Pendahuluan

Setiap produk memiliki perjalanan sebelum sampai ke tangan konsumen. Bahan baku diperoleh dari pemasok, kemudian melalui proses produksi, pengemasan, transportasi, distribusi, penggunaan, hingga akhirnya digunakan kembali, didaur ulang, atau menjadi limbah.

Setiap tahapan tersebut dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca. Masalahnya, informasi mengenai asal bahan, proses produksi, dan jejak karbon sering tersebar di berbagai perusahaan dan sistem. Kondisi ini membuat perusahaan maupun konsumen sulit mengetahui dampak lingkungan suatu produk secara menyeluruh.

Salah satu konsep yang dapat membantu mengatasi masalah tersebut adalah Digital Product Passport (DPP). DPP berfungsi sebagai identitas digital produk yang menyimpan atau memberikan akses terhadap informasi penting mengenai produk sepanjang siklus hidupnya.

Jika diintegrasikan dengan carbon footprint tracking, Digital Product Passport dapat membantu mencatat dan menyampaikan informasi mengenai jejak karbon produk, sumber bahan, proses produksi, transportasi, hingga informasi mengenai perbaikan, penggunaan kembali, dan daur ulang.

Apa Itu Digital Product Passport?

Digital Product Passport (DPP) adalah kumpulan informasi digital mengenai suatu produk yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterlacakan dan transparansi sepanjang siklus hidup produk.

Informasi dalam DPP dapat mencakup:

Identitas produk

Produsen

Bahan dan komponen

Asal bahan

Proses produksi

Informasi lingkungan

Petunjuk penggunaan dan perawatan

Informasi perbaikan

Penggunaan kembali

Daur ulang

Jejak karbon

Jenis informasi yang tersedia dapat berbeda tergantung pada jenis produk, tujuan sistem, dan persyaratan yang digunakan.

Mengapa Digital Product Passport Dibutuhkan?

Rantai pasok modern dapat melibatkan banyak perusahaan dan lokasi.

Sebuah produk dapat menggunakan bahan dari satu negara, diproduksi di negara lain, kemudian dipasarkan ke berbagai wilayah.

Informasi produk juga dapat tersimpan dalam sistem yang berbeda.

Digital Product Passport dapat membantu menghubungkan informasi tersebut dengan identitas produk.

Secara sederhana:

Bahan Baku → Produksi → Distribusi → Penggunaan → Daur Ulang

Data dari tahapan tersebut dapat dihubungkan ke DPP sehingga informasi produk lebih mudah ditelusuri.

Hubungan Digital Product Passport dengan Jejak Karbon

Jejak karbon produk berasal dari berbagai aktivitas sepanjang siklus hidupnya.

Untuk menghitungnya, perusahaan membutuhkan data mengenai penggunaan bahan, energi, transportasi, produksi, dan aktivitas lainnya.

DPP dapat menjadi salah satu sarana untuk menghubungkan informasi tersebut dengan produk tertentu.

Alurnya dapat berupa:

Data Aktivitas → Carbon Tracking → Perhitungan CO₂e → Digital Product Passport → Informasi Produk

Dengan pendekatan ini, informasi karbon dapat mengikuti identitas produk sepanjang rantai nilai.

1. Identitas Digital Produk

Setiap produk atau kelompok produk dapat memiliki identitas digital tertentu.

Identitas tersebut dapat terhubung dengan database yang menyimpan informasi produk.

Contohnya:

Nama Produk: Produk A

Kode Produk: PRD001

Kategori: Elektronik

Produsen: Perusahaan A

Tanggal Produksi: Januari 2026

Jejak Karbon: 25 kg CO₂e/unit

Angka tersebut hanya contoh ilustrasi.

Identitas digital membantu membedakan data antara satu produk dengan produk lainnya.

2. Mencatat Asal Bahan Baku

DPP dapat menyediakan informasi mengenai material yang digunakan dalam produk.

