Pendahuluan

Proses produksi merupakan bagian penting dalam kegiatan perusahaan. Mulai dari pengolahan bahan baku, penggunaan mesin, konsumsi listrik, penggunaan bahan bakar, hingga menghasilkan produk jadi, setiap tahapan dapat menggunakan energi dan sumber daya.

Penggunaan energi tersebut dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, menghitung emisi dari proses produksi penting untuk mengetahui seberapa besar dampak kegiatan produksi terhadap lingkungan.

Dengan penghitungan yang tepat, perusahaan dapat mengetahui sumber emisi terbesar, meningkatkan efisiensi penggunaan energi, dan menentukan strategi pengurangan emisi yang lebih terarah.

Apa Itu Emisi dari Proses Produksi?

Emisi proses produksi adalah emisi gas rumah kaca yang berasal atau berkaitan dengan kegiatan menghasilkan suatu produk.

Emisi dapat berasal dari pembakaran bahan bakar pada mesin, penggunaan listrik, proses industri tertentu, penggunaan bahan baku, hingga pengelolaan limbah produksi.

Hasil penghitungan umumnya dinyatakan dalam karbon dioksida ekuivalen (CO₂e) sehingga berbagai jenis gas rumah kaca dapat dibandingkan menggunakan satu ukuran.

Mengapa Emisi Produksi Perlu Dihitung?

Penghitungan emisi membantu perusahaan memahami hubungan antara kegiatan produksi dan jejak karbon.

Tanpa data yang jelas, perusahaan akan kesulitan mengetahui apakah emisi terbesar berasal dari penggunaan listrik, mesin berbahan bakar, bahan baku, atau aktivitas lainnya.

Data tersebut juga dapat digunakan untuk membandingkan emisi antarperiode dan melihat apakah program efisiensi yang dilakukan memberikan perubahan.

Sumber Emisi dalam Proses Produksi

1. Penggunaan Listrik

Mesin produksi, lampu, pendingin, pompa, komputer, dan berbagai peralatan membutuhkan listrik.

Jika listrik yang digunakan berasal dari sistem kelistrikan yang menghasilkan emisi, konsumsi tersebut memiliki emisi tidak langsung.

Data konsumsi listrik biasanya dapat diperoleh dari meter listrik, tagihan, atau sistem monitoring energi.

2. Penggunaan Bahan Bakar

Beberapa proses produksi menggunakan bahan bakar seperti solar, bensin, LPG, atau bahan bakar lainnya.

Bahan bakar dapat digunakan untuk boiler, generator, mesin, kendaraan operasional, atau peralatan produksi.

Pembakaran bahan bakar menghasilkan emisi langsung sehingga jumlah bahan bakar yang digunakan perlu dicatat.

3. Proses Industri

Pada industri tertentu, emisi dapat muncul dari reaksi kimia selama proses produksi, bukan hanya dari penggunaan energi.

Jenis dan metode penghitungan emisi proses tersebut bergantung pada aktivitas industri yang dilakukan.

Karena itu, perusahaan perlu mengidentifikasi apakah terdapat proses produksi yang secara langsung melepaskan gas rumah kaca.

4. Bahan Baku

Bahan baku yang digunakan juga memiliki jejak karbon dari proses sebelum sampai ke fasilitas produksi.

Emisi dapat berasal dari pengambilan bahan, pengolahan, produksi, dan transportasi bahan baku.

Jika batas penghitungan mencakup rantai pasok, emisi bahan baku perlu dimasukkan sebagai bagian dari penghitungan.

5. Limbah Produksi

Proses produksi dapat menghasilkan sisa material, air limbah, sampah, dan berbagai jenis limbah lainnya.

Pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, atau pembuangan limbah dapat menghasilkan emisi.

Karena itu, jenis, jumlah, dan metode pengelolaan limbah perlu dicatat jika termasuk dalam batas inventaris.

Data yang Dibutuhkan

Sebelum menghitung emisi, perusahaan perlu mengumpulkan data aktivitas produksi.

Beberapa data yang dapat digunakan meliputi konsumsi listrik, jumlah bahan bakar, jumlah bahan baku, jumlah produk yang dihasilkan, penggunaan energi, limbah produksi, serta data proses industri tertentu.

Data sebaiknya dikumpulkan berdasarkan periode yang sama, misalnya setiap bulan atau setiap tahun, agar hasilnya mudah dibandingkan.

Rumus Dasar Menghitung Emisi

Secara sederhana, emisi dapat dihitung menggunakan:

Emisi (kg CO₂e) = Data Aktivitas × Faktor Emisi

Data aktivitas dapat berupa kWh listrik, liter bahan bakar, kilogram material, atau satuan lainnya.

Faktor emisi perlu disesuaikan dengan jenis aktivitas, lokasi, sumber energi, periode, dan metode penghitungan yang digunakan.

Menghitung Emisi dari Listrik

Jika sebuah fasilitas menggunakan 10.000 kWh listrik selama satu bulan, maka perhitungannya adalah:

Emisi Listrik = 10.000 kWh × Faktor Emisi Listrik

Nilai faktor emisi listrik tidak selalu sama untuk setiap wilayah atau periode karena komposisi sumber energi dalam sistem kelistrikan dapat berbeda.

Karena itu, gunakan faktor emisi yang relevan dengan lokasi dan periode penghitungan.

Menghitung Emisi dari Bahan Bakar

Jika perusahaan menggunakan 500 liter solar untuk kegiatan produksi, perhitungannya dapat dilakukan dengan:

Emisi Bahan Bakar = 500 liter × Faktor Emisi Solar

Cara yang sama dapat digunakan untuk bahan bakar lainnya dengan menggunakan faktor emisi yang sesuai.

