Pengantar
Transformasi digital mendorong banyak organisasi memindahkan infrastruktur dan data mereka ke layanan cloud. Model ini menawarkan efisiensi, skalabilitas, dan fleksibilitas tinggi. Namun, ketergantungan terhadap penyedia layanan cloud dan Managed Service Provider (MSP) juga membuka peluang serangan berskala besar.
Salah satu kampanye spionase siber paling terkenal yang mengeksploitasi model ini adalah Cloud Hopper. Serangan ini tidak hanya menargetkan satu perusahaan, tetapi memanfaatkan satu pintu masuk untuk menjangkau banyak korban sekaligus melalui rantai pasokan digital.
Cloud Hopper menjadi contoh nyata bagaimana serangan supply chain pada lingkungan cloud dapat berdampak global dan berlangsung dalam jangka waktu lama tanpa terdeteksi.
Apa Itu Cloud Hopper?
Cloud Hopper adalah kampanye spionase siber berskala internasional yang menargetkan Managed Service Providers (MSP) untuk mendapatkan akses ke jaringan klien mereka. Serangan ini dikaitkan dengan kelompok Advanced Persistent Threat (APT) yang dikenal sebagai APT10.
Menurut laporan resmi dari U.S. Department of Justice, kampanye ini menargetkan perusahaan di berbagai negara dengan cara menyusup melalui penyedia layanan IT dan cloud (dikutip dari justice.gov).
Dengan mengakses MSP, pelaku dapat:
-
Menyusup ke jaringan banyak perusahaan sekaligus
-
Mengakses data sensitif
-
Melakukan pencurian kekayaan intelektual
-
Memantau aktivitas internal organisasi
baca juga : Magecart Attack: Ancaman Tersembunyi di Balik Transaksi Belanja Online
Bagaimana Cara Kerja Serangan Cloud Hopper?
Menargetkan Managed Service Providers (MSP)
Alih-alih menyerang perusahaan satu per satu, pelaku menargetkan MSP yang memiliki akses administratif ke sistem klien mereka.
MSP sering memiliki:
-
Akses jarak jauh ke server klien
-
Kredensial administrator
-
Hak istimewa tinggi pada infrastruktur cloud
Jika MSP berhasil dikompromikan, penyerang dapat berpindah ke berbagai jaringan klien secara lateral.
Teknik Advanced Persistent Threat (APT)
Cloud Hopper menggunakan pendekatan APT, yaitu serangan yang berlangsung lama, terstruktur, dan sulit terdeteksi.
Teknik yang digunakan meliputi:
-
Spear phishing untuk mencuri kredensial
-
Malware untuk mempertahankan akses
-
Credential harvesting
-
Lateral movement antar sistem
Mengapa Cloud Hopper Berbahaya?
Dampak Berskala Global
Karena menargetkan MSP, satu kompromi dapat berdampak pada puluhan bahkan ratusan organisasi lintas negara.
Sulit Dideteksi
Aktivitas penyerang sering kali menyerupai aktivitas administratif normal, sehingga tidak langsung memicu alarm keamanan.
Pencurian Data Strategis
Target serangan mencakup:
-
Sektor teknologi
-
Industri manufaktur
-
Telekomunikasi
-
Sektor pemerintahan
Data yang dicuri umumnya berupa kekayaan intelektual dan informasi strategis.
baca juga : Adversarial Attacks: Mengungkap Kerentanan Sistem Berbasis AI
Cloud Hopper dan Risiko Supply Chain Cloud
Cloud Hopper menjadi contoh klasik serangan supply chain dalam ekosistem cloud. Ketika perusahaan mempercayakan pengelolaan sistem kepada pihak ketiga, maka risiko keamanan ikut bergeser ke rantai pasokan digital tersebut.
Risiko utama meliputi:
-
Ketergantungan pada keamanan vendor
-
Kurangnya visibilitas terhadap aktivitas MSP
-
Akses administratif yang terlalu luas
Keamanan cloud tidak hanya bergantung pada penyedia utama, tetapi juga pada seluruh mitra teknologi yang terlibat.
Strategi Mitigasi dan Pencegahan
Prinsip Least Privilege
Batasi akses administratif hanya pada kebutuhan minimum.
Multi-Factor Authentication (MFA)
Terapkan MFA pada seluruh akses jarak jauh dan akun dengan hak istimewa tinggi.
Monitoring Aktivitas Administrator
Pantau aktivitas login dan perubahan konfigurasi secara real-time.
Audit Keamanan Vendor
Lakukan evaluasi keamanan terhadap MSP dan mitra cloud secara berkala.
Segmentasi Jaringan
Pisahkan sistem kritis untuk membatasi pergerakan lateral jika terjadi kompromi.
Pelajaran dari Cloud Hopper
Cloud Hopper menunjukkan bahwa serangan modern tidak selalu langsung menargetkan korban utama. Dalam banyak kasus, pelaku mencari jalur yang lebih efisien melalui pihak ketiga yang memiliki akses luas.
Di era cloud computing, keamanan harus dipandang sebagai tanggung jawab bersama antara organisasi dan penyedia layanan. Transparansi, audit rutin, dan kontrol akses ketat menjadi kunci untuk mencegah insiden serupa.
baca juga : Blind SQLi: Serangan Sunyi yang Menguras Database Tanpa Terdeteksi
Kesimpulan
Cloud Hopper adalah kampanye spionase siber yang menargetkan Managed Service Providers untuk mendapatkan akses ke banyak organisasi sekaligus. Dengan memanfaatkan celah dalam rantai pasokan digital, serangan ini berhasil mencuri data strategis dari berbagai sektor industri.
Kasus ini menegaskan pentingnya pengamanan ekosistem cloud secara menyeluruh, termasuk pengawasan terhadap mitra pihak ketiga. Dalam lingkungan digital yang saling terhubung, keamanan tidak lagi bersifat individual, melainkan kolektif.








