Pengantar
Teori tentang penyebab fraud terus berkembang seiring waktu. Jika sebelumnya kita mengenal Fraud Triangle dengan tiga elemennya, yaitu tekanan, kesempatan, dan pembenaran diri, kemudian berkembang menjadi Fraud Diamond dengan tambahan elemen kemampuan, maka perkembangan selanjutnya melahirkan teori yang lebih lengkap bernama Fraud Pentagon.
Teori ini diperkenalkan oleh Crowe Horwath pada tahun 2011, sehingga sering pula disebut Crowe’s Fraud Pentagon Theory. Teori ini menambahkan dua elemen baru sekaligus ke dalam kerangka yang sudah ada, yaitu kompetensi (competence) dan arogansi (arrogance), sehingga total terdapat lima elemen yang membentuk bangun pentagon atau segi lima.
Artikel ini akan membahas kelima elemen dalam Fraud Pentagon, mengapa dua elemen baru tersebut dianggap penting untuk ditambahkan, serta bagaimana pemahaman terhadap teori ini bisa membantu perusahaan dalam mencegah fraud secara lebih menyeluruh.
Pressure: Tekanan sebagai Pendorong Awal
Elemen pertama, tekanan, tetap dipertahankan dari teori sebelumnya. Tekanan adalah dorongan yang dirasakan seseorang, baik karena masalah keuangan pribadi, target kinerja yang terlalu tinggi, maupun gaya hidup yang melebihi kemampuan penghasilannya, sehingga ia merasa perlu mencari jalan keluar melalui cara yang tidak sah.
Tekanan ini menjadi titik awal yang mendorong seseorang mulai mempertimbangkan tindakan curang, meskipun belum tentu benar-benar dilakukan jika elemen lain tidak turut mendukung.
Opportunity: Kesempatan yang Terbuka Akibat Lemahnya Pengawasan
Elemen kedua, kesempatan, juga tetap dipertahankan. Kesempatan muncul ketika sistem pengendalian internal perusahaan lemah, misalnya karena tidak adanya pemisahan tugas yang jelas, minimnya pengawasan, atau sistem otorisasi yang mudah dimanipulasi.
Semakin besar celah yang terbuka akibat lemahnya pengawasan, semakin besar pula peluang seseorang untuk benar-benar merealisasikan niat curangnya tanpa takut ketahuan.
Rationalization: Pembenaran Diri atas Tindakan yang Dilakukan
Elemen ketiga, pembenaran diri, tetap menjadi bagian penting dalam teori ini. Pembenaran diri adalah cara pelaku meyakinkan dirinya sendiri bahwa tindakan curang yang dilakukannya bukan sesuatu yang salah, misalnya dengan menganggapnya sebagai “pinjaman sementara”, merasa berhak karena kontribusinya belum dihargai, atau membandingkan diri dengan orang lain yang melakukan hal serupa tanpa sanksi.
Pembenaran diri ini membuat pelaku merasa nyaman secara psikologis untuk melangkah lebih jauh dalam melakukan tindakan curangnya.
Competence: Kompetensi sebagai Pengganti Capability
Elemen keempat, kompetensi, sebenarnya memiliki kemiripan dengan elemen kemampuan pada Fraud Diamond, namun dengan penekanan yang sedikit berbeda. Jika kemampuan pada Fraud Diamond lebih menekankan pada sifat pribadi secara umum, kompetensi pada Fraud Pentagon lebih menekankan pada kapasitas seseorang untuk mengabaikan sistem pengendalian internal, mengembangkan strategi penyembunyian yang efektif, dan mengendalikan situasi sosial di sekitarnya demi keuntungan pribadi.
Seseorang dengan kompetensi tinggi biasanya memahami betul cara kerja sistem di perusahaan, termasuk celah-celah yang bisa dimanfaatkan, serta mampu menciptakan cara-cara baru untuk menyembunyikan jejak tindakannya dalam waktu yang lama.