Jika beberapa jenis bahan bakar digunakan, hitung masing-masing secara terpisah kemudian jumlahkan hasilnya.

Menghitung Total Emisi Produksi

Setelah setiap sumber dihitung, perusahaan dapat menjumlahkan seluruh emisi yang termasuk dalam batas perhitungan.

Sebagai contoh sederhana:

Sumber Emisi Emisi
Listrik 4.000 kg CO₂e
Bahan bakar 1.500 kg CO₂e
Proses produksi 800 kg CO₂e
Limbah 300 kg CO₂e
Total 6.600 kg CO₂e

Angka tersebut hanya contoh ilustrasi, bukan nilai emisi yang berlaku untuk perusahaan tertentu.

Menghitung Emisi per Produk

Selain menghitung total emisi fasilitas, perusahaan dapat menghitung emisi per unit produk.

Misalnya, total emisi produksi adalah 6.600 kg CO₂e dan perusahaan menghasilkan 3.000 unit produk.

Maka:

Emisi per produk = 6.600 kg CO₂e ÷ 3.000 unit

= 2,2 kg CO₂e per produk

Penghitungan seperti ini dapat membantu membandingkan intensitas emisi produksi antarperiode.

Namun, jika fasilitas menghasilkan beberapa jenis produk, perusahaan perlu menentukan metode alokasi emisi yang sesuai.

Hubungan dengan Scope 1, Scope 2, dan Scope 3

Emisi produksi dapat masuk ke beberapa kategori.

Scope 1 dapat mencakup emisi langsung dari pembakaran bahan bakar pada peralatan atau sumber yang dimiliki atau dikendalikan perusahaan.

Scope 2 berkaitan dengan emisi dari energi yang dibeli, seperti listrik yang digunakan untuk menjalankan mesin produksi.

Sementara Scope 3 dapat mencakup emisi tidak langsung lainnya, seperti produksi bahan baku yang dibeli, transportasi pihak ketiga, dan pengelolaan limbah oleh pihak lain sesuai dengan kategori dan batas inventaris yang digunakan.

Cara Meningkatkan Akurasi Perhitungan

Gunakan data aktual sebanyak mungkin daripada hanya menggunakan perkiraan.

Catat konsumsi listrik dari meter, penggunaan bahan bakar berdasarkan jumlah yang sebenarnya, serta jumlah produk yang dihasilkan selama periode tersebut.

Pastikan satuan yang digunakan sesuai dengan faktor emisi.

Perusahaan juga perlu mendokumentasikan sumber data, faktor emisi, periode, metode, batas perhitungan, dan asumsi agar hasil dapat diperiksa kembali.

Gunakan Carbon Tracking

Carbon tracking dapat membantu perusahaan mengelola data emisi produksi secara lebih terstruktur.

Data penggunaan listrik, bahan bakar, produksi, bahan baku, dan limbah dapat dicatat secara berkala dalam sistem.

Dashboard dapat digunakan untuk melihat perubahan emisi dari bulan ke bulan serta membandingkan konsumsi energi dengan jumlah produksi.

Dengan demikian, perusahaan dapat mengetahui bagian proses yang membutuhkan perhatian lebih besar.

Peran Teknologi

Teknologi dapat membantu proses pengumpulan dan analisis data emisi.

Smart meter dapat mencatat penggunaan listrik, sedangkan Internet of Things (IoT) dapat membantu memantau konsumsi energi dari mesin atau fasilitas tertentu.

Sistem informasi dan cloud computing dapat digunakan untuk menyimpan data dari berbagai fasilitas.

Sementara itu, Artificial Intelligence (AI) dan data analytics dapat membantu menemukan pola penggunaan energi, mendeteksi data yang tidak biasa, serta mengidentifikasi proses yang berpotensi kurang efisien.

Mengurangi Emisi dari Proses Produksi

Setelah mengetahui sumber emisi terbesar, perusahaan dapat menentukan strategi pengurangan.

Jika listrik menjadi sumber utama, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi mesin dan mengurangi penggunaan energi yang tidak diperlukan.

Jika bahan bakar memberikan kontribusi besar, perusahaan dapat mengevaluasi efisiensi peralatan dan proses yang menggunakan bahan bakar.

Pengurangan limbah, optimalisasi proses produksi, perawatan mesin, serta pemanfaatan sumber energi yang lebih rendah karbon juga dapat dipertimbangkan sesuai kondisi perusahaan.

Pendekatannya dapat dilakukan melalui:

Ukur → Identifikasi → Kurangi → Pantau → Evaluasi

Manfaat Pengukuran Emisi Produksi

Pengukuran tidak hanya membantu perusahaan mengetahui jumlah emisi yang dihasilkan.

Data juga dapat membantu meningkatkan efisiensi penggunaan energi, menemukan pemborosan, mengevaluasi proses produksi, dan memantau perkembangan target pengurangan emisi.

Penghitungan yang dilakukan secara konsisten juga dapat mendukung kebutuhan pelaporan lingkungan dan sustainability perusahaan.

Kesimpulan

Menghitung emisi dari proses produksi merupakan langkah penting untuk mengetahui dampak kegiatan produksi terhadap jejak karbon perusahaan.

Emisi dapat berasal dari penggunaan listrik, pembakaran bahan bakar, proses industri, bahan baku, hingga pengelolaan limbah.

Secara sederhana, penghitungan dilakukan menggunakan:

Emisi = Data Aktivitas × Faktor Emisi

Setelah sumber emisi terbesar diketahui, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi energi, memperbaiki proses produksi, mengurangi limbah, dan memantau hasil pengurangan secara berkala.

Dengan dukungan carbon tracking, AI, IoT, smart meter, dan sistem digital, pengelolaan emisi produksi dapat menjadi lebih terukur, efisien, dan mudah dipantau.