Pengantar

Dalam pengembangan perangkat lunak modern, pemilihan arsitektur aplikasi menjadi faktor penting yang menentukan skalabilitas, performa, hingga kemudahan pemeliharaan sistem. Dua pendekatan yang paling sering dibandingkan adalah Monolithic Architecture dan Microservices Architecture.

Kedua arsitektur ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Beberapa perusahaan teknologi besar bahkan melakukan migrasi dari monolith ke microservices untuk meningkatkan fleksibilitas sistem mereka. Namun, tidak semua proyek membutuhkan microservices. Oleh karena itu, memahami perbedaan keduanya sangat penting sebelum menentukan pilihan arsitektur yang tepat.


Apa Itu Monolithic Architecture?

Monolithic Architecture adalah pendekatan pengembangan aplikasi di mana seluruh komponen sistem dibuat dalam satu kesatuan kode program. Dalam model ini, semua fungsi seperti autentikasi, pengolahan data, dan tampilan antarmuka berjalan dalam satu aplikasi yang terintegrasi.

baca juga : Sharding: Strategi Memecah Database Raksasa Agar Tetap Ringan Saat Melayani Jutaan User

Karakteristik Monolithic Architecture

  • Semua modul aplikasi berada dalam satu codebase.

  • Deployment dilakukan sebagai satu kesatuan aplikasi.

  • Komponen aplikasi saling terhubung secara langsung.

  • Biasanya menggunakan satu database utama.

Kelebihan Monolithic Architecture

  1. Pengembangan Awal Lebih Sederhana
    Cocok untuk proyek skala kecil hingga menengah karena struktur aplikasinya lebih mudah dipahami.

  2. Deployment Lebih Mudah
    Proses deployment hanya dilakukan pada satu aplikasi sehingga lebih praktis.

  3. Performa Internal Lebih Cepat
    Karena komunikasi antar modul tidak memerlukan jaringan atau API eksternal.

Kekurangan Monolithic Architecture

  1. Sulit Dikembangkan Seiring Pertumbuhan Sistem
    Ketika aplikasi semakin besar, perubahan kecil dapat memengaruhi keseluruhan sistem.

  2. Risiko Downtime Lebih Besar
    Jika satu bagian aplikasi mengalami error, seluruh sistem bisa terdampak.

  3. Kesulitan Skalabilitas
    Skalabilitas hanya bisa dilakukan dengan meningkatkan keseluruhan aplikasi, bukan bagian tertentu.


Apa Itu Microservices Architecture?

Microservices Architecture adalah pendekatan pengembangan aplikasi dengan membagi sistem menjadi beberapa layanan kecil yang berdiri sendiri dan saling berkomunikasi melalui API.

Setiap layanan memiliki fungsi spesifik dan dapat dikembangkan, di-deploy, serta diskalakan secara independen (dikutip dari amazon).

baca juga : Side-Channel Attacks: Membongkar Rahasia Sistem Lewat Celah Tak Terduga

Karakteristik Microservices Architecture

  • Aplikasi terdiri dari banyak layanan kecil.

  • Setiap layanan memiliki database sendiri.

  • Komunikasi antar layanan menggunakan API atau protokol jaringan.

  • Deployment dilakukan secara terpisah untuk setiap layanan.

Kelebihan Microservices Architecture

  1. Skalabilitas Lebih Fleksibel
    Layanan tertentu dapat ditingkatkan tanpa memengaruhi layanan lainnya.

  2. Kemudahan Pengembangan Tim
    Tim dapat bekerja pada layanan berbeda secara paralel.

  3. Ketahanan Sistem Lebih Baik
    Jika satu layanan gagal, layanan lain masih dapat berjalan.

  4. Mendukung Teknologi Beragam
    Setiap layanan dapat menggunakan teknologi yang berbeda sesuai kebutuhan.

Kekurangan Microservices Architecture

  1. Kompleksitas Sistem Lebih Tinggi
    Membutuhkan manajemen komunikasi antar layanan yang baik.

  2. Monitoring dan Debugging Lebih Sulit
    Karena sistem tersebar di berbagai layanan.

  3. Membutuhkan Infrastruktur Lebih Kompleks
    Biasanya memerlukan container, orchestration, dan manajemen API gateway.


Perbandingan Monolith vs Microservices

Skalabilitas

  • Monolith: Skalabilitas terbatas karena seluruh aplikasi harus ditingkatkan.

  • Microservices: Skalabilitas lebih fleksibel karena layanan dapat diskalakan secara individual.

Kompleksitas Pengembangan

  • Monolith: Lebih sederhana dan cocok untuk pemula.

  • Microservices: Lebih kompleks dan membutuhkan pengalaman arsitektur sistem terdistribusi.

Deployment

  • Monolith: Deployment dilakukan secara keseluruhan.

  • Microservices: Deployment dapat dilakukan pada layanan tertentu saja.

Keamanan Sistem

  • Monolith: Keamanan lebih mudah dikontrol karena sistem terpusat.

  • Microservices: Membutuhkan pengamanan komunikasi antar layanan seperti autentikasi API dan enkripsi data.


Kapan Harus Menggunakan Monolith?

Monolithic Architecture cocok digunakan ketika:

  • Proyek masih dalam tahap awal.

  • Tim pengembang berukuran kecil.

  • Kompleksitas aplikasi masih rendah.

  • Infrastruktur terbatas.


Kapan Harus Menggunakan Microservices?

Microservices Architecture lebih tepat digunakan ketika:

  • Sistem membutuhkan skalabilitas tinggi.

  • Aplikasi memiliki banyak fitur kompleks.

  • Proyek dikembangkan oleh banyak tim.

  • Sistem membutuhkan fleksibilitas teknologi.


Tantangan Migrasi dari Monolith ke Microservices

Refactoring Sistem

Migrasi membutuhkan pemisahan modul aplikasi menjadi layanan independen. Proses ini memerlukan perencanaan matang.

Manajemen Data

Setiap layanan memiliki database sendiri, sehingga konsistensi data menjadi tantangan utama.

Monitoring dan Logging

Sistem microservices membutuhkan tools monitoring seperti distributed tracing untuk mendeteksi error secara efektif.

baca juga : CDMA vs GSM: Mengenang Pertarungan Dua Raksasa Sinyal yang Mengubah Dunia


Kesimpulan

Monolithic Architecture dan Microservices Architecture memiliki peran penting dalam pengembangan aplikasi modern. Monolith menawarkan kesederhanaan dan kemudahan implementasi, sedangkan microservices memberikan fleksibilitas serta skalabilitas tinggi.

Pemilihan arsitektur sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan bisnis, kompleksitas sistem, serta sumber daya tim pengembang. Tidak ada pendekatan yang selalu lebih baik, tetapi pemahaman yang tepat akan membantu organisasi membangun sistem yang lebih efisien dan berkelanjutan.