Ketahanan negara di abad ke-21 telah mengalami pergeseran paradigma. Kita harus sadar bahwa keamanan nasional bukan lagi sekadar soal deretan tank di perbatasan atau jet tempur yang patroli di angkasa. Di era di mana segalanya terhubung secara daring, garis pertahanan terdepan kita justru ada pada infrastruktur digital. Kedaulatan sejati berarti berdaulat atas teknologi dan data kita sendiri.
Masalahnya, selama ini kita terlalu nyaman menjadi konsumen di atas tanah orang lain. Jika semua sistem vital—mulai dari perbankan, komunikasi pemerintahan, hingga manajemen energi—masih “numpang” pada platform asing, kita sebenarnya sedang membangun rumah di atas tanah sewaan. Bayangkan skenario terburuknya: apa yang terjadi jika karena dinamika geopolitik, sang pemilik platform memutuskan untuk “mematikan saklarnya”? Tanpa kendali atas teknologi inti, kita bisa lumpuh dalam hitungan detik tanpa satu peluru pun ditembakkan.
Oleh karena itu, mendukung teknologi lokal bukan lagi sekadar soal sentimentil atau kampanye “Cinta Tanah Air” semata. Ini adalah langkah strategis demi keamanan jangka panjang. Produk teknologi dalam negeri, sekecil apa pun skalanya saat ini, adalah aset strategis yang meminimalkan risiko ketergantungan dan intervensi pihak luar. Dengan menggunakan karya anak bangsa, kita sedang memastikan bahwa “kunci” rumah kita tetap berada di tangan kita sendiri.
Saatnya kita berhenti memandang sebelah mata inovasi lokal hanya karena alasan “belum sempurna”. Teknologi tidak akan pernah matang jika tidak diberi ruang untuk tumbuh dan diuji di rumahnya sendiri. Mari mulai memprioritaskan solusi lokal untuk kedaulatan yang nyata, agar di masa depan, Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tapi juga menjadi benteng digital yang mandiri dan disegani.









