Pengantar
Di era digital seperti sekarang, hampir semua bisnis dan organisasi bergantung pada teknologi. Dari transaksi online, penyimpanan data pelanggan, hingga komunikasi internal, semuanya tersambung ke dunia digital. Seiring itu, muncul juga begitu banyak regulasi dan aturan terkait keamanan siber. Tapi pertanyaannya, dari sekian banyak aturan, mana yang benar-benar wajib diikuti?
Mengapa Regulasi Keamanan Siber Penting
Regulasi keamanan siber bukan sekadar dokumen atau formalitas. Aturan ini dibuat untuk:
-
Melindungi data pribadi dan rahasia perusahaan dari kebocoran atau pencurian.
-
Mengurangi risiko finansial dan reputasi akibat serangan siber.
-
Memastikan bisnis tetap sesuai dengan standar internasional dan ekspektasi pelanggan.
Tanpa pedoman yang jelas, perusahaan bisa salah langkah, entah karena mengabaikan aturan yang wajib atau terlalu fokus pada aturan yang kurang relevan.
Jenis-Jenis Regulasi Keamanan Siber
Regulasi bisa dibagi menjadi beberapa jenis:
-
Regulasi Nasional
Aturan yang ditetapkan pemerintah di negara tertentu, contohnya: UU ITE, PP PSTE, atau peraturan OJK untuk fintech. -
Standar Internasional
Aturan ini biasanya bersifat sukarela, tapi sangat membantu perusahaan menjaga keamanan data. Contohnya ISO 27001, NIST Cybersecurity Framework, atau GDPR untuk data warga Eropa. -
Regulasi Industri
Aturan khusus yang berlaku di sektor tertentu, seperti PCI-DSS untuk pembayaran kartu atau HIPAA untuk layanan kesehatan.
Tantangan dalam Mengikuti Regulasi
Tidak jarang perusahaan bingung karena:
-
Banyak regulasi yang tumpang tindih atau mirip satu sama lain.
-
Sumber daya terbatas, baik dari sisi anggaran maupun tenaga ahli.
-
Sulit menentukan prioritas: apakah fokus pada compliance atau keamanan nyata yang praktis?
Cara Menentukan Regulasi yang Wajib Diikuti
Agar tidak kewalahan, perusahaan bisa mengikuti beberapa langkah praktis:
-
Analisis Risiko Perusahaan
Fokus pada regulasi yang langsung mempengaruhi bisnis dan data yang paling sensitif. -
Kepatuhan Hukum
Prioritaskan aturan yang bersifat legal mandatory. Mengabaikan aturan ini bisa berakibat denda atau sanksi hukum. -
Standar Internasional dan Best Practices
Terapkan standar yang membantu meningkatkan keamanan, meski tidak diwajibkan hukum. Ini juga bisa menambah kepercayaan pelanggan. -
Evaluasi Berkala
Regulasi dan teknologi terus berubah, jadi evaluasi kebijakan secara rutin sangat penting.
Tips Praktis Mengelola Compliance
-
Buat matrix regulasi: pisahkan antara yang wajib, rekomendasi, dan optional.
-
Libatkan tim legal dan security untuk keputusan yang lebih tepat.
-
Gunakan tools otomasi untuk memantau kepatuhan dan update regulasi.
-
Edukasi tim internal agar budaya keamanan benar-benar tertanam di perusahaan.
Kesimpulan
Tidak semua regulasi harus diterapkan sekaligus. Yang penting adalah fokus pada aturan yang memiliki dampak hukum dan keamanan paling signifikan. Compliance bukan sekali jalan, tapi proses berkelanjutan yang harus terus diperbarui seiring perubahan regulasi dan teknologi.
Dengan pendekatan yang tepat, perusahaan bisa tetap aman, patuh, dan efisien, tanpa terjebak dalam “banjir aturan” yang membingungkan.









