Pendahuluan

Kemasan merupakan bagian yang hampir selalu ditemukan pada produk sehari-hari. Mulai dari makanan, minuman, kosmetik, pakaian, hingga perangkat elektronik menggunakan kemasan untuk melindungi produk selama penyimpanan dan distribusi.

Walaupun bentuknya sering kecil dan hanya digunakan dalam waktu singkat, kemasan tetap memiliki jejak karbon. Emisi dapat muncul sejak pengambilan bahan baku, produksi kemasan, transportasi, hingga proses pengelolaan setelah kemasan dibuang.

Karena digunakan dalam jumlah yang sangat besar, dampak dari kemasan perlu diperhatikan. Pemilihan material, desain, berat, serta cara pengelolaannya dapat memengaruhi jejak karbon sebuah produk.

Apa Itu Jejak Karbon Kemasan?

Jejak karbon kemasan adalah jumlah emisi gas rumah kaca yang berkaitan dengan siklus hidup suatu kemasan.

Emisi tersebut dapat berasal dari produksi bahan baku, proses pembuatan kemasan, penggunaan energi, transportasi, hingga pengelolaan kemasan setelah tidak digunakan.

Jejak karbon biasanya dinyatakan dalam karbon dioksida ekuivalen (CO₂e) agar berbagai jenis gas rumah kaca dapat dihitung menggunakan satu ukuran yang sama.

Mengapa Kemasan Memiliki Jejak Karbon?

Sebuah kemasan membutuhkan bahan dan energi sebelum dapat digunakan.

Plastik, kertas, kaca, logam, dan material lainnya memiliki proses produksi yang berbeda. Bahan baku harus diperoleh, diproses, dibentuk menjadi kemasan, kemudian dikirim ke tempat produksi atau pengemasan produk.

Setelah digunakan, kemasan juga perlu dikumpulkan dan dikelola. Kemasan dapat digunakan kembali, didaur ulang, dibakar, atau dibuang ke tempat pembuangan akhir.

Seluruh tahapan tersebut dapat berkontribusi terhadap jejak karbon.

Sumber Emisi dari Kemasan Produk

1. Produksi Bahan Baku

Tahap pertama berasal dari material yang digunakan untuk membuat kemasan.

Plastik, kaca, kertas, kardus, aluminium, dan material lainnya membutuhkan bahan baku serta energi dalam proses produksinya.

Semakin banyak material yang digunakan, semakin besar jumlah sumber daya yang perlu diproses.

Namun, dampak karbon tidak hanya ditentukan oleh berat. Jenis material dan proses produksinya juga perlu diperhatikan.

2. Proses Pembuatan Kemasan

Setelah bahan baku tersedia, material harus diproses menjadi bentuk kemasan.

Proses seperti pencetakan, pemotongan, pembentukan, peleburan, dan penggunaan mesin membutuhkan energi.

Jika proses produksi menggunakan listrik atau bahan bakar yang menghasilkan emisi, aktivitas tersebut menjadi bagian dari jejak karbon kemasan.

3. Transportasi

Kemasan perlu dipindahkan dari produsen menuju fasilitas pengemasan, gudang, toko, atau lokasi lainnya.

Berat dan volume kemasan dapat memengaruhi kebutuhan transportasi.

Kemasan yang berat atau membutuhkan ruang besar dapat memengaruhi jumlah barang yang dapat diangkut dalam satu kendaraan.

Karena itu, desain kemasan juga dapat memengaruhi emisi pada tahap distribusi.

4. Penggunaan Kemasan

Sebagian besar kemasan tidak membutuhkan energi saat digunakan oleh konsumen. Namun, terdapat kemasan yang dirancang untuk digunakan berkali-kali atau membutuhkan proses tertentu sebelum dapat digunakan kembali.

Untuk kemasan yang dapat digunakan ulang, jumlah penggunaan menjadi faktor penting dalam menilai dampak per penggunaan.

Semakin lama sebuah kemasan digunakan dengan baik, dampak produksinya dapat dibagi ke lebih banyak penggunaan.

5. Pengelolaan Setelah Digunakan

Setelah produk habis, kemasan dapat menjadi sampah.

Cara pengelolaan kemasan dapat memengaruhi jejak karbonnya. Kemasan dapat masuk ke proses penggunaan kembali, daur ulang, pengolahan energi, atau pembuangan akhir.

Karena setiap material memiliki karakteristik berbeda, metode pengelolaannya juga perlu disesuaikan.

