Pengantar

Seiring bertambahnya fitur dan perubahan kebutuhan bisnis, banyak aplikasi berkembang tanpa arah yang jelas. Kode yang awalnya sederhana perlahan berubah menjadi spaghetti code—sulit dibaca, sulit diuji, dan berisiko tinggi ketika diubah.

Di sinilah refactoring berperan. Refactoring bukan sekadar merapikan kode, tetapi sebuah seni untuk meningkatkan kualitas struktur internal aplikasi tanpa mengubah perilaku fungsionalnya. Dengan refactoring yang tepat, sistem dapat berevolusi menjadi clean code yang scalable dan mudah dipelihara.


Apa Itu Spaghetti Code?

Spaghetti code adalah istilah untuk menggambarkan kode yang:

  • Sulit dipahami alurnya

  • Penuh dependensi tersembunyi

  • Tidak memiliki struktur yang konsisten

Ciri Umum Spaghetti Code

Struktur Tidak Jelas

Fungsi terlalu panjang, banyak conditional bersarang, dan logika bercampur dengan detail teknis.

Minim Abstraksi

Tidak ada pemisahan antara business logic, data access, dan presentation layer.

Takut Diubah

Setiap perubahan kecil berpotensi merusak bagian lain dari sistem.

baca juga : Hardening Code: Mengunci Logic Flaw yang Tak Terlihat oleh Scanner Otomatis


Refactoring: Lebih dari Sekadar Merapikan Kode

Refactoring adalah proses sistematis untuk meningkatkan desain kode yang sudah ada tanpa mengubah output-nya.

Martin Fowler mendefinisikan refactoring sebagai teknik untuk memperbaiki desain internal software sambil menjaga perilaku eksternalnya tetap sama (dikutip dari Martin Fowler).


Mengapa Refactoring Penting untuk Scalability?

1. Mempermudah Pengembangan Fitur Baru

Kode yang bersih dan modular memungkinkan penambahan fitur tanpa efek domino ke seluruh sistem.

2. Mengurangi Technical Debt

Refactoring membantu melunasi technical debt yang jika dibiarkan akan memperlambat pengembangan di masa depan.

3. Meningkatkan Keamanan dan Kualitas

Kode yang jelas lebih mudah diaudit, diuji, dan diamankan dari celah logika.


Prinsip Clean Code dalam Proses Refactoring

1. Single Responsibility Principle

Satu Fungsi, Satu Tugas

Setiap fungsi atau class seharusnya hanya memiliki satu alasan untuk berubah.


2. Penamaan yang Bermakna

Kode Harus Bisa “Dibaca”

Nama variabel, fungsi, dan class harus menjelaskan maksudnya tanpa perlu komentar berlebihan.


3. Kurangi Kompleksitas

Pecah Fungsi Panjang

Fungsi dengan ratusan baris kode sebaiknya dipecah menjadi unit kecil yang mudah diuji.


4. Pisahkan Logika dan Infrastruktur

Hindari Tight Coupling

Business logic sebaiknya tidak bergantung langsung pada framework, database, atau API eksternal.

baca juga : Hardening Code: Mengunci Logic Flaw yang Tak Terlihat oleh Scanner Otomatis


Strategi Refactoring yang Aman

Refactor Bertahap

Lakukan perubahan kecil dan terukur, bukan sekaligus.

Gunakan Automated Testing

Unit test dan integration test menjadi jaring pengaman saat refactoring dilakukan.

Refactor Saat Membaca Kode

Jika Anda merasa kesulitan memahami kode, itu tanda bahwa refactoring dibutuhkan.

baca juga : Cyber Resilience: Mengapa Bertahan Saja Tidak Cukup di Tengah Serangan Siber


Kesimpulan

Refactoring adalah investasi jangka panjang dalam pengembangan software. Dengan mengubah spaghetti code menjadi clean code yang terstruktur, aplikasi tidak hanya lebih mudah dikembangkan, tetapi juga lebih siap menghadapi skala, perubahan, dan tantangan keamanan di masa depan.

Arsitektur yang scalable bukan hasil dari satu kali desain sempurna, melainkan dari proses refactoring yang konsisten dan berkelanjutan. Kode yang bersih hari ini adalah fondasi sistem yang tangguh esok hari.