Pengantar

Setiap kali Anda mengetik alamat website di browser, sistem di balik layar bekerja untuk menerjemahkan nama domain menjadi alamat IP. Proses ini dilakukan oleh Domain Name System (DNS). Tanpa DNS, kita harus mengingat deretan angka untuk mengakses sebuah situs.

Namun, mekanisme ini tidak sepenuhnya kebal dari serangan. Salah satu ancaman serius terhadap sistem DNS adalah DNS Cache Poisoning. Serangan ini memungkinkan penyerang “meracuni” cache DNS sehingga pengguna diarahkan ke situs palsu tanpa menyadarinya.

Karena serangan terjadi di level infrastruktur jaringan, korban sering kali tidak melihat tanda-tanda mencurigakan. Bahkan URL yang tampil di browser bisa terlihat sah.


Apa Itu DNS Cache Poisoning?

DNS Cache Poisoning, juga dikenal sebagai DNS Spoofing, adalah teknik serangan yang memanipulasi data yang tersimpan dalam cache DNS resolver. Tujuannya adalah mengarahkan permintaan pengguna ke alamat IP berbahaya alih-alih ke server yang sebenarnya.

Menurut Cloudflare, DNS cache poisoning terjadi ketika penyerang menyisipkan informasi DNS palsu ke dalam cache resolver sehingga permintaan domain diarahkan ke lokasi yang salah (dikutip dari cloudflare).

baca juga : Subdomain Takeover: Ancaman Tersembunyi di Balik Subdomain yang Terlupakan


Bagaimana Cara Kerja DNS Cache Poisoning?

1. Permintaan DNS Dikirim ke Resolver

Saat pengguna mengakses sebuah website, perangkat akan mengirim permintaan ke DNS resolver untuk mencari alamat IP yang sesuai.

2. Penyerang Mengirim Respons Palsu

Penyerang mencoba mengirim respons DNS palsu sebelum respons asli dari server resmi diterima.

3. Cache DNS Tercemar

Jika resolver menerima dan menyimpan respons palsu tersebut, maka data DNS di dalam cache menjadi tidak valid.

4. Pengguna Dialihkan ke Server Berbahaya

Setiap pengguna yang mengakses domain tersebut akan diarahkan ke alamat IP yang sudah dimanipulasi.


Dampak DNS Cache Poisoning

Pengalihan ke Situs Phishing

Korban dapat diarahkan ke halaman login palsu yang menyerupai situs asli.

Penyebaran Malware

Server palsu dapat menyisipkan malware ke perangkat korban.

Pencurian Data Sensitif

Informasi seperti username, password, dan data kartu kredit dapat dicuri tanpa disadari.

Gangguan Layanan

Serangan skala besar dapat mengganggu akses ke website resmi secara luas.

baca juga : Directory Traversal: Celah Berbahaya yang Membuka Akses ke File Server


Faktor yang Memungkinkan Serangan

Kurangnya Validasi Respons DNS

Resolver yang tidak memverifikasi keaslian respons DNS lebih rentan terhadap manipulasi.

Penggunaan Protokol Lama

Implementasi DNS lama tanpa mekanisme keamanan tambahan meningkatkan risiko eksploitasi.

Tidak Mengaktifkan DNSSEC

DNS Security Extensions (DNSSEC) dirancang untuk memverifikasi integritas respons DNS. Tanpa DNSSEC, validasi menjadi lebih lemah.


Cara Mencegah DNS Cache Poisoning

Mengaktifkan DNSSEC

DNSSEC membantu memastikan bahwa respons DNS berasal dari sumber yang sah dan belum dimodifikasi.

Randomisasi Port dan ID Transaksi

Teknik ini mempersulit penyerang dalam menebak parameter respons DNS yang valid.

Gunakan Resolver Tepercaya

Menggunakan penyedia DNS terpercaya yang memiliki sistem keamanan kuat dapat mengurangi risiko.

Monitoring dan Audit Berkala

Organisasi perlu memantau anomali lalu lintas DNS untuk mendeteksi indikasi serangan lebih dini.


Mengapa Serangan Ini Berbahaya?

DNS Cache Poisoning tidak menyerang satu pengguna saja. Jika cache pada resolver besar berhasil diracuni, dampaknya bisa meluas ke ribuan bahkan jutaan pengguna.

Karena proses DNS bekerja secara otomatis dan tidak terlihat oleh pengguna, serangan ini sering kali berlangsung tanpa disadari hingga kerugian terjadi.

baca juga : Business Email Compromise (BEC): Modus Penipuan Email yang Menguras Keuangan Perusahaan


Kesimpulan

DNS Cache Poisoning adalah serangan yang menargetkan sistem DNS dengan menyisipkan data palsu ke dalam cache resolver. Akibatnya, pengguna dapat diarahkan ke situs berbahaya meskipun mengetik alamat yang benar.

Ancaman ini menunjukkan bahwa keamanan internet tidak hanya bergantung pada aplikasi dan website, tetapi juga pada infrastruktur jaringan. Dengan mengaktifkan DNSSEC, menggunakan resolver tepercaya, dan melakukan monitoring berkala, risiko serangan dapat diminimalkan secara signifikan.