Pengantar
File gambar seperti JPG atau PNG sering dianggap aman karena hanya berisi elemen visual. Banyak pengguna mengunduh dan membagikan gambar tanpa rasa curiga, baik melalui email, media sosial, maupun aplikasi pesan instan. Namun, di balik tampilannya yang tidak berbahaya, file gambar dapat menjadi media penyebaran malware.
Teknik ini dikenal sebagai Image-Based Malware, yaitu metode penyisipan kode berbahaya di dalam file gambar. Pendekatan ini memanfaatkan kelemahan sistem, aplikasi, atau bahkan teknik penyamaran tingkat lanjut seperti steganografi untuk menghindari deteksi keamanan.
Karena file gambar hampir selalu diizinkan melewati filter keamanan, metode ini menjadi salah satu taktik yang efektif bagi pelaku serangan siber.
Apa Itu Image-Based Malware?
Image-Based Malware adalah teknik penyembunyian atau distribusi malware melalui file gambar. Malware dapat disisipkan langsung dalam struktur file, ditanam melalui metadata, atau disembunyikan menggunakan teknik steganografi.
Menurut Microsoft Security, penyerang dapat menyembunyikan skrip atau payload berbahaya dalam file media untuk menghindari deteksi antivirus tradisional (dikutip dari Microsoft Security).
baca juga : HTTP Parameter Pollution: Celah Tersembunyi dari Duplikasi Parameter yang Bisa Membobol Validasi Sistem
Bagaimana Cara Kerja Image-Based Malware?
1. Penyisipan Kode Berbahaya
Penyerang menyisipkan payload malware ke dalam file gambar. Metodenya bisa melalui:
-
Modifikasi struktur file
-
Penambahan kode dalam metadata
-
Penyembunyian data dalam piksel gambar
2. Distribusi ke Korban
File gambar kemudian disebarkan melalui:
-
Email phishing
-
Situs web berbahaya
-
Forum atau media sosial
-
Iklan online (malvertising)
3. Eksekusi Payload
Eksploitasi Kerentanan Aplikasi
Jika aplikasi pemroses gambar memiliki celah keamanan, malware dapat dieksekusi saat file dibuka.
Unduhan Payload Tambahan
Dalam beberapa kasus, gambar hanya berfungsi sebagai “pembawa” yang memicu unduhan malware utama dari server penyerang.
Mengapa Serangan Ini Sulit Dideteksi?
File Terlihat Normal
Secara visual, file tetap tampak seperti gambar biasa.
Lolos Filter Keamanan
Banyak sistem keamanan lebih fokus pada file executable dibanding file media.
Menggunakan Teknik Steganografi
Steganografi memungkinkan data disembunyikan dalam piksel gambar tanpa perubahan yang terlihat oleh mata manusia.
baca juga : DNS Cache Poisoning: Taktik Menyesatkan Browser Anda Agar Mengunjungi Situs Palsu Tanpa Anda Sadari
Dampak Image-Based Malware
Infeksi Sistem Tanpa Disadari
Korban dapat terinfeksi hanya dengan membuka file gambar.
Pencurian Data
Malware dapat mencuri informasi login, data finansial, atau dokumen penting.
Akses Jarak Jauh
Beberapa payload memungkinkan penyerang mendapatkan kontrol jarak jauh atas perangkat korban.
Penyebaran Lateral
Dalam jaringan perusahaan, infeksi dapat menyebar ke perangkat lain.
Cara Mencegah Image-Based Malware
Perbarui Sistem dan Aplikasi
Pastikan software pemroses gambar dan sistem operasi selalu diperbarui untuk menutup celah keamanan.
Gunakan Antivirus Modern
Solusi keamanan berbasis perilaku (behavior-based detection) lebih efektif dibanding hanya mengandalkan signature.
Batasi Eksekusi Otomatis
Nonaktifkan fitur auto-execution atau preview otomatis pada file yang tidak dikenal.
Edukasi Pengguna
Pengguna harus waspada terhadap file gambar dari sumber tidak tepercaya, terutama melalui email atau pesan mencurigakan.
Mengapa Organisasi Perlu Waspada?
Dalam lingkungan bisnis, file gambar sering digunakan untuk keperluan pemasaran, desain, atau dokumentasi. Tanpa kebijakan keamanan yang tepat, file media dapat menjadi celah masuk bagi serangan siber.
Karena sifatnya yang tersembunyi, Image-Based Malware sering digunakan dalam serangan tingkat lanjut (advanced persistent threats) untuk menghindari deteksi awal.
baca juga : Subdomain Takeover: Ancaman Tersembunyi di Balik Subdomain yang Terlupakan
Kesimpulan
Image-Based Malware membuktikan bahwa ancaman siber tidak selalu datang dalam bentuk file executable. File gambar yang terlihat aman pun dapat menjadi media penyebaran malware melalui teknik penyisipan kode dan steganografi.
Dengan memperbarui sistem, menggunakan solusi keamanan modern, serta meningkatkan kesadaran pengguna, risiko serangan berbasis gambar dapat diminimalkan. Di era digital saat ini, kewaspadaan terhadap file media sama pentingnya dengan kewaspadaan terhadap file program.








