Pendahuluan
Rantai pasok merupakan bagian penting dalam kegiatan perusahaan. Sebuah produk tidak langsung sampai kepada konsumen, tetapi melalui berbagai tahapan mulai dari pengadaan bahan baku, produksi, penyimpanan, transportasi, distribusi, hingga penggunaan dan pengelolaan produk setelah masa pakainya berakhir.
Setiap tahapan tersebut dapat menggunakan energi, bahan bakar, dan sumber daya yang menghasilkan emisi gas rumah kaca. Bahkan, sebagian emisi perusahaan dapat berasal dari aktivitas pemasok dan mitra bisnis yang berada di luar kegiatan operasional langsung perusahaan.
Karena itu, mengukur emisi karbon dalam rantai pasok penting untuk mengetahui sumber emisi, meningkatkan transparansi, dan menentukan strategi pengurangan emisi yang lebih tepat.
Apa Itu Emisi Karbon dalam Rantai Pasok?
Emisi karbon dalam rantai pasok adalah emisi gas rumah kaca yang berkaitan dengan berbagai aktivitas dalam proses penyediaan barang atau jasa, mulai dari bahan baku hingga produk sampai kepada pengguna.
Emisi dapat berasal dari produksi bahan baku, penggunaan energi oleh pemasok, transportasi, pergudangan, pengemasan, distribusi, hingga pengelolaan limbah.
Hasil pengukuran biasanya dinyatakan dalam karbon dioksida ekuivalen (CO₂e) agar berbagai jenis gas rumah kaca dapat dihitung menggunakan satu ukuran.
Mengapa Emisi Rantai Pasok Perlu Diukur?
Perusahaan mungkin telah mengetahui konsumsi listrik dan bahan bakar dari kegiatan operasionalnya sendiri. Namun, jejak karbon suatu produk atau perusahaan dapat melibatkan aktivitas yang terjadi di luar fasilitas perusahaan.
Misalnya, bahan baku yang dibeli membutuhkan energi untuk diproduksi dan kemudian dikirim menggunakan kendaraan. Produk jadi juga perlu didistribusikan kepada pelanggan.
Dengan mengukur emisi rantai pasok, perusahaan dapat mengetahui bagian mana yang memberikan kontribusi besar terhadap total jejak karbon.
Hubungan Rantai Pasok dengan Scope 1, 2, dan 3
Dalam inventarisasi gas rumah kaca, emisi perusahaan sering dikelompokkan menjadi Scope 1, Scope 2, dan Scope 3.
Scope 1 merupakan emisi langsung dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan perusahaan, seperti penggunaan bahan bakar pada kendaraan operasional.
Scope 2 berkaitan dengan emisi dari energi yang dibeli dan digunakan perusahaan, seperti listrik.
Sementara itu, Scope 3 mencakup berbagai emisi tidak langsung lainnya dalam rantai nilai, termasuk aktivitas pemasok, transportasi pihak ketiga, perjalanan bisnis, barang dan jasa yang dibeli, serta aktivitas lainnya sesuai kategori yang relevan.
Karena itu, pengukuran rantai pasok sering menjadi bagian penting dalam pengelolaan Scope 3.
Sumber Emisi dalam Rantai Pasok
1. Bahan Baku
Produksi bahan baku dapat membutuhkan energi, air, lahan, mesin, dan proses industri.
Contohnya, perusahaan yang memproduksi pakaian membutuhkan kain dan material lainnya. Sebelum sampai ke pabrik, material tersebut telah melalui proses produksi yang menghasilkan emisi.
Data bahan baku menjadi salah satu bagian penting dalam penghitungan jejak karbon rantai pasok.
2. Aktivitas Pemasok
Pemasok dapat menggunakan listrik, bahan bakar, mesin, dan sumber daya lainnya untuk menghasilkan barang yang dibutuhkan perusahaan.
Perusahaan dapat meminta data emisi atau data aktivitas tertentu dari pemasok agar penghitungan menjadi lebih akurat.
Jika data langsung belum tersedia, estimasi dapat dilakukan menggunakan metode dan faktor emisi yang relevan.
3. Transportasi Barang
Barang dapat dipindahkan menggunakan truk, kapal, kereta api, pesawat, atau kombinasi beberapa moda transportasi.