Contohnya:

Material Jumlah Asal
Aluminium 500 gram Pemasok A
Plastik 200 gram Pemasok B
Kaca 300 gram Pemasok C

Informasi tersebut dapat dikembangkan dengan data lingkungan dari masing-masing material.

Perusahaan kemudian dapat mengetahui bahan mana yang memberikan kontribusi besar terhadap jejak karbon produk.

3. Menghitung Emisi Bahan Baku

Jika data bahan dan faktor emisinya tersedia, perusahaan dapat menghitung emisi.

Rumus sederhananya:

Emisi Material = Jumlah Material × Faktor Emisi Material

Perhitungan dilakukan untuk setiap material yang termasuk dalam batas carbon footprint.

Hasilnya kemudian dapat dijumlahkan untuk memperoleh total emisi dari bahan baku.

4. Mencatat Emisi Produksi

Proses produksi membutuhkan energi untuk menjalankan mesin dan berbagai fasilitas.

Data penggunaan listrik dan bahan bakar dapat dikaitkan dengan produk.

Secara sederhana:

Emisi Produksi = Data Aktivitas × Faktor Emisi

Misalnya, energi yang digunakan untuk memproduksi suatu kelompok produk dapat dialokasikan berdasarkan jumlah produksi atau metode lain yang sesuai.

Hasil perhitungan kemudian menjadi bagian dari data jejak karbon produk.

5. Mencatat Informasi Kemasan

Kemasan juga dapat dimasukkan dalam Digital Product Passport.

Informasi dapat berupa:

Jenis material

Berat kemasan

Kandungan material daur ulang

Kemampuan untuk didaur ulang

Petunjuk pengelolaan setelah digunakan

Data material kemasan juga dapat digunakan untuk memperkirakan kontribusi emisinya terhadap total jejak karbon produk.

6. Melacak Transportasi Produk

Produk dapat berpindah dari pemasok menuju pabrik, gudang, distributor, toko, hingga konsumen.

Data transportasi dapat mencakup:

Jarak

Berat barang

Moda transportasi

Rute

Lokasi asal

Lokasi tujuan

Perhitungan sederhana dapat menggunakan:

Aktivitas Transportasi = Berat × Jarak

Kemudian:

Emisi Transportasi = Aktivitas Transportasi × Faktor Emisi

Data tersebut dapat menjadi bagian dari carbon tracking produk.

7. Mencatat Informasi Penggunaan Produk

Untuk produk tertentu, sebagian besar jejak karbon dapat muncul ketika produk digunakan.

Contohnya adalah peralatan elektronik yang menggunakan listrik.

DPP dapat menyediakan informasi seperti:

Konsumsi energi

Cara penggunaan yang efisien

Petunjuk perawatan

Umur penggunaan

Informasi ini dapat membantu pengguna memahami cara menggunakan produk secara lebih efisien.

8. Mencatat Informasi Perbaikan

Memperpanjang masa penggunaan produk dapat mengurangi kebutuhan untuk memproduksi barang pengganti dalam kondisi tertentu.

Digital Product Passport dapat menyediakan informasi mengenai:

Komponen produk

Petunjuk perawatan

Informasi perbaikan

Suku cadang

Riwayat perbaikan jika relevan

Informasi tersebut dapat mendukung pengelolaan produk yang lebih berkelanjutan.

9. Mendukung Penggunaan Kembali

Produk atau komponennya mungkin masih dapat digunakan setelah pemilik pertama tidak membutuhkannya.

DPP dapat membantu menyediakan informasi mengenai kondisi, material, atau riwayat produk sesuai kebutuhan.

Informasi tersebut dapat mendukung reuse atau penggunaan kembali.

Penggunaan kembali dapat menjadi bagian dari strategi ekonomi sirkular karena masa manfaat produk dapat diperpanjang.

10. Mendukung Daur Ulang

Ketika produk mencapai akhir masa pakainya, informasi mengenai material dapat membantu proses pengelolaan.