Jenis Material Kemasan

Plastik

Plastik banyak digunakan karena ringan, fleksibel, dan dapat melindungi berbagai jenis produk.

Namun, produksi plastik menggunakan sumber daya dan energi. Pengelolaannya setelah digunakan juga menjadi tantangan apabila kemasan tidak dapat digunakan kembali atau didaur ulang melalui sistem yang tersedia.

Mengurangi material yang tidak diperlukan dan merancang kemasan agar lebih mudah dikelola dapat membantu mengurangi dampaknya.

Kertas dan Kardus

Kertas dan kardus sering digunakan untuk kotak, pembungkus, dan kemasan pengiriman.

Material ini dapat didaur ulang dalam sistem yang sesuai. Namun, proses produksi tetap membutuhkan bahan baku, energi, dan air.

Karena itu, penggunaan kertas atau kardus juga perlu dilakukan secara efisien.

Kaca

Kaca dapat digunakan kembali dan didaur ulang, tetapi memiliki berat yang relatif tinggi dibandingkan beberapa material kemasan lainnya.

Berat tersebut dapat memengaruhi kebutuhan energi selama transportasi.

Karena itu, penggunaan kaca perlu dilihat berdasarkan keseluruhan siklus hidup dan sistem penggunaan kembali atau daur ulang yang tersedia.

Logam

Aluminium dan logam lainnya banyak digunakan untuk kaleng dan kemasan tertentu.

Produksi material logam baru dapat membutuhkan energi yang besar. Di sisi lain, logam dapat didaur ulang.

Penggunaan material daur ulang dapat menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam merancang kemasan.

Cara Menghitung Jejak Karbon Kemasan

Secara sederhana, penghitungan dapat menggunakan rumus:

Emisi (kg CO₂e) = Data Aktivitas × Faktor Emisi

Misalnya, sebuah perusahaan menggunakan 100 kg material kemasan.

Maka:

Emisi Material = 100 kg × Faktor Emisi Material

Perhitungan dapat dilakukan untuk setiap material dan tahapan yang termasuk dalam batas penghitungan.

Menghitung Total Emisi Kemasan

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap, perusahaan dapat menghitung beberapa sumber emisi.

Total Emisi Kemasan = Emisi Material + Produksi + Transportasi + Pengelolaan Akhir

Sebagai contoh ilustrasi:

Tahapan Emisi
Material kemasan 100 kg CO₂e
Produksi 40 kg CO₂e
Transportasi 25 kg CO₂e
Pengelolaan akhir 15 kg CO₂e
Total 180 kg CO₂e

Angka tersebut hanya contoh ilustrasi, bukan nilai emisi untuk kemasan tertentu.

Perhitungan sebenarnya membutuhkan data aktivitas dan faktor emisi yang sesuai.

Kemasan dan Product Carbon Footprint

Jejak karbon kemasan dapat menjadi bagian dari Product Carbon Footprint (PCF).

Jika perusahaan ingin menghitung total jejak karbon sebuah produk, emisi kemasan dapat digabungkan dengan emisi bahan baku, produksi, transportasi, penggunaan produk, dan akhir masa pakai.

Dengan demikian, perusahaan dapat mengetahui seberapa besar kontribusi kemasan terhadap keseluruhan jejak karbon produk.

Apakah Kemasan Ramah Lingkungan Selalu Rendah Karbon?

Label seperti ramah lingkungan, recyclable, biodegradable, atau reusable tidak otomatis berarti sebuah kemasan memiliki jejak karbon paling rendah.

Dampaknya tetap bergantung pada bahan baku, proses produksi, jumlah penggunaan, transportasi, dan cara kemasan dikelola setelah digunakan.

Misalnya, kemasan yang dapat digunakan kembali membutuhkan energi untuk diproduksi. Manfaatnya dapat meningkat jika kemasan tersebut benar-benar digunakan berkali-kali.

Karena itu, penilaian perlu melihat siklus hidup kemasan secara keseluruhan.

Mengurangi Material Kemasan

Salah satu strategi sederhana adalah mengurangi penggunaan material yang tidak diperlukan.

Kemasan dapat dirancang agar tetap memberikan perlindungan terhadap produk tetapi menggunakan material secara lebih efisien.

Namun, pengurangan kemasan juga perlu mempertimbangkan keamanan produk. Kemasan yang terlalu sedikit dapat meningkatkan risiko produk rusak atau makanan terbuang, yang juga memiliki dampak lingkungan.

Menggunakan Kemasan yang Dapat Digunakan Kembali

Sistem reusable packaging dapat menjadi pilihan untuk beberapa jenis produk.

