Pengantar

Domain Name System (DNS) pada dasarnya dirancang untuk menerjemahkan nama domain menjadi alamat IP. Karena perannya yang krusial, trafik DNS hampir selalu diizinkan melewati firewall dan perangkat keamanan jaringan. Kondisi inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh peretas melalui teknik yang dikenal sebagai DNS Tunneling.

DNS Tunneling memungkinkan penyerang menyelundupkan data berbahaya atau membangun saluran komunikasi tersembunyi menggunakan kueri dan respons DNS. Teknik ini sering digunakan untuk data exfiltration maupun komunikasi Command and Control (C2) malware tanpa mudah terdeteksi.


Apa Itu DNS Tunneling?

DNS Tunneling adalah teknik penyalahgunaan protokol DNS untuk mengirimkan data non-DNS dengan cara menyamarkannya ke dalam format kueri DNS (dikutip dari catchpoint). Data biasanya dienkode (misalnya menggunakan Base64) lalu dimasukkan ke dalam subdomain yang terlihat sah bagi sistem jaringan.

baca juga : Software-Defined Perimeter: Cara Menyembunyikan Infrastruktur dari Serangan Internet


Bagaimana Cara Kerja DNS Tunneling?

Penyamaran Data dalam Kueri DNS

Pada praktiknya, malware atau tool tunneling akan memecah data menjadi potongan kecil dan menyematkannya ke dalam permintaan DNS. Contohnya:

YXNkZmdoMTIzLmV2aWwuY29t

Bagi DNS resolver, ini tampak seperti kueri biasa, padahal berisi data terenkripsi.

Server DNS sebagai Channel Komunikasi

Server DNS yang dikendalikan penyerang akan mengekstrak data dari kueri tersebut dan dapat mengirimkan respons DNS berisi perintah balik. Dengan cara ini, DNS berfungsi sebagai covert channel untuk komunikasi dua arah antara malware dan server C2.


Tujuan dan Dampak DNS Tunneling

Command and Control (C2) Malware

DNS Tunneling sering digunakan untuk mempertahankan komunikasi malware ketika port lain diblokir firewall. Karena DNS hampir selalu diizinkan, serangan dapat bertahan lebih lama tanpa terdeteksi.

Data Exfiltration

Teknik ini juga efektif untuk mencuri data sensitif seperti kredensial, konfigurasi sistem, atau potongan database dengan menyelundupkannya melalui kueri DNS secara perlahan.


Ciri-Ciri DNS Tunneling di Jaringan

Pola Kueri DNS Tidak Normal

Beberapa indikator umum meliputi:

  • Nama domain sangat panjang dan acak

  • Frekuensi kueri DNS yang tinggi ke domain tertentu

  • Subdomain dengan karakter tidak lazim (base64, hex)

Volume Trafik DNS Berlebihan

DNS normal biasanya ringan. Lonjakan trafik DNS secara signifikan bisa menjadi indikator kuat adanya aktivitas tunneling.

baca juga : Dosa Terbesar Developer: Menaruh Keamanan di Urutan Terakhir


Teknik Deteksi DNS Tunneling

Analisis Log DNS

Administrator dapat mendeteksi DNS Tunneling dengan menganalisis log DNS untuk menemukan pola anomali, seperti domain berulang dengan struktur tidak wajar (dikutip dari Cloudflare).

DNS Filtering dan Inspection

Penerapan DNS filtering, threat intelligence, dan analisis statistik berbasis SIEM dapat membantu memblokir domain berbahaya yang digunakan untuk tunneling.


Strategi Mitigasi DNS Tunneling

Batasi Akses DNS

Gunakan resolver DNS internal dan blokir akses DNS langsung ke server eksternal yang tidak dikenal.

Monitoring Berbasis Behavior

Pendekatan berbasis perilaku (behavior-based detection) lebih efektif dibanding sekadar blacklist domain, karena domain DNS Tunneling sering berubah-ubah.

baca juga : VLAN Hopping: Bagaimana Miskonfigurasi Port Switch Bisa Menjadi Pintu Masuk Peretas antar Segmen Jaringan


Kesimpulan

DNS Tunneling adalah teknik penyusupan yang memanfaatkan kepercayaan tinggi terhadap protokol DNS untuk menyamarkan komunikasi berbahaya. Dengan menyelipkan data ke dalam kueri DNS, penyerang dapat membangun jalur komunikasi tersembunyi yang sulit terdeteksi oleh sistem keamanan tradisional.

Oleh karena itu, administrator jaringan perlu menerapkan pemantauan DNS yang ketat, analisis perilaku trafik, serta kebijakan egress filtering untuk meminimalkan risiko penyalahgunaan DNS sebagai kanal serangan.