DPP dapat memberikan informasi mengenai:

Jenis material

Komponen yang dapat dipisahkan

Kandungan material tertentu

Petunjuk pembongkaran

Informasi daur ulang

Informasi tersebut dapat membantu pengelola mengetahui bagaimana produk sebaiknya diproses.

Digital Product Passport dan Ekonomi Sirkular

DPP memiliki hubungan yang kuat dengan konsep ekonomi sirkular.

Dalam model linear, produk biasanya mengikuti pola:

Ambil Bahan → Produksi → Gunakan → Buang

Sementara ekonomi sirkular berusaha memperpanjang penggunaan produk dan material melalui:

Produksi → Gunakan → Rawat → Perbaiki → Gunakan Kembali → Daur Ulang

Digital Product Passport dapat menyediakan informasi yang diperlukan agar produk dan material lebih mudah ditelusuri dalam siklus tersebut.

Menghubungkan DPP dengan Carbon Tracking

Carbon tracking dapat digunakan untuk mengumpulkan dan menghitung data emisi dari berbagai tahapan.

Contohnya:

Tahapan Emisi
Bahan baku 10 kg CO₂e
Produksi 8 kg CO₂e
Kemasan 2 kg CO₂e
Transportasi 3 kg CO₂e
Penggunaan 5 kg CO₂e
Akhir masa pakai 1 kg CO₂e

Total:

10 + 8 + 2 + 3 + 5 + 1 = 29 kg CO₂e

Maka contoh Digital Product Passport dapat menampilkan:

Jejak Karbon Produk: 29 kg CO₂e/unit

Angka tersebut hanya ilustrasi.

Digital Product Passport dan Life Cycle Assessment

Informasi DPP dapat mendukung pengumpulan data yang digunakan dalam Life Cycle Assessment (LCA).

Analisis siklus hidup dapat melihat tahapan:

Bahan Baku → Produksi → Distribusi → Penggunaan → Akhir Masa Pakai

Dalam analisis jejak karbon, data dari tahapan tersebut digunakan untuk mengetahui sumber emisi terbesar.

DPP dapat membantu menjaga keterhubungan antara data dan identitas produk.

Pentingnya Functional Unit

Perbandingan jejak karbon membutuhkan satuan yang jelas.

Contohnya:

kg CO₂e per unit produk

kg CO₂e per kilogram produk

kg CO₂e per liter

kg CO₂e per penggunaan

Jika DPP menampilkan informasi karbon, functional unit dan batas perhitungan perlu dijelaskan agar angka tidak disalahartikan.

Menggunakan QR Code

Salah satu cara untuk menghubungkan produk fisik dengan informasi digital adalah menggunakan QR code.

QR code dapat ditempatkan pada produk atau kemasan.

Ketika dipindai, pengguna dapat diarahkan ke Digital Product Passport.

Contohnya:

Scan QR Code → Digital Product Passport → Informasi Produk

Informasi yang ditampilkan dapat mencakup asal bahan, komposisi material, jejak karbon, informasi perawatan, dan petunjuk daur ulang.

DPP dan Carbon Label

Digital Product Passport juga dapat digunakan bersama carbon label.

Carbon label memberikan informasi singkat mengenai jejak karbon produk.

Sementara DPP dapat menyediakan informasi yang lebih rinci.

Contohnya pada kemasan:

Carbon Footprint: 29 kg CO₂e/unit

Kemudian konsumen dapat memindai QR code untuk melihat detail perhitungannya.

Dengan pendekatan tersebut, informasi pada kemasan tetap sederhana sementara data tambahan tersedia secara digital.

Meningkatkan Transparansi Produk

DPP dapat membantu meningkatkan transparansi dengan menyediakan informasi yang dapat ditelusuri.

Perusahaan dapat menjelaskan dari mana data berasal, metode yang digunakan, dan bagian siklus hidup yang termasuk dalam perhitungan.

Transparansi penting agar informasi lingkungan tidak hanya menjadi klaim pemasaran.

