Pendahuluan

Menanam pohon sering dianggap sebagai salah satu cara paling sederhana untuk membantu mengatasi perubahan iklim. Pohon menyerap karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer melalui proses fotosintesis dan menyimpan karbon dalam batang, akar, daun, serta tanah.

Karena kemampuan tersebut, kegiatan penanaman pohon sering dikaitkan dengan upaya mengurangi atau mengimbangi jejak karbon. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah menanam pohon saja cukup untuk menghapus jejak karbon yang dihasilkan manusia dan perusahaan?

Jawabannya tidak sesederhana menanam sejumlah pohon untuk setiap emisi yang dihasilkan. Penanaman dan pemulihan hutan dapat memberikan manfaat penting, tetapi tetap perlu disertai dengan pengurangan emisi dari sumbernya.

Apa Itu Jejak Karbon?

Jejak karbon atau carbon footprint adalah jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan secara langsung maupun tidak langsung dari suatu aktivitas, individu, produk, atau organisasi.

Emisi dapat berasal dari berbagai kegiatan, seperti penggunaan listrik, pembakaran bahan bakar, kendaraan, penerbangan, proses produksi, pengiriman barang, dan aktivitas dalam rantai pasok.

Jejak karbon biasanya dinyatakan dalam karbon dioksida ekuivalen (CO₂e) sehingga berbagai jenis gas rumah kaca dapat dihitung menggunakan ukuran yang sama.

Bagaimana Pohon Menyerap Karbon?

Pohon menyerap karbon dioksida dari atmosfer melalui fotosintesis. Karbon kemudian digunakan untuk pertumbuhan dan disimpan dalam biomassa pohon serta ekosistem di sekitarnya.

Karena itu, hutan memiliki peran penting dalam siklus karbon. Perlindungan hutan yang sudah ada, restorasi ekosistem, dan penanaman pohon yang dilakukan dengan tepat dapat membantu meningkatkan penyimpanan karbon sekaligus memberikan manfaat bagi keanekaragaman hayati.

Namun, jumlah karbon yang diserap tidak sama untuk setiap pohon.

Mengapa Menanam Pohon Saja Tidak Cukup?

Menanam pohon merupakan tindakan yang bermanfaat, tetapi memiliki beberapa keterbatasan jika digunakan sebagai satu-satunya cara untuk menangani jejak karbon.

1. Pohon Membutuhkan Waktu untuk Tumbuh

Emisi dari pembakaran bahan bakar fosil dapat dilepaskan ke atmosfer dalam waktu singkat. Sebaliknya, pohon membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh dan menyerap karbon.

Artinya, menanam pohon hari ini tidak secara otomatis menghilangkan seluruh emisi yang dilepaskan hari ini.

2. Kemampuan Setiap Pohon Berbeda

Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua pohon dalam menentukan jumlah CO₂ yang dapat diserap.

Kemampuan menyimpan karbon dipengaruhi oleh jenis pohon, umur, kondisi tanah, iklim, lokasi, ketersediaan air, serta kondisi ekosistem.

Karena itu, klaim seperti “satu pohon menghapus sejumlah emisi tertentu” perlu dilihat berdasarkan metode dan kondisi yang digunakan.

3. Karbon Dapat Kembali ke Atmosfer

Karbon yang tersimpan dalam pohon tidak selalu tersimpan selamanya.

Kebakaran hutan, penebangan, penyakit, kekeringan, atau perubahan penggunaan lahan dapat menyebabkan sebagian karbon yang tersimpan kembali dilepaskan ke atmosfer.

Hal ini membuat permanence atau ketahanan penyimpanan karbon menjadi salah satu aspek penting dalam proyek berbasis hutan.

4. Ketersediaan Lahan Terbatas

Penanaman pohon dalam skala besar membutuhkan lahan. Jika dilakukan tanpa perencanaan yang tepat, kegiatan tersebut dapat bersaing dengan kebutuhan pertanian, permukiman, atau penggunaan lahan lainnya.

Penanaman juga perlu mempertimbangkan kondisi ekosistem setempat. Menanam pohon bukan berarti setiap lahan harus diubah menjadi hutan.

5. Tidak Menghilangkan Sumber Emisi

Jika perusahaan terus meningkatkan penggunaan bahan bakar fosil tetapi hanya mengandalkan penanaman pohon untuk mengimbanginya, sumber utama emisi tetap ada.

Karena itu, penanaman pohon sebaiknya tidak digunakan sebagai alasan untuk menunda efisiensi energi, penggunaan energi rendah karbon, atau perubahan proses produksi.