Botol, wadah, kotak, atau kemasan pengiriman tertentu dapat dirancang untuk digunakan berkali-kali.

Namun, perusahaan perlu mempertimbangkan proses pengumpulan, pencucian, transportasi kembali, dan jumlah penggunaan aktual untuk mengetahui dampaknya secara keseluruhan.

Meningkatkan Daur Ulang

Desain kemasan dapat dibuat agar lebih mudah dipilah dan didaur ulang.

Penggunaan terlalu banyak kombinasi material dapat membuat proses daur ulang menjadi lebih sulit.

Informasi mengenai cara membuang atau memilah kemasan juga dapat membantu konsumen mengelolanya dengan benar.

Keberhasilan daur ulang tetap bergantung pada fasilitas dan sistem pengelolaan sampah yang tersedia.

Peran Konsumen

Konsumen juga memiliki peran dalam mengurangi dampak kemasan.

Memilih produk dengan kemasan sesuai kebutuhan, menggunakan kembali kemasan yang masih layak, membawa wadah sendiri jika memungkinkan, dan memilah sampah merupakan beberapa langkah sederhana.

Konsumen juga dapat menghindari membeli produk dengan kemasan berlebihan apabila tersedia alternatif yang sesuai.

Peran Carbon Tracking

Carbon tracking dapat membantu perusahaan mencatat dan memantau emisi dari kemasan produk.

Data seperti jenis material, berat kemasan, jumlah kemasan, energi produksi, transportasi, dan metode pengelolaan akhir dapat dimasukkan ke dalam sistem.

Perusahaan kemudian dapat membandingkan beberapa desain kemasan dan mengetahui perubahan jejak karbon setelah melakukan perbaikan.

Dengan demikian, keputusan mengenai kemasan dapat dibuat berdasarkan data, bukan hanya berdasarkan tampilan atau klaim lingkungan.

Peran Teknologi

Teknologi dapat membantu perusahaan mengembangkan kemasan yang lebih efisien.

Artificial Intelligence (AI) dan data analytics dapat digunakan untuk menganalisis penggunaan material dan membandingkan berbagai desain kemasan.

Internet of Things (IoT) dapat membantu memantau sistem kemasan yang digunakan kembali, sedangkan sistem digital dapat digunakan untuk mencatat data material dan proses distribusi.

Teknologi juga dapat mendukung carbon tracking agar perusahaan lebih mudah memantau emisi dari berbagai jenis kemasan.

Tantangan Menghitung Jejak Karbon Kemasan

Penghitungan jejak karbon kemasan tidak selalu sederhana.

Perusahaan membutuhkan data mengenai bahan baku, proses produksi, energi, transportasi, dan pengelolaan setelah digunakan.

Data dari pemasok mungkin tidak selalu tersedia secara lengkap. Selain itu, kondisi pengelolaan sampah dapat berbeda di setiap wilayah.

Karena itu, sumber data, faktor emisi, batas perhitungan, dan asumsi perlu dicatat secara transparan.

Dari Pengukuran Menuju Perbaikan

Setelah mengetahui sumber emisi terbesar, perusahaan dapat menentukan tindakan yang sesuai.

Jika material menjadi sumber utama, perusahaan dapat mengevaluasi jumlah dan jenis material. Jika transportasi memberikan kontribusi besar, berat dan desain kemasan dapat diperiksa.

Pendekatan sederhananya:

Ukur → Identifikasi → Kurangi → Gunakan kembali → Daur ulang → Pantau → Evaluasi

Dengan cara tersebut, pengelolaan kemasan dapat dilakukan secara lebih terarah.

Kesimpulan

Kemasan produk mungkin terlihat kecil, tetapi penggunaannya dalam jumlah besar dapat memberikan dampak terhadap jejak karbon.

Emisi dapat berasal dari produksi bahan baku, proses pembuatan kemasan, penggunaan energi, transportasi, hingga pengelolaan setelah kemasan tidak digunakan.

Menghitung jejak karbon kemasan membantu perusahaan mengetahui bagian yang memberikan kontribusi emisi terbesar.

Dengan mengurangi material yang tidak diperlukan, mempertimbangkan desain yang efisien, meningkatkan penggunaan kembali dan daur ulang, serta menggunakan carbon tracking, perusahaan dapat mengelola dampak kemasan secara lebih terukur.

Kemasan yang baik bukan hanya menarik dan mampu melindungi produk, tetapi juga dirancang dengan mempertimbangkan efisiensi sumber daya dan dampaknya sepanjang siklus hidup.