Konsumen dan mitra bisnis dapat memperoleh konteks yang lebih jelas mengenai data produk.

Mengurangi Risiko Greenwashing

Klaim seperti “rendah karbon” atau “ramah lingkungan” sebaiknya memiliki dasar yang dapat diperiksa.

Digital Product Passport dapat membantu menyediakan data pendukung.

Misalnya, jika perusahaan menyatakan bahwa jejak karbon produk berkurang 20%, DPP dapat memberikan informasi mengenai baseline, periode, cakupan, dan hasil perhitungan.

Dengan demikian, klaim lingkungan dapat didukung oleh informasi yang lebih transparan.

Meningkatkan Keterlacakan Rantai Pasok

DPP dapat menghubungkan informasi dari pemasok, produsen, distributor, dan pihak lainnya.

Secara sederhana:

Pemasok → Produsen → Distributor → Konsumen → Pengelola Akhir Produk

Setiap pihak dapat menyediakan data sesuai peran dan akses yang diberikan.

Keterlacakan tersebut dapat membantu perusahaan memahami asal material dan perjalanan produk.

Keamanan dan Privasi Data

Tidak semua informasi dalam Digital Product Passport harus tersedia untuk semua pihak.

Beberapa data mungkin bersifat publik, sedangkan informasi lainnya hanya dapat diakses oleh produsen, mitra, auditor, atau pihak tertentu.

Sistem dapat menerapkan role-based access control.

Contohnya:

Konsumen: informasi produk dan lingkungan.

Pemasok: data material yang menjadi tanggung jawabnya.

Perusahaan: data operasional yang lebih lengkap.

Auditor: data yang dibutuhkan untuk proses pemeriksaan.

Pengaturan akses membantu menjaga transparansi tanpa mengabaikan keamanan informasi bisnis.

Peran Blockchain

Blockchain dapat digunakan pada beberapa implementasi untuk membantu pencatatan data dan keterlacakan.

Data tertentu dapat dicatat sehingga perubahan dapat dilacak.

Namun, blockchain bukan syarat utama untuk membangun Digital Product Passport.

Database dan sistem informasi biasa juga dapat digunakan jika mampu memenuhi kebutuhan identitas, keamanan, interoperabilitas, dan keterlacakan.

Teknologi sebaiknya dipilih berdasarkan kebutuhan sistem, bukan hanya karena sedang populer.

Peran Artificial Intelligence

Artificial Intelligence (AI) dapat membantu mengolah data produk dalam jumlah besar.

AI dapat digunakan untuk mendeteksi data yang tidak biasa, mengelompokkan informasi material, menganalisis pola emisi, dan membantu menemukan sumber emisi terbesar.

Misalnya, sistem menemukan bahwa 60% jejak karbon produk berasal dari bahan baku tertentu.

Perusahaan kemudian dapat mengevaluasi material atau pemasok tersebut sebagai prioritas pengurangan emisi.

Peran Agentic AI

Agentic AI dapat dikembangkan sebagai asisten pengelolaan Digital Product Passport.

Sistem dapat membantu memeriksa data pemasok, menemukan data yang belum lengkap, menghitung indikator berdasarkan aturan yang ditentukan, dan memperbarui informasi setelah mendapat persetujuan.

Alurnya dapat berupa:

Kumpulkan Data → Validasi → Hitung Emisi → Perbarui DPP → Pantau → Evaluasi

Otomatisasi dapat membantu ketika perusahaan memiliki ribuan produk dan pemasok.

Namun, perubahan data penting tetap perlu memiliki kontrol dan proses persetujuan.

Membuat Dashboard Digital Product Passport

Perusahaan dapat membuat dashboard untuk memantau data seluruh produk.

