Pendahuluan

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak organisasi beralih ke cloud native untuk membangun dan menjalankan aplikasi mereka. Cloud native merujuk pada pendekatan dalam membangun dan mengelola aplikasi yang memanfaatkan cloud computing sepenuhnya, seperti menggunakan kontainer, microservices, dan orchestrators seperti Kubernetes. Keuntungan dari pendekatan cloud native termasuk skalabilitas yang lebih baik, fleksibilitas yang lebih tinggi, dan pengelolaan aplikasi yang lebih mudah.

Namun, seiring dengan adopsi cloud native, ada tantangan besar yang muncul: keamanan. Dalam dunia cloud native, dengan berbagai komponen dan layanan yang terdistribusi, ancaman terhadap aplikasi dan data dapat datang dari banyak arah yang berbeda. Inilah mengapa threat hunting menjadi sangat penting.

Threat hunting adalah proses proaktif dalam mencari potensi ancaman atau serangan yang belum terdeteksi di sistem atau jaringan. Dalam konteks cloud native, threat hunting memerlukan pendekatan yang lebih cermat dan pemahaman yang mendalam tentang infrastruktur cloud serta cara kerja layanan-layanan di dalamnya. Artikel ini akan membahas bagaimana threat hunting bekerja di lingkungan cloud native, tantangan yang dihadapi, dan cara-cara untuk melakukan threat hunting secara efektif.

Apa Itu Threat Hunting?

Threat hunting adalah pendekatan proaktif untuk mencari dan mengidentifikasi ancaman yang sudah melewati lapisan pertahanan keamanan tradisional, seperti firewall, antivirus, atau IDS/IPS (Intrusion Detection Systems/Intrusion Prevention Systems). Alih-alih hanya menunggu alarm berbunyi saat terjadi pelanggaran, para threat hunter (pemburu ancaman) secara aktif mencari tanda-tanda potensi serangan yang mungkin belum terdeteksi.

Proses ini umumnya dilakukan dengan menggunakan data log, analisis perilaku, serta alat dan teknik forensik untuk mendeteksi ancaman yang bersembunyi atau yang mencoba menyusup ke sistem.

Mengapa Threat Hunting Penting di Cloud Native?

Lingkungan cloud native sangat berbeda dari infrastruktur tradisional, karena terdiri dari berbagai komponen yang terdistribusi, seperti kontainer, layanan mikro, dan aplikasi yang berjalan di atas banyak server virtual yang dikelola oleh berbagai penyedia cloud. Semua ini menciptakan tantangan besar dalam hal keamanan, karena serangan dapat datang dari berbagai titik dan sering kali sulit untuk dideteksi.

Berikut adalah beberapa alasan mengapa threat hunting sangat penting dalam lingkungan cloud native:

1. Lingkungan yang Terdistribusi dan Dinamis
Dalam arsitektur cloud native, aplikasi sering kali terdiri dari ratusan hingga ribuan kontainer dan microservices yang tersebar di berbagai node. Karena sistem ini dinamis dan sering berubah (misalnya, kontainer dapat dibuat dan dihancurkan secara otomatis), ancaman bisa muncul dengan cara yang tidak terduga dan sering kali terlewatkan oleh sistem keamanan tradisional.

2. Kesulitan dalam Mendeteksi Serangan Berkelanjutan
Serangan yang berlangsung lama dan tidak terdeteksi—seperti advanced persistent threats (APT)—bisa sulit dikenali karena mereka tidak selalu memicu alarm atau tanda bahaya. Dengan threat hunting, penyelidikan yang lebih mendalam dilakukan untuk mencari indikasi adanya ancaman yang bersembunyi di dalam sistem.

3. Laporan dan Data yang Terdistribusi
Data yang digunakan dalam lingkungan cloud native sering tersebar di banyak layanan dan tempat, seperti log kontainer, jurnal API, traffic jaringan, dan metrik dari platform orkestrasinya. Ancaman bisa terdeteksi jika kita memiliki kemampuan untuk menganalisis dan mencari pola yang mencurigakan di seluruh data tersebut.

4. Peningkatan Keamanan Secara Proaktif
Ancaman di cloud tidak selalu dapat dicegah dengan peralatan keamanan yang ada. Dengan melakukan threat hunting secara proaktif, tim keamanan dapat mengidentifikasi dan mengatasi potensi celah sebelum ancaman tersebut berkembang menjadi masalah besar.

Tantangan dalam Threat Hunting di Cloud Native

Melakukan threat hunting di lingkungan cloud native tidaklah mudah, dan ada beberapa tantangan yang perlu dihadapi oleh tim keamanan:

1. Kompleksitas Infrastruktur Cloud Native
Infrastruktur cloud native yang terdiri dari banyak layanan yang terdistribusi (misalnya, kontainer, microservices, dan aplikasi berbasis serverless) menciptakan lingkungan yang sangat dinamis dan sering berubah. Setiap komponen dapat beroperasi secara independen, dan ini dapat membuat pemantauan keamanan lebih sulit karena sulit untuk memahami gambaran keseluruhan dari sistem.