Menanam Pohon Tetap Penting

Walaupun tidak cukup sebagai solusi tunggal, bukan berarti penanaman pohon tidak bermanfaat.

Restorasi hutan dan ekosistem dapat membantu menyimpan karbon, menjaga keanekaragaman hayati, mengurangi erosi, menjaga kualitas air, serta memberikan berbagai manfaat lingkungan lainnya.

Namun, program penanaman perlu memperhatikan jenis tanaman, lokasi, kondisi ekosistem, pemeliharaan, dan keberlangsungan pohon setelah ditanam.

Keberhasilan seharusnya tidak hanya diukur dari berapa banyak bibit yang ditanam, tetapi juga dari bagaimana ekosistem berkembang dalam jangka panjang.

Pengurangan Emisi Harus Menjadi Prioritas

Untuk menangani jejak karbon, langkah utama adalah mengetahui sumber emisi kemudian menguranginya.

Perusahaan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan energi, mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, mengoptimalkan transportasi, mengurangi limbah, dan meningkatkan efisiensi proses produksi.

Secara sederhana, pendekatan tersebut dapat dilakukan melalui:

Ukur emisi → Kurangi emisi → Pantau hasil → Tangani emisi sisa

Penanaman pohon dan solusi berbasis alam dapat menjadi bagian dari tahap terakhir, terutama untuk mendukung penanganan emisi yang masih tersisa setelah upaya pengurangan dilakukan.

Peran Carbon Tracking

Carbon tracking membantu individu dan perusahaan mengetahui jumlah serta sumber emisi yang dihasilkan.

Misalnya, perusahaan dapat mencatat konsumsi listrik, penggunaan bahan bakar kendaraan, perjalanan bisnis, produksi, dan aktivitas dalam rantai pasok.

Dengan mengetahui sumber emisi terbesar, perusahaan dapat menentukan tindakan pengurangan yang lebih tepat daripada langsung mencoba mengimbangi seluruh emisi melalui penanaman pohon.

Risiko Greenwashing

Penanaman pohon juga dapat menimbulkan risiko greenwashing apabila digunakan untuk membuat klaim lingkungan yang tidak sebanding dengan tindakan yang dilakukan.

Misalnya, perusahaan mengiklankan program penanaman ribuan pohon tetapi tidak menjelaskan jumlah emisi yang dihasilkan atau strategi pengurangan emisinya.

Karena itu, perusahaan perlu transparan mengenai jumlah emisi, pengurangan yang telah dilakukan, serta kontribusi program penanaman atau restorasi terhadap strategi iklim secara keseluruhan.

Teknologi untuk Mendukung Pemantauan

Teknologi dapat membantu meningkatkan pemantauan program lingkungan. Sistem informasi, citra satelit, sensor, Artificial Intelligence (AI), dan data analytics dapat membantu mengamati perubahan tutupan lahan dan perkembangan program restorasi.

Sementara itu, sistem carbon tracking dapat digunakan untuk memantau perubahan emisi perusahaan dari waktu ke waktu.

Dengan demikian, perusahaan dapat melihat pengurangan emisi operasional dan program penyerapan karbon sebagai dua bagian yang perlu dikelola secara jelas.

Jadi, Apakah Menanam Pohon Cukup?

Tidak, jika digunakan sebagai satu-satunya solusi.

Menanam pohon dapat membantu menyerap dan menyimpan karbon serta memberikan manfaat besar bagi lingkungan. Namun, kemampuan tersebut memiliki keterbatasan waktu, lahan, kapasitas penyimpanan, dan risiko karbon dilepaskan kembali.

Karena itu, penanaman pohon sebaiknya berjalan bersama dengan pengurangan emisi dari sumbernya.

Mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan meningkatkan efisiensi berarti mencegah sebagian emisi masuk ke atmosfer sejak awal, sedangkan pohon membantu menyerap sebagian karbon yang sudah berada di atmosfer.

Kesimpulan

Menanam pohon merupakan bagian penting dari upaya menjaga lingkungan dan dapat berkontribusi terhadap penyerapan karbon. Namun, kegiatan tersebut tidak cukup untuk menggantikan pengurangan emisi secara langsung.

Strategi yang lebih kuat adalah menghitung jejak karbon, mengurangi emisi dari sumber utama, memantau perkembangan, melindungi ekosistem yang sudah ada, serta mendukung restorasi dan penanaman pohon yang dilakukan secara tepat.

Dengan menggabungkan carbon tracking, pengurangan emisi, perlindungan hutan, dan solusi berbasis alam, upaya menghadapi perubahan iklim dapat dilakukan secara lebih menyeluruh.