Emisi transportasi dipengaruhi oleh jarak, jenis kendaraan, bahan bakar, jumlah muatan, dan jumlah perjalanan.
Data seperti kilometer perjalanan, konsumsi bahan bakar, atau ton-kilometer dapat digunakan dalam penghitungan.
4. Pergudangan
Gudang membutuhkan energi untuk pencahayaan, pendinginan, ventilasi, mesin, dan berbagai kegiatan operasional.
Jika perusahaan menggunakan banyak fasilitas penyimpanan dalam rantai pasok, konsumsi energi dari aktivitas tersebut juga dapat menjadi bagian dari pengukuran emisi.
5. Pengemasan
Kemasan membutuhkan material dan energi untuk diproduksi.
Jenis material, berat kemasan, proses produksi, serta penggunaan material baru atau daur ulang dapat memengaruhi jejak karbonnya.
Karena itu, data mengenai kemasan dapat dimasukkan dalam penghitungan rantai pasok.
6. Distribusi Produk
Setelah produk selesai dibuat, barang perlu dikirim ke distributor, toko, pelanggan, atau lokasi lainnya.
Aktivitas distribusi dapat menghasilkan emisi dari transportasi dan penyimpanan.
Semakin kompleks jaringan distribusi, semakin banyak data yang perlu dikumpulkan untuk memperoleh gambaran emisi yang lebih lengkap.
Data yang Dibutuhkan
Langkah awal pengukuran adalah mengumpulkan data aktivitas yang relevan.
Data dapat berupa jumlah bahan baku, konsumsi energi, jumlah bahan bakar, jarak transportasi, berat barang, jenis kendaraan, jumlah produk, material kemasan, serta data dari pemasok dan penyedia jasa logistik.
Data aktual dari pemasok biasanya dapat memberikan informasi yang lebih spesifik. Namun, jika belum tersedia, perusahaan dapat menggunakan data sekunder atau estimasi dengan metode yang jelas dan konsisten.
Rumus Dasar Menghitung Emisi
Secara sederhana, emisi dapat dihitung dengan rumus:
Emisi (kg CO₂e) = Data Aktivitas × Faktor Emisi
Misalnya, perusahaan mengetahui jumlah bahan bakar yang digunakan untuk mengangkut bahan baku.
Maka:
Emisi Transportasi = Jumlah Bahan Bakar × Faktor Emisi Bahan Bakar
Jika data bahan bakar tidak tersedia, jarak perjalanan atau ton-kilometer dapat digunakan jika tersedia faktor emisi yang sesuai.
Menghitung Emisi Berdasarkan Ton-Kilometer
Untuk aktivitas transportasi barang, ton-kilometer (ton-km) dapat digunakan untuk menggambarkan berat barang dan jarak pengangkutan.
Rumusnya:
Ton-km = Berat Barang (ton) × Jarak (km)
Misalnya, perusahaan mengangkut 10 ton barang sejauh 300 km.
Maka:
10 ton × 300 km = 3.000 ton-km
Kemudian:
Emisi = 3.000 ton-km × Faktor Emisi
Faktor emisi perlu disesuaikan dengan moda transportasi yang digunakan.
Metode Berdasarkan Pengeluaran
Jika perusahaan belum memiliki data aktivitas yang rinci, pengeluaran untuk barang atau jasa dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan estimasi.
Secara sederhana:
Emisi = Nilai Pengeluaran × Faktor Emisi Berbasis Pengeluaran
Metode ini dapat membantu membuat estimasi awal, tetapi hasilnya biasanya kurang spesifik dibandingkan penggunaan data aktivitas atau data langsung dari pemasok.
Seiring kualitas data meningkat, perusahaan dapat beralih ke metode yang lebih rinci.
Membuat Inventaris Emisi Rantai Pasok
Data dapat disusun dalam tabel sederhana untuk mempermudah proses penghitungan.
| Aktivitas | Data yang Dicatat | Sumber |
|---|---|---|
| Bahan baku | Berat atau jumlah material | Pemasok |
| Transportasi | Jarak dan berat barang | Logistik |
| Bahan bakar | Liter bahan bakar | Kendaraan |
| Gudang | Konsumsi listrik | Tagihan energi |
| Kemasan | Berat dan jenis material | Produksi |
Setelah data dikumpulkan, setiap aktivitas dapat dikalikan dengan faktor emisi yang sesuai.
