Pendahuluan
Aktivitas logistik memiliki peran penting dalam kegiatan bisnis. Barang perlu dipindahkan dari pemasok ke fasilitas produksi, dari gudang ke pusat distribusi, hingga akhirnya sampai kepada pelanggan. Proses tersebut dapat menggunakan truk, kapal, kereta api, pesawat, maupun kendaraan lainnya.
Di balik aktivitas pengiriman tersebut terdapat penggunaan energi dan bahan bakar yang dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca. Semakin kompleks rantai distribusi perusahaan, semakin penting untuk mengetahui jumlah emisi yang berasal dari aktivitas logistik.
Dengan melakukan pengukuran emisi logistik, perusahaan dapat mengetahui sumber emisi terbesar, meningkatkan efisiensi transportasi, serta menentukan strategi pengurangan jejak karbon yang lebih tepat.
Apa Itu Emisi Logistik?
Emisi logistik adalah emisi gas rumah kaca yang berkaitan dengan aktivitas pemindahan, penyimpanan, dan distribusi barang dalam rantai pasok.
Emisi dapat berasal dari kendaraan pengangkut barang, penggunaan bahan bakar, kegiatan pergudangan, pendinginan, hingga energi yang digunakan dalam proses distribusi.
Hasil penghitungan biasanya dinyatakan dalam karbon dioksida ekuivalen (CO₂e) agar berbagai jenis gas rumah kaca dapat dinyatakan dalam satu ukuran.
Mengapa Emisi Logistik Perlu Diukur?
Pengukuran membantu perusahaan mengetahui seberapa besar kontribusi aktivitas logistik terhadap keseluruhan jejak karbon.
Tanpa data yang jelas, perusahaan akan lebih sulit menentukan apakah sumber emisi terbesar berasal dari kendaraan, jarak pengiriman, penggunaan gudang, atau metode distribusi.
Data emisi juga dapat digunakan untuk memantau perkembangan pengurangan emisi dari waktu ke waktu.
Sumber Emisi dalam Aktivitas Logistik
1. Transportasi Darat
Truk, mobil pengiriman, dan kendaraan lainnya menjadi salah satu sumber emisi dalam aktivitas logistik.
Kendaraan yang menggunakan bensin atau solar menghasilkan emisi dari pembakaran bahan bakar.
Jumlah emisi dapat dipengaruhi oleh jarak perjalanan, konsumsi bahan bakar, jenis kendaraan, berat muatan, kondisi jalan, dan efisiensi kendaraan.
2. Transportasi Laut
Kapal banyak digunakan untuk mengangkut barang dalam jumlah besar dan perjalanan jarak jauh.
Emisi dapat berasal dari bahan bakar yang digunakan kapal selama perjalanan. Besarnya emisi dipengaruhi oleh jenis kapal, jarak, muatan, bahan bakar, dan kondisi operasional.
3. Transportasi Udara
Pengiriman menggunakan pesawat dapat menjadi pilihan untuk barang yang membutuhkan pengiriman cepat atau jarak yang jauh.
Namun, transportasi udara membutuhkan energi yang besar. Karena itu, penggunaan pesawat perlu diperhitungkan dalam inventaris emisi logistik perusahaan.
4. Transportasi Kereta Api
Kereta api dapat digunakan untuk mengangkut barang dalam jumlah besar.
Emisinya bergantung pada sumber energi yang digunakan, jarak perjalanan, jumlah muatan, dan efisiensi sistem transportasi.
5. Pergudangan
Aktivitas logistik tidak hanya berkaitan dengan kendaraan. Gudang juga membutuhkan energi untuk pencahayaan, pendinginan, ventilasi, peralatan, dan berbagai aktivitas operasional.
Jika gudang menggunakan listrik dari sumber yang menghasilkan emisi, konsumsi energi tersebut juga dapat menjadi bagian dari jejak karbon logistik.
Data yang Dibutuhkan
Sebelum menghitung emisi, perusahaan perlu mengumpulkan data aktivitas logistik.
