Pengantar
Arsitektur serverless semakin populer karena kemudahan skalabilitas dan efisiensi biaya. Layanan seperti AWS Lambda dan Google Cloud Functions memungkinkan pengembang menjalankan kode tanpa perlu mengelola server. Namun, di balik fleksibilitas tersebut terdapat satu tantangan klasik: cold start.
Cold start sering menjadi penyebab utama lonjakan latensi yang terasa “tanpa sebab”, terutama pada aplikasi dengan kebutuhan respons cepat. Artikel ini membedah apa itu serverless cold start, mengapa ia terjadi, serta strategi teknis untuk mengoptimalkan performa latensi pada AWS Lambda dan Google Cloud Functions.
Apa Itu Serverless Cold Start?
Cold start adalah kondisi ketika platform serverless harus menyiapkan lingkungan eksekusi baru sebelum menjalankan fungsi. Proses ini mencakup:
-
Alokasi resource komputasi
-
Inisialisasi runtime (Node.js, Python, Java, dll)
-
Load dependency dan library
-
Menjalankan kode inisialisasi (init phase)
Selama fase ini, request pertama akan mengalami latensi lebih tinggi dibanding request berikutnya (warm start).
baca juga : Bypass Firewall: Bagaimana Teknik DNS Tunneling Menyundupkan Data Keluar dari Jaringan Perusahaan
Mengapa Cold Start Terjadi?
Model Eksekusi Berbasis Event
Serverless bersifat event-driven. Jika sebuah fungsi tidak dipanggil dalam periode tertentu, penyedia cloud dapat menghentikan environment untuk menghemat resource. Saat ada request baru, sistem harus membuat environment dari nol.
Ukuran Dependency dan Runtime
Semakin besar ukuran package dan semakin berat runtime (misalnya Java dibanding Node.js), semakin lama waktu inisialisasi. Dependency yang dimuat saat startup sangat berpengaruh terhadap durasi cold start.
Isolasi Keamanan
Platform serverless menggunakan isolasi kuat (container atau microVM). Proses ini penting untuk keamanan, namun menambah overhead waktu startup.
Cold Start di AWS Lambda vs Google Cloud Functions
AWS Lambda
AWS Lambda memisahkan fase eksekusi menjadi Init, Invoke, dan Shutdown. Cold start terjadi saat fase Init, terutama ketika:
-
Fungsi jarang dipanggil
-
Menggunakan VPC
-
Menggunakan runtime berat
Google Cloud Functions
Google Cloud Functions juga mengalami cold start, terutama pada 1st Gen Functions. Lingkungan eksekusi akan di-recreate jika idle terlalu lama atau terjadi autoscaling dari nol. (dikutip dari google cloud functions).
baca juga : CVE‑2025‑32462: Kerentanan Berbahaya pada Sudo di Sistem Linux/Unix
Strategi Mengoptimalkan Cold Start
Pilih Runtime yang Ringan
Gunakan runtime dengan startup cepat seperti:
-
Node.js
-
Python
Hindari runtime berat jika tidak benar-benar dibutuhkan.
Minimalkan Dependency
-
Hapus library yang tidak digunakan
-
Gunakan bundler untuk mengecilkan ukuran package
-
Pindahkan inisialisasi berat ke luar handler jika memungkinkan
Manfaatkan Warm-Up Strategy
Kirim request berkala (cron job) agar fungsi tetap dalam kondisi warm. Meskipun bukan solusi ideal, cara ini efektif untuk sistem dengan traffic rendah.
Gunakan Provisioned Concurrency (AWS Lambda)
AWS menyediakan Provisioned Concurrency untuk menjaga sejumlah instance Lambda tetap aktif, sehingga cold start dapat dieliminasi hampir sepenuhnya.
Optimasi Kode Inisialisasi
-
Hindari koneksi database saat startup
-
Lazy load resource berat
-
Gunakan connection pooling secara efisien
baca juga : Log Poisoning: Trik Peretas Menghapus Jejak Digital dengan Memanipulasi File Log Sistem
Kesimpulan
Serverless cold start bukanlah bug, melainkan konsekuensi desain dari arsitektur serverless yang mengutamakan efisiensi dan skalabilitas. Namun, tanpa optimasi yang tepat, cold start dapat berdampak signifikan terhadap pengalaman pengguna.
Dengan memahami cara kerja cold start pada AWS Lambda dan Google Cloud Functions, serta menerapkan strategi optimasi seperti pemilihan runtime, pengurangan dependency, dan fitur concurrency, latensi dapat ditekan secara signifikan tanpa mengorbankan keunggulan serverless itu sendiri.