Hasilnya kemudian dapat dibandingkan untuk mengetahui bagian rantai pasok yang memiliki kontribusi emisi terbesar.
Tantangan Mengukur Emisi Rantai Pasok
Salah satu tantangan terbesar adalah ketersediaan dan kualitas data.
Perusahaan dapat memiliki banyak pemasok dari lokasi berbeda. Tidak semua pemasok memiliki sistem penghitungan emisi atau menggunakan metode yang sama.
Selain itu, data dapat menggunakan satuan, periode, dan format yang berbeda sehingga perlu disesuaikan sebelum dianalisis.
Risiko penghitungan ganda juga perlu diperhatikan ketika data dari beberapa tahapan rantai pasok digabungkan.
Meningkatkan Akurasi Data
Perusahaan dapat meningkatkan kualitas pengukuran secara bertahap.
Mulailah dengan mengidentifikasi pemasok dan aktivitas yang memberikan kontribusi terbesar. Data yang lebih rinci kemudian dapat diprioritaskan pada bagian tersebut.
Perusahaan juga dapat membuat format pelaporan yang konsisten agar pemasok memberikan informasi dengan struktur yang sama.
Sumber faktor emisi, tahun data, asumsi, dan metode penghitungan juga perlu dicatat agar hasil dapat diperiksa kembali.
Peran Carbon Tracking
Carbon tracking dapat membantu mengelola data emisi dari berbagai bagian rantai pasok dalam satu sistem.
Data dari pemasok, transportasi, gudang, bahan baku, dan distribusi dapat dikumpulkan dan dianalisis secara berkala.
Dashboard dapat digunakan untuk membandingkan emisi berdasarkan pemasok, kategori produk, lokasi, atau periode tertentu.
Dengan demikian, perusahaan dapat mengetahui perubahan emisi dan menentukan bagian yang membutuhkan perhatian lebih besar.
Peran Teknologi
Teknologi dapat membantu meningkatkan efisiensi pengukuran emisi rantai pasok.
Internet of Things (IoT) dapat membantu mengumpulkan data dari perangkat dan fasilitas. Sistem ERP dan cloud computing dapat menghubungkan informasi dari berbagai bagian perusahaan.
Sementara itu, Artificial Intelligence (AI) dan data analytics dapat membantu menemukan pola, mendeteksi data yang tidak wajar, dan menganalisis sumber emisi terbesar.
Namun, teknologi tetap membutuhkan data yang berkualitas dan metode penghitungan yang jelas.
Mengurangi Emisi Setelah Pengukuran
Pengukuran emisi sebaiknya dilanjutkan dengan tindakan pengurangan.
Jika transportasi menjadi sumber emisi terbesar, perusahaan dapat mengevaluasi rute, kapasitas muatan, dan moda transportasi.
Jika bahan baku menjadi sumber utama, perusahaan dapat bekerja sama dengan pemasok untuk meningkatkan efisiensi atau mempertimbangkan alternatif material yang sesuai.
Pendekatan sederhananya adalah:
Ukur → Identifikasi → Prioritaskan → Kurangi → Pantau → Evaluasi
Dengan cara tersebut, data emisi dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Kesimpulan
Mengukur emisi karbon dalam rantai pasok membantu perusahaan memahami dampak lingkungan yang tidak hanya berasal dari operasional langsung, tetapi juga dari pemasok, bahan baku, transportasi, gudang, kemasan, dan distribusi.
Pengukuran dapat dilakukan menggunakan data aktivitas, faktor emisi, ton-kilometer, data pemasok, maupun pendekatan berbasis pengeluaran ketika data yang lebih rinci belum tersedia.
Dengan dukungan carbon tracking, AI, IoT, dan sistem digital, perusahaan dapat mengelola data rantai pasok secara lebih terstruktur dan mengetahui sumber emisi yang perlu diprioritaskan.
Pengukuran yang konsisten dapat menjadi dasar untuk meningkatkan transparansi dan menjalankan strategi pengurangan emisi yang lebih terarah.



