Pengantar
Setelah memahami berbagai teori tentang mengapa fraud bisa terjadi, seperti Fraud Triangle, Fraud Diamond, dan Fraud Pentagon, penting juga untuk memahami bagaimana fraud itu sendiri diklasifikasikan berdasarkan bentuk dan cara pelaksanaannya. Salah satu kerangka klasifikasi yang paling banyak digunakan di dunia adalah Fraud Tree, yang dikembangkan oleh Association of Certified Fraud Examiners atau ACFE.
Fraud Tree menggambarkan berbagai jenis kecurangan dalam bentuk struktur pohon, di mana terdapat tiga cabang utama yang kemudian bercabang lagi menjadi berbagai bentuk kecurangan yang lebih spesifik. Kerangka ini sangat membantu auditor, investigator, maupun manajemen perusahaan dalam mengenali dan mengklasifikasikan berbagai bentuk fraud yang mungkin terjadi di lingkungan kerja.
Artikel ini akan membahas tiga cabang utama dalam Fraud Tree beserta contoh-contoh sederhana dari masing-masing jenisnya, agar lebih mudah dipahami.
Corruption: Korupsi dalam Konteks Kecurangan Kerja
Cabang pertama dalam Fraud Tree adalah korupsi, yaitu penyalahgunaan wewenang atau posisi seseorang untuk memperoleh keuntungan yang tidak sah, biasanya dengan melibatkan pihak lain di luar organisasi. Dalam konteks ini, korupsi terbagi lagi menjadi beberapa bentuk.
- Bentuk pertama adalah konflik kepentingan, yaitu ketika seseorang memiliki kepentingan pribadi yang bertentangan dengan kepentingan perusahaan tempat ia bekerja, misalnya seorang manajer pengadaan yang memilih pemasok karena pemasok tersebut adalah milik keluarganya sendiri, tanpa mempertimbangkan penawaran lain yang lebih menguntungkan perusahaan.
- Bentuk kedua adalah penyuapan, yaitu pemberian atau penerimaan sesuatu yang bernilai dengan tujuan memengaruhi keputusan tertentu, misalnya seorang pejabat pengadaan menerima sejumlah uang dari vendor agar tendernya dimenangkan meskipun penawarannya bukan yang terbaik.
- Bentuk ketiga adalah pemberian ilegal, yaitu pemberian hadiah atau fasilitas tertentu yang bertujuan memengaruhi keputusan bisnis, misalnya pemberian tiket liburan mewah kepada pejabat perusahaan agar kontrak kerja sama tetap berlanjut.
- Bentuk keempat adalah pemerasan ekonomi, yaitu ketika seseorang menggunakan posisi atau kekuasaannya untuk memaksa pihak lain memberikan sesuatu yang bernilai, misalnya seorang pejabat mengancam akan mempersulit izin usaha jika tidak diberikan sejumlah uang tertentu.
Asset Misappropriation: Penyalahgunaan Aset Perusahaan
Cabang kedua adalah penyalahgunaan aset, yaitu tindakan pencurian atau penyalahgunaan aset milik perusahaan, baik berupa uang tunai maupun aset non-tunai lainnya. Cabang ini merupakan jenis fraud yang paling sering terjadi karena bentuknya paling beragam dan relatif mudah dilakukan.
Pada bagian kas, terdapat beberapa bentuk penyalahgunaan, seperti pencurian kas secara langsung, penggelapan penerimaan sebelum dicatat ke dalam pembukuan, pengeluaran kas secara curang melalui klaim reimbursement yang direkayasa, pembuatan cek atau pembayaran palsu, serta manipulasi dalam pencatatan penggajian.
Pada bagian aset non-tunai, penyalahgunaan dapat berupa pencurian barang atau persediaan perusahaan, penggunaan aset perusahaan untuk kepentingan pribadi tanpa izin, hingga penjualan aset perusahaan secara tidak sah untuk kepentingan pribadi.
Contoh sederhana dari cabang ini misalnya seorang karyawan gudang yang mencuri sebagian barang persediaan lalu memanipulasi catatan stok agar tidak terlihat berkurang, atau seorang staf keuangan yang membuat klaim reimbursement fiktif untuk perjalanan dinas yang sebenarnya tidak pernah dilakukan.
Fraudulent Statements: Kecurangan dalam Pelaporan
Cabang ketiga adalah kecurangan dalam pelaporan, yaitu tindakan memanipulasi informasi atau laporan, baik laporan keuangan maupun laporan non-keuangan, dengan tujuan menyesatkan pihak-pihak yang menggunakan laporan tersebut.
Pada laporan keuangan, bentuk kecurangan yang umum terjadi antara lain menyajikan pendapatan yang lebih tinggi dari kondisi sebenarnya, menyembunyikan kewajiban atau utang perusahaan agar terlihat lebih sehat secara finansial, menilai aset secara tidak wajar agar terlihat lebih besar, atau menyembunyikan biaya tertentu agar laba terlihat lebih tinggi dari kenyataan.

Pada laporan non-keuangan, kecurangan dapat berupa pemalsuan kualifikasi seseorang dalam dokumen ketenagakerjaan, manipulasi data kinerja untuk kepentingan tertentu, atau penyajian informasi yang menyesatkan dalam laporan non-keuangan lainnya, seperti laporan keberlanjutan atau laporan kepatuhan.
Contoh sederhana dari cabang ini misalnya sebuah perusahaan yang sengaja mencatat pendapatan dari transaksi yang sebenarnya belum terjadi, agar laporan keuangan tahunannya terlihat lebih menguntungkan di mata investor.
Mengapa Klasifikasi Ini Penting Dipahami
Memahami Fraud Tree penting karena membantu berbagai pihak dalam mengenali bentuk-bentuk kecurangan secara lebih spesifik, bukan hanya sekadar mengetahui bahwa fraud itu ada. Dengan klasifikasi yang jelas, auditor dapat merancang prosedur pemeriksaan yang lebih terarah sesuai jenis fraud yang dicurigai, manajemen dapat menyusun pengendalian internal yang lebih spesifik untuk setiap area berisiko, serta investigator dapat lebih mudah menelusuri pola dan bukti sesuai kategori kecurangan yang dihadapi.
Selain itu, klasifikasi ini juga membantu perusahaan menyadari bahwa fraud tidak selalu berbentuk pencurian uang secara langsung, tetapi bisa pula berupa manipulasi laporan atau penyalahgunaan wewenang yang dampaknya justru bisa lebih besar dan lebih sulit dideteksi.
Kesimpulan
Fraud Tree memberikan kerangka klasifikasi yang jelas untuk memahami berbagai bentuk kecurangan, mulai dari korupsi, penyalahgunaan aset, hingga kecurangan dalam pelaporan. Ketiga cabang utama ini kemudian bercabang lagi menjadi berbagai bentuk yang lebih spesifik, sehingga memudahkan berbagai pihak dalam mengenali, mendeteksi, dan mencegah fraud sesuai dengan bentuknya masing-masing.
Dengan memahami klasifikasi ini, perusahaan dapat merancang sistem pengendalian dan pengawasan yang lebih tepat sasaran untuk setiap jenis risiko kecurangan yang mungkin dihadapinya, sehingga upaya pencegahan fraud dapat dilakukan secara lebih menyeluruh dan efektif.