Arrogance: Arogansi sebagai Elemen Baru yang Ditambahkan
Elemen kelima, arogansi, merupakan elemen yang benar-benar baru dan menjadi ciri khas Fraud Pentagon dibanding teori-teori sebelumnya. Arogansi merujuk pada sikap superioritas atau rasa percaya diri yang berlebihan, di mana pelaku merasa dirinya berada di atas aturan atau sistem pengendalian yang berlaku, dan yakin bahwa tindakannya tidak akan pernah terungkap.

Sikap arogan ini sering ditemukan pada individu dengan posisi tinggi di perusahaan, yang merasa dirinya terlalu berpengaruh atau terlalu dipercaya untuk diperiksa lebih lanjut. Sikap ini juga membuat pelaku cenderung meremehkan sistem pengendalian internal, karena merasa yakin mampu mengendalikan situasi apa pun yang muncul.
Contoh sederhana dari arogansi ini adalah seorang pimpinan yang merasa dirinya tidak perlu diaudit karena telah lama dipercaya, atau seorang manajer senior yang meremehkan prosedur karena merasa posisinya sudah cukup kuat untuk melindungi dirinya dari pemeriksaan.
Mengapa Dua Elemen Baru Ini Penting Ditambahkan
Penambahan elemen kompetensi dan arogansi ini muncul dari pengamatan terhadap berbagai kasus fraud besar, terutama yang melibatkan pejabat tinggi atau eksekutif perusahaan. Dalam banyak kasus tersebut, pelaku bukan hanya memiliki tekanan, kesempatan, dan pembenaran diri, tetapi juga memiliki kompetensi tinggi dalam memanfaatkan sistem, serta sikap arogan yang membuatnya merasa kebal terhadap pengawasan.
Dengan kata lain, Fraud Pentagon berupaya menjelaskan bahwa fraud dalam skala besar, terutama yang dilakukan oleh kalangan eksekutif atau pejabat senior, sering kali tidak cukup dijelaskan hanya dengan tiga atau empat elemen sebelumnya, karena unsur arogansi dan kompetensi tinggi memainkan peran yang sangat signifikan.
Manfaat Memahami Fraud Pentagon bagi Perusahaan
Pemahaman terhadap Fraud Pentagon memberikan manfaat penting bagi perusahaan dalam merancang strategi pencegahan fraud yang lebih menyeluruh. Dengan memahami elemen tekanan dan pembenaran diri, perusahaan dapat membangun lingkungan kerja yang sehat serta budaya integritas yang kuat.
Dengan memahami elemen kesempatan dan kompetensi, perusahaan dapat memperkuat sistem pengendalian internal serta melakukan audit dan pengawasan yang lebih ketat, terutama pada posisi-posisi dengan akses luas terhadap sistem dan data penting.
Dengan memahami elemen arogansi, perusahaan perlu memastikan bahwa tidak ada individu, sekalipun berada di posisi tertinggi, yang dianggap kebal dari pemeriksaan dan pengawasan. Prinsip bahwa semua pihak setara di hadapan sistem pengendalian internal menjadi kunci penting untuk mencegah fraud yang didorong oleh sikap arogan semacam ini.
Kesimpulan
Fraud Pentagon merupakan perkembangan lebih lanjut dari teori-teori sebelumnya dalam menjelaskan penyebab terjadinya fraud. Dengan menambahkan elemen kompetensi dan arogansi ke dalam tekanan, kesempatan, dan pembenaran diri, teori ini memberikan gambaran yang lebih lengkap, terutama dalam menjelaskan kasus-kasus fraud besar yang melibatkan pihak-pihak dengan posisi dan pengaruh tinggi di perusahaan.
Dengan memahami kelima elemen ini secara menyeluruh, perusahaan dapat merancang sistem pencegahan fraud yang tidak hanya menyasar tekanan dan kesempatan, tetapi juga mengantisipasi risiko yang muncul dari kompetensi tinggi dan sikap arogan para pelakunya, sehingga potensi kecurangan dapat ditekan secara lebih efektif.