Data yang dapat digunakan antara lain:
- Jumlah bahan bakar yang digunakan
- Jenis bahan bakar
- Jarak perjalanan
- Jenis kendaraan
- Berat atau jumlah barang
- Jumlah perjalanan
- Moda transportasi
- Konsumsi listrik gudang
- Data pengiriman dari penyedia jasa logistik
Semakin lengkap data yang tersedia, semakin baik dasar yang dapat digunakan untuk melakukan perhitungan.
Cara Menghitung Emisi Berdasarkan Bahan Bakar
Jika perusahaan mengetahui jumlah bahan bakar yang digunakan kendaraan, perhitungan dapat dilakukan menggunakan rumus sederhana:
Emisi (kg CO₂e) = Jumlah Bahan Bakar × Faktor Emisi
Misalnya, sebuah kendaraan menggunakan 500 liter solar selama periode tertentu.
Perhitungannya:
Emisi = 500 liter × faktor emisi solar
Faktor emisi perlu menggunakan sumber yang sesuai dengan jenis bahan bakar, wilayah, periode, dan metode penghitungan yang digunakan perusahaan.
Menghitung Berdasarkan Jarak Perjalanan
Jika data bahan bakar tidak tersedia, perusahaan dapat menggunakan jarak perjalanan.
Secara sederhana:
Emisi = Jarak Perjalanan × Faktor Emisi Kendaraan
Misalnya, sebuah truk melakukan perjalanan sejauh 1.000 kilometer.
Perhitungan dapat dilakukan dengan mengalikan jarak tersebut dengan faktor emisi kendaraan yang sesuai.
Metode dapat menjadi lebih rinci dengan mempertimbangkan jenis kendaraan, kapasitas, muatan, dan karakteristik perjalanan.
Menghitung Berdasarkan Ton-Kilometer
Dalam aktivitas pengiriman barang, salah satu ukuran yang dapat digunakan adalah ton-kilometer (ton-km).
Ton-kilometer menggambarkan jumlah barang yang diangkut dan jarak perjalanan.
Rumus dasarnya:
Ton-km = Berat Barang (ton) × Jarak (km)
Misalnya, sebuah truk mengangkut 5 ton barang sejauh 200 km.
Maka:
5 ton × 200 km = 1.000 ton-km
Jika faktor emisi tersedia dalam satuan kg CO₂e per ton-km:

Emisi = Ton-km × Faktor Emisi
Pendekatan ini dapat membantu membandingkan efisiensi berbagai moda pengangkutan barang.
Menghitung Emisi Gudang
Selain transportasi, perusahaan dapat menghitung emisi dari penggunaan energi di gudang.
Jika gudang menggunakan listrik, rumus sederhananya adalah:
Emisi Listrik = Konsumsi Listrik (kWh) × Faktor Emisi Listrik
Data konsumsi dapat diperoleh dari tagihan listrik atau sistem pemantauan energi.
Jika fasilitas menggunakan bahan bakar untuk generator atau peralatan tertentu, konsumsi bahan bakar tersebut juga dapat dihitung berdasarkan faktor emisi yang sesuai.
Contoh Pencatatan Emisi Logistik
Perusahaan dapat membuat pencatatan sederhana seperti berikut:
| Aktivitas | Data Aktivitas | Satuan |
|---|---|---|
| Pengiriman truk | 2.000 | km |
| Penggunaan solar | 500 | liter |
| Pengiriman barang | 10.000 | ton-km |
| Listrik gudang | 3.000 | kWh |
Setelah data aktivitas dikumpulkan, masing-masing data dapat dikalikan dengan faktor emisi yang sesuai.
Hasilnya kemudian dijumlahkan untuk memperoleh perkiraan total emisi logistik pada periode tersebut.
Logistik dan Scope 1, 2, dan 3
Emisi logistik dapat masuk ke kategori yang berbeda tergantung pada siapa yang memiliki atau mengendalikan sumber emisinya.
Jika perusahaan menggunakan kendaraan operasional milik sendiri yang menggunakan bahan bakar, emisinya dapat termasuk Scope 1.
Listrik yang dibeli dan digunakan pada gudang milik atau yang dikendalikan perusahaan dapat berkaitan dengan Scope 2.
