Pengantar

Banyak organisasi memiliki puluhan bahkan ratusan subdomain untuk berbagai kebutuhan, seperti blog, landing page kampanye, dokumentasi, hingga layanan pihak ketiga. Namun, tidak semua subdomain tersebut dikelola secara aktif. Di sinilah muncul risiko keamanan yang dikenal sebagai Subdomain Takeover.

Subdomain Takeover adalah kerentanan yang terjadi ketika subdomain organisasi masih mengarah ke layanan eksternal yang sudah tidak digunakan atau kedaluwarsa. Celah ini dapat dimanfaatkan oleh penyerang untuk mengambil alih subdomain tersebut dan menggunakannya untuk aktivitas berbahaya.

Karena subdomain tetap berada di bawah domain resmi perusahaan, korban cenderung mempercayainya. Inilah yang membuat serangan ini sangat berbahaya.


Apa Itu Subdomain Takeover?

Subdomain Takeover terjadi ketika DNS record (biasanya CNAME) masih menunjuk ke layanan pihak ketiga yang sudah tidak lagi diklaim atau aktif. Jika layanan tersebut tersedia untuk didaftarkan ulang, penyerang dapat mengambil alihnya dan mengontrol konten subdomain tersebut. Subdomain takeover biasanya terjadi akibat kesalahan konfigurasi DNS dan kurangnya pemeliharaan aset digital (dikutip dari Mozilla.org).

baca juga : Directory Traversal: Celah Berbahaya yang Membuka Akses ke File Server


Bagaimana Cara Kerja Subdomain Takeover?

1. Subdomain Mengarah ke Layanan Eksternal

Contoh:

blog.perusahaan.com → CNAME → layanan-pihak-ketiga.com

2. Layanan Dihentikan atau Tidak Diklaim

Organisasi berhenti menggunakan layanan tersebut, tetapi DNS record tidak dihapus.

3. Penyerang Mengklaim Layanan

Jika layanan tersebut memungkinkan pendaftaran ulang, penyerang dapat membuat akun baru dan mengklaim subdomain tersebut.

4. Subdomain Berhasil Diambil Alih

Penyerang kini dapat:

  • Mengunggah halaman phishing

  • Menyebarkan malware

  • Mengumpulkan data pengguna

Karena masih menggunakan domain resmi perusahaan, subdomain tersebut terlihat sah.


Dampak Subdomain Takeover

Serangan Phishing yang Meyakinkan

Korban lebih mudah tertipu karena URL terlihat resmi.

Kerusakan Reputasi

Penyalahgunaan subdomain dapat merusak citra perusahaan.

Risiko Keamanan Lanjutan

Subdomain yang diambil alih dapat digunakan untuk mencuri cookie, melakukan session hijacking, atau menyebarkan malware.

baca juga : Business Email Compromise (BEC): Modus Penipuan Email yang Menguras Keuangan Perusahaan


Penyebab Umum Subdomain Takeover

DNS Record Tidak Dihapus

Organisasi sering lupa membersihkan konfigurasi DNS setelah proyek selesai.

Penggunaan Layanan Cloud

Platform seperti hosting statis atau SaaS memungkinkan klaim ulang domain jika tidak dikonfigurasi dengan benar.

Kurangnya Asset Management

Tidak adanya inventarisasi subdomain yang aktif dan tidak aktif.


Cara Mencegah Subdomain Takeover

Audit DNS Secara Berkala

Periksa seluruh DNS record, terutama CNAME yang menunjuk ke layanan eksternal.

Hapus Record yang Tidak Digunakan

Jika layanan dihentikan, segera hapus atau ubah konfigurasi DNS.

Gunakan Monitoring Otomatis

Beberapa tools keamanan dapat mendeteksi potensi subdomain takeover secara otomatis.

Inventarisasi Aset Digital

Kelola daftar subdomain aktif dan pastikan semuanya memiliki pemilik serta fungsi yang jelas.


Mengapa Ancaman Ini Sering Terlewat?

Subdomain Takeover sering terjadi bukan karena kerentanan teknis kompleks, tetapi karena kelalaian administratif. Banyak organisasi fokus pada keamanan aplikasi utama, tetapi mengabaikan subdomain lama yang sudah jarang digunakan.

Dalam lingkungan cloud modern yang dinamis, perubahan konfigurasi dapat terjadi dengan cepat. Tanpa pengelolaan yang disiplin, risiko ini akan terus muncul.

baca juga : Timing Attack: Mengungkap Rahasia Sistem Hanya dari Selisih Waktu Eksekusi


Kesimpulan

Subdomain Takeover adalah ancaman keamanan yang muncul akibat konfigurasi DNS yang tidak terkelola dengan baik. Dengan memanfaatkan subdomain yang terlupakan, penyerang dapat menjalankan phishing, menyebarkan malware, atau merusak reputasi organisasi.

Untuk mencegahnya, perusahaan perlu melakukan audit DNS rutin, menghapus record yang tidak digunakan, serta menerapkan manajemen aset digital yang disiplin. Dalam dunia keamanan siber, celah kecil seperti subdomain yang terlupakan dapat menjadi pintu masuk serangan besar.