Pengantar

​Bagi Anda yang sempat melewati era tahun 2000-an, mungkin masih ingat betapa ramainya iklan televisi yang menawarkan paket telepon murah “Rp1 per detik” atau ponsel mungil yang nomornya harus “disuntik” di gerai resmi. Itulah masa kejayaan persaingan dua teknologi komunikasi: GSM dan CDMA. Kini, di era 5G, persaingan itu sudah menjadi sejarah, namun fondasi yang mereka bangun telah mengubah cara kita berkomunikasi selamanya.

​Mengenal Sang Penguasa Global: GSM

​GSM (Global System for Mobile Communications) lahir dari kebutuhan Eropa akan standar komunikasi yang seragam. Bayangkan jika setiap negara punya sistem berbeda, Anda tidak akan bisa membawa ponsel saat bepergian ke luar negeri.

  • Cara Kerja: GSM menggunakan teknologi TDMA (Time Division Multiple Access). Sederhananya, jaringan ini membagi waktu menjadi fragmen-fragmen kecil; data Anda dan orang lain dikirim secara bergantian dengan sangat cepat sehingga terasa seperti sambungan terus-menerus.
  • Keunggulan Utama: Keberadaan Kartu SIM. GSM membuat ponsel menjadi perangkat yang bebas. Jika Anda ingin ganti HP, cukup pindahkan kartu SIM, dan nomor Anda pun ikut pindah.

​Mengenal Sang Inovator Efisien: CDMA

​Di sisi lain, ada CDMA (Code Division Multiple Access) yang dimotori oleh raksasa teknologi Amerika, Qualcomm. Jika GSM bermain dengan “waktu”, CDMA bermain dengan “bahasa”.

  • Cara Kerja: Bayangkan sebuah ruangan yang penuh orang berbicara bersamaan. Di GSM, orang-orang bicara bergantian. Di CDMA, semua orang bicara bersamaan namun menggunakan bahasa yang berbeda-beda. Hanya ponsel Anda yang punya “kamus” untuk menerjemahkan bahasa tersebut.
  • Keunggulan Utama: CDMA sangat efisien dalam penggunaan frekuensi, sehingga bisa menampung lebih banyak pengguna dalam satu menara pemancar. Suaranya pun seringkali terdengar lebih jernih dan minim gangguan.

​Era Kejayaan di Indonesia: Saat Harga Telepon Jadi Murah

​Sebelum CDMA populer di Indonesia, biaya telepon seluler sangatlah mahal. Namun, kemunculan operator CDMA seperti Flexi, Esia, Fren, dan StarOne mengubah segalanya.

​Kita tentu ingat fenomena “HP Esia” yang sangat terjangkau atau “Telkom Flexi” yang tarifnya setara telepon rumah. Persaingan ini memaksa operator besar GSM seperti Telkomsel, Indosat, dan XL untuk menurunkan tarif mereka. Hasilnya? Ponsel bukan lagi barang mewah, melainkan kebutuhan semua orang.

​Mengapa CDMA Akhirnya “Menyerah”?

​Meskipun secara teknologi CDMA dianggap sangat efisien, GSM akhirnya memenangkan pertempuran global karena beberapa alasan:

  1. Ekosistem Dunia: Hampir seluruh dunia (terutama Eropa dan Asia) mengadopsi GSM. Hal ini membuat produsen ponsel lebih suka membuat perangkat GSM karena pasarnya jauh lebih luas.
  2. Kemudahan Roaming: Pengguna GSM bisa berpindah negara dengan mudah hanya dengan mengganti kartu SIM lokal. Pengguna CDMA seringkali terjebak dengan perangkat yang “terkunci” pada satu operator.
  3. Evolusi ke 4G: Saat dunia beralih ke 4G LTE, standar teknologi yang digunakan lebih condong ke jalur evolusi GSM. Operator CDMA pun perlahan mematikan sinyal mereka dan memindahkan frekuensinya untuk memperkuat jaringan internet 4G.

​Warisan yang Tersisa

​Walaupun merek-merek seperti Esia atau Flexi sudah tinggal kenangan, teknologi CDMA tidak benar-benar mati. Teknik pengkodean yang dikembangkan CDMA sebenarnya menjadi dasar bagi pengembangan teknologi 3G (WCDMA) dan sebagian teknologi di 4G.

​Pertarungan CDMA vs GSM adalah bukti bahwa teknologi terbaik tidak selalu yang paling canggih secara matematis, melainkan yang paling bisa diterima secara luas dan mudah digunakan oleh masyarakat dunia.