekspos.
Praktik aman meliputi:
-
hashing kuat (bcrypt, Argon2)
-
penggunaan salt
-
pengaturan rate limit login
3. Mengabaikan Error Handling yang Aman
Pesan Error Terlalu Detail
Error message yang menampilkan:
-
struktur database
-
path file server
-
stack trace lengkap
memberikan informasi berharga bagi penyerang untuk memahami sistem internal aplikasi.
4. Menggunakan Library Usang dan Rentan
Dependency yang Tidak Pernah Di-update
Library lama sering mengandung celah keamanan yang sudah diketahui publik. Tanpa pembaruan rutin, aplikasi menjadi target empuk eksploitasi otomatis.
Menurut NIST, penggunaan komponen pihak ketiga yang rentan adalah salah satu faktor utama risiko keamanan aplikasi modern (dikutip dari NIST).
5. Menganggap Keamanan Bisa Ditambahkan Belakangan
Security sebagai “Tahap Akhir”
Banyak developer fokus pada fitur dan performa, lalu menganggap keamanan bisa ditambahkan setelah aplikasi selesai. Padahal, pendekatan ini sering berujung pada:
-
perbaikan mahal
-
refactoring besar
-
risiko kebocoran data
Secure coding seharusnya diterapkan sejak fase desain, bukan sebagai tambalan di akhir.
baca juga : API Leaks: Mengapa ‘Pintu Belakang’ Aplikasi Anda Lebih Sering Kebobolan Daripada Pintu Depan
Mengapa Kebiasaan Ini Sulit Dihilangkan?
Tekanan Deadline dan Kurangnya Awareness
Faktor utama penyebab kebiasaan buruk ini antara lain:
-
tuntutan rilis cepat
-
minimnya edukasi keamanan
-
asumsi bahwa “tidak akan diserang”
Padahal, banyak serangan siber bersifat otomatis dan oportunistik, tidak peduli seberapa besar atau kecil aplikasi Anda.
Langkah Awal Membangun Secure Coding Culture
Perubahan Kecil, Dampak Besar
Beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan:
-
code review dengan fokus keamanan
-
static code analysis
-
secure coding guideline internal
-
pelatihan keamanan untuk developer
baca juga : Prompt Injection: Menguak Celah Keamanan yang Bisa Membajak Logika AI
Kesimpulan
Secure coding bukan tentang menulis kode yang sempurna, tetapi tentang menghindari kebiasaan buruk yang membuka celah keamanan. Lima kebiasaan di atas sering kali dianggap sepele, namun justru menjadi penyebab utama banyak serangan siber.
Dengan menjadikan keamanan sebagai bagian dari kebiasaan coding sehari-hari, programmer tidak hanya membangun aplikasi yang fungsional, tetapi juga tangguh terhadap ancaman siber.









