Jakarta, 2 Februari 2026
Yth. Wakil Presiden Republik Indonesia Bapak Gibran Rakabuming Raka Di Tempat
Dengan hormat,
Perkenankan saya menulis surat ini sebagai seorang warga negara indonesia yang menaruh harapan besar pada kemajuan teknologi di tanah air. Saya menulis bukan untuk menggurui Bapak yang tentu memiliki pemahaman luas atas dinamika negara namun lebih sebagai bentuk kontribusi pemikiran dari lapangan demi kepentingan republik yang kita cintai.
Saya mengapresiasi keseriusan Bapak dalam mensosialisasikan Artificial Intelligence (AI) di setiap kunjungan kerja. Jujur, saya sangat mendukung langkah Bapak yang gencar membawa diskursus teknologi masa depan ini ke ruang publik. Namun, ada beberapa kegelisahan mendalam yang ingin saya sampaikan.
Tanpa langkah strategis yang konkret, saya khawatir masyarakat akan menilai aktivitas Bapak hanyalah sebatas “gimmick” atau “riding the wave” sekadar menunggangi tren yang memang sedang populer agar terlihat relevan, namun rapuh dalam penerapan & implementasi.
Perlu dipahami bahwa AI bukan sekadar soal efisiensi, kecepatan kerja, otomatisasi, atau kemudahan administratif. Lebih jauh dari itu, AI adalah pilar utama dalam menjaga kedaulatan data dan ketahanan negara. Jika kita tidak menguasai teknologinya secara mandiri, kita hanya akan menjadi bangsa yang telanjang di mata dunia digital.
Sosialisasi tanpa dukungan nyata terhadap ekosistem inovasi lokal hanyalah omong kosong. Jika anda hanya menekankan pada “belajar AI” tanpa memberikan panggung dan dukungan bagi kreator lokal untuk membangun sistem yang berbasis AI yang dikonsumsi oleh masyarakat, saya bisa pastikan kita hanya akan berakhir sebagai bangsa yang konsumtif pasar besar bagi produk luar. upaya mengikuti tren global, namun kehilangan substansi pada aspek ketahanan nasional.
Jika Bapak terus menekankan pada pentingnya “belajar AI” tanpa membangun ekosistem pendukung seperti membangun data center, mensupport produk-produk perangkat lunak lokal, menawarkan kemudahan regulasi, pendanaan riset & penelitian, dan proteksi industri lokal saya bisa pastikan bahwa pada akhirnya kita hanya akan kembali menjadi bangsa yang konsumtif. Kita hanya akan menjadi pasar besar bagi teknologi orang lain, sementara data kita terus mengalir keluar.
Besar harapan saya agar Bapak tidak hanya menjadi “wajah” dari tren AI, tetapi juga menjadi motor penggerak terciptanya ekosistem yang mandiri. Jangan biarkan potensi anak muda Indonesia layu sebelum berkembang hanya karena negara gagal memberikan ruang bagi inovasi mereka.
Hormat saya,
Muh. Sulkifly Said