2. Volume Data yang Sangat Besar
Dalam lingkungan cloud native, jumlah log, metrik, dan data yang harus dianalisis sangat besar. Misalnya, platform orkestra seperti Kubernetes menghasilkan banyak data tentang status kontainer dan status aplikasi, yang jika tidak dikelola dengan baik bisa membuat pencarian ancaman menjadi seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.

3. Kurangnya Visibilitas yang Mendalam
Dalam beberapa kasus, penyedia cloud mungkin tidak memberikan visibilitas penuh ke dalam infrastruktur mereka. Ini bisa membuatnya lebih sulit bagi tim keamanan untuk melacak dan menganalisis aktivitas mencurigakan. Misalnya, tidak semua penyedia cloud menawarkan kontrol penuh atas log yang dihasilkan oleh sistem mereka, atau mungkin log tersebut tidak terintegrasi dengan sistem keamanan yang ada.

4. Penyebaran yang Cepat dan Otomatisasi
Lingkungan cloud native menggunakan banyak otomatisasi untuk membangun dan menyebarkan aplikasi dengan cepat. Ini dapat mengarah pada penyebaran kontainer atau microservices yang rentan atau tidak aman, yang dapat dimanfaatkan oleh peretas. Tanpa kontrol keamanan yang tepat, ancaman bisa muncul sangat cepat.

Strategi Threat Hunting di Lingkungan Cloud Native

Meskipun tantangannya besar, ada beberapa strategi yang dapat membantu tim keamanan dalam melakukan threat hunting di lingkungan cloud native:

1. Menggunakan Alat Pemantauan yang Tepat
Untuk melakukan threat hunting dengan efektif, tim harus menggunakan alat pemantauan yang dapat menangkap dan menganalisis data dari seluruh lingkungan cloud native. Beberapa alat populer untuk ini termasuk Prometheus, ELK stack (Elasticsearch, Logstash, Kibana), dan Grafana, yang dapat mengumpulkan dan menampilkan data dari berbagai komponen cloud seperti kontainer, API, dan jaringan.

2. Integrasi dan Analisis Data yang Konsisten
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang potensi ancaman, tim harus mengintegrasikan log dari berbagai sumber (kontainer, aplikasi, platform orkestrasi, dll.) dan menganalisisnya secara holistik. Dengan cara ini, mereka dapat mencari pola atau anomali yang tidak akan terlihat jika data hanya dilihat secara terpisah.

3. Menentukan Kasus Penggunaan untuk Threat Hunting
Sebelum melakukan hunting, tim keamanan perlu menentukan kasus penggunaan spesifik atau ancaman yang mereka cari. Misalnya, mereka bisa mencari tanda-tanda akses yang tidak sah, aktivitas aneh pada API, atau perubahan konfigurasi yang tidak sah. Dengan fokus yang jelas, proses hunting menjadi lebih terarah dan efektif.

4. Menggunakan Teknik Analis Forensik
Teknik analisis forensik sangat penting dalam threat hunting untuk memeriksa dan menganalisis jejak digital yang tertinggal oleh ancaman. Dalam cloud native, ini bisa mencakup memeriksa log kontainer untuk tanda-tanda exploit atau memeriksa jaringan untuk aktivitas mencurigakan yang mungkin mengarah pada serangan.

5. Kolaborasi dan Pelatihan Tim
Ancaman dalam lingkungan cloud native sering kali datang dari banyak sumber yang berbeda. Oleh karena itu, penting untuk memiliki tim keamanan yang kolaboratif yang dapat saling berbagi wawasan dan pengalaman dalam menghadapi ancaman baru. Selain itu, tim juga harus terus mengikuti pelatihan dan perkembangan terbaru dalam hal keamanan cloud dan teknik threat hunting.

Kesimpulan

Threat hunting adalah bagian penting dari keamanan siber yang membantu organisasi mendeteksi dan mengatasi ancaman yang mungkin belum terdeteksi oleh sistem keamanan tradisional. Di lingkungan cloud native, yang sangat dinamis dan terdistribusi, tantangan dalam melakukan threat hunting jauh lebih besar, namun dengan pendekatan yang tepat, alat yang sesuai, dan keterampilan yang baik, ancaman dapat diidentifikasi lebih dini dan diatasi lebih cepat.

Memahami dan mengimplementasikan strategi threat hunting yang efektif di cloud native bukan hanya meningkatkan keamanan aplikasi, tetapi juga membantu memastikan bahwa organisasi tetap aman dari ancaman yang terus berkembang di dunia digital.