Sementara transportasi dan distribusi yang dilakukan oleh perusahaan logistik pihak ketiga dapat termasuk dalam Scope 3, tergantung posisi aktivitas tersebut dalam rantai nilai dan batas inventaris perusahaan.
Karena itu, klasifikasi perlu dilakukan secara konsisten berdasarkan metode pelaporan yang digunakan.
Tantangan Mengukur Emisi Logistik
Salah satu tantangan utama adalah ketersediaan data.
Perusahaan mungkin memiliki informasi bahan bakar untuk kendaraan sendiri, tetapi tidak memiliki data konsumsi bahan bakar dari perusahaan logistik pihak ketiga.
Dalam kondisi tersebut, perhitungan dapat menggunakan data jarak, berat barang, jenis kendaraan, atau data sekunder yang relevan.
Tantangan lainnya adalah perbedaan metode, faktor emisi, satuan data, dan kualitas informasi dari setiap penyedia jasa logistik.
Cara Meningkatkan Akurasi
Akurasi dapat ditingkatkan dengan menggunakan data aktual ketika tersedia.
Catatan konsumsi bahan bakar, jarak GPS, berat muatan, konsumsi listrik gudang, dan data perjalanan dapat memberikan informasi yang lebih rinci.
Perusahaan juga perlu menggunakan faktor emisi yang relevan dan mencatat sumber faktor tersebut.
Validasi data secara berkala membantu menemukan kesalahan seperti duplikasi perjalanan, kesalahan satuan, atau data yang belum lengkap.
Peran Carbon Tracking
Carbon tracking dapat membantu perusahaan mengelola data logistik dalam satu sistem.
Data kendaraan, bahan bakar, perjalanan, gudang, dan penyedia jasa logistik dapat dicatat dan dianalisis secara berkala.
Sistem dapat menampilkan perkembangan emisi berdasarkan kendaraan, rute, wilayah, atau periode tertentu.
Dengan demikian, perusahaan dapat mengetahui aktivitas logistik yang memiliki kontribusi emisi terbesar.
Peran Teknologi
Teknologi dapat membantu membuat pengukuran emisi logistik lebih efisien.
GPS dan telematics dapat mencatat perjalanan kendaraan. Internet of Things (IoT) dapat digunakan untuk memantau konsumsi energi, sedangkan sistem informasi dapat menggabungkan data dari berbagai aktivitas logistik.
Artificial Intelligence (AI) dan data analytics juga dapat membantu menganalisis pola perjalanan, penggunaan kendaraan, dan kebutuhan distribusi.
Teknologi tersebut dapat digunakan untuk membantu menentukan rute dan penggunaan kendaraan yang lebih efisien.
Mengurangi Emisi Setelah Melakukan Pengukuran
Pengukuran sebaiknya tidak berhenti pada menghasilkan angka total emisi.
Setelah mengetahui sumber utama emisi, perusahaan dapat menentukan langkah pengurangan.
Misalnya, perusahaan dapat mengoptimalkan rute pengiriman, meningkatkan kapasitas muatan, mengurangi perjalanan kendaraan kosong, melakukan perawatan kendaraan, meningkatkan efisiensi gudang, atau mempertimbangkan moda transportasi yang lebih efisien untuk rute tertentu.
Pendekatan sederhananya adalah:
Ukur → Identifikasi sumber terbesar → Kurangi → Pantau → Evaluasi
Kesimpulan
Mengukur emisi dari aktivitas logistik membantu perusahaan memahami dampak transportasi dan distribusi terhadap jejak karbon.
Perhitungan dapat dilakukan berdasarkan konsumsi bahan bakar, jarak perjalanan, ton-kilometer, serta penggunaan energi di fasilitas logistik.
Data yang baik, faktor emisi yang sesuai, dan metode yang konsisten sangat penting untuk menghasilkan perhitungan yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan.
Dengan dukungan carbon tracking, GPS, IoT, AI, dan analitik data, perusahaan dapat memantau emisi logistik sekaligus mencari peluang untuk membuat proses distribusi menjadi lebih efisien dan rendah karbon.