Dashboard dapat menampilkan:

Jumlah produk

Total jejak karbon

Emisi per produk

Sumber emisi terbesar

Data pemasok

Kandungan material daur ulang

Status kelengkapan DPP

Status verifikasi data

Contohnya:

Produk Jejak Karbon Status Data
Produk A 20 kg CO₂e Lengkap
Produk B 35 kg CO₂e Lengkap
Produk C 28 kg CO₂e Perlu diperbarui

Dashboard membantu perusahaan mengetahui produk yang masih memiliki data belum lengkap.

KPI untuk Digital Product Passport

Beberapa Key Performance Indicator (KPI) dapat digunakan untuk memantau penerapan DPP.

Contohnya:

Persentase produk yang memiliki DPP

Persentase data produk yang lengkap

Persentase pemasok yang memberikan data

Jejak karbon per produk

Persentase material daur ulang

Jumlah produk yang dapat diperbaiki

Persentase data yang telah diverifikasi

KPI dapat disesuaikan dengan jenis produk dan tujuan perusahaan.

Manfaat bagi Konsumen

Digital Product Passport dapat memberikan akses terhadap informasi produk yang sebelumnya sulit diketahui.

Konsumen dapat melihat asal bahan, komposisi, informasi penggunaan, jejak karbon, serta cara mengelola produk setelah tidak digunakan.

Informasi tersebut dapat membantu konsumen membuat keputusan berdasarkan kebutuhan dan pertimbangan lingkungan.

Manfaat bagi Perusahaan

Bagi perusahaan, DPP dapat membantu meningkatkan pengelolaan data produk dan rantai pasok.

Perusahaan dapat mengetahui sumber emisi terbesar, meningkatkan kualitas data pemasok, mendukung carbon tracking, serta menemukan peluang efisiensi.

DPP juga dapat membantu perusahaan menyediakan informasi produk secara lebih terstruktur kepada konsumen dan mitra bisnis.

Tantangan Penerapan Digital Product Passport

Salah satu tantangan utama adalah kualitas dan ketersediaan data.

Satu produk dapat memiliki banyak komponen yang berasal dari berbagai pemasok.

Setiap pemasok mungkin memiliki sistem dan format data yang berbeda.

Perusahaan juga perlu memastikan identitas produk, standar data, keamanan, interoperabilitas, serta metode perhitungan karbon digunakan secara konsisten.

Selain itu, data perlu diperbarui ketika desain, material, pemasok, atau proses produksi berubah.

Dari Data Produk Menuju Transparansi

Digital Product Passport dapat mengubah data yang tersebar menjadi informasi yang terhubung dengan identitas produk.

Pendekatannya dapat berupa:

Identifikasi Produk → Kumpulkan Data → Validasi → Hitung Jejak Karbon → Buat DPP → Bagikan Informasi → Perbarui → Evaluasi

Dengan pendekatan tersebut, data produk dapat digunakan sepanjang siklus hidup dan tidak hanya berhenti pada tahap produksi.

Kesimpulan

Digital Product Passport (DPP) dapat menjadi alat untuk meningkatkan keterlacakan dan transparansi informasi produk sepanjang siklus hidupnya.

Ketika diintegrasikan dengan carbon footprint tracking, DPP dapat menyediakan informasi mengenai jejak karbon dari bahan baku, produksi, kemasan, transportasi, penggunaan, hingga akhir masa pakai produk.

Teknologi seperti QR code, database, cloud, AI, dan Agentic AI dapat membantu mengelola dan memberikan akses terhadap informasi tersebut. Blockchain juga dapat digunakan pada kebutuhan tertentu, tetapi bukan menjadi syarat utama.

Digital Product Passport juga dapat mendukung carbon label, Life Cycle Assessment, ekonomi sirkular, pengelolaan rantai pasok, dan pengurangan risiko greenwashing apabila data yang digunakan memiliki metode dan sumber yang jelas.

Pada akhirnya, DPP tidak hanya menjadi identitas digital sebuah produk, tetapi dapat menjadi jembatan antara data, perusahaan, konsumen, dan rantai pasok untuk membantu menciptakan produk yang lebih transparan, dapat ditelusuri, dan rendah